Jika melihat aksi dari Bert Trautmann tentu kita layak menyebut bahwa ia adalah kiper dengan kegigihan yang sangat tinggi. Bagaimana tidak, meski patah leher ia terus bermain hingga pertandingan usai.

19 Juli 2013 lalu, Manchester City kehilangan salah satu pemainnya terhebat mereka. Ia adalah kiper legendaris The Citizens, Bert Trautmann.

Trautmann wafat di usia 89 tahun. Selama hidup, ia dikenal sebagai kiper yang sangat gigih dan tangguh di bawah mistar gawang. Ia tercatat membela City sejak era berakhirnya Perang Dunia II, 1949 hingga 1964.

Total Trautmann telah membela City sebanyak 508 pertandingan. Menariknya, meski berkarier di Inggris di era Perang Dunia II, Trautmann ternyata kelahiran Bremen, Jerman. Tidak hanya itu, ia juga dikenal sebagai tentara Jerman.

Trautmann tercatat sebagai pasukan penerjun payung Nazi Jerman, Luftwaffe dan berperang di Front Timur. Selama bertaruh nyawa di desing peluru dan bom, Trautmann meraih sejumlah bintang jasa. Trautmann juga tercatat sebagai anggota tim penjinak bom pasukan Nazi.

Sebagai eks pasukan tempur Nazi, Trautmann memiliki kekuataan fisik di atas rata-rata saat ia turun sebagai kiper profesional. Salah satu kisah mengenai kekuataan Trautmann ialah saat ia terus bertanding meski alami cedera patah leher.

Dari tahanan perang menjadi kiper

Awal Trautmann jadi seorang kiper profesional bermula saat ia dan sejumlah rekannya dari Luftwaffe ditawan oleh pasukan Inggris. Ia pun dipindahkan ke kamp tawanan perang di Asthon, Lancashire.

Pada 1948, ia dibebaskan dari kamp tawanan. Ia pun memutuskan untuk menetap di Lancashire dan coba bergabung ke klub sepakbola lokal setempat bernama St Helens Town.

Bermain sebagai kiper, penampilan Trautmaan bersama Helens Town mengundang perhatian sejumlah pemerhati bakat dari klub sepakbola liga Inggris. Pada Oktober 1949 datang tawaran kontrak dari Manchester City.

Trautmann tentu tak mau menyia-nyiakan tawaran dari klub yang saat itu bertanding di Divisi Satu Liga Inggris (cikal bakal Liga Inggris), ia pun bergabung bersama Johnny Williamson, Willie Walsh, dan pemain lain di bawah asuhan pelatih asal Skotlandia, Les McDowall.

Sayang diawal kariernya bersama Manchester City, Trautmaan tampil tidak bagus, pun dengan pemain City lain. Akibatnya di akhir musim, City terjerembab di peringkat 21 dari 22 klub yang bertanding.

Dari 42 laga, Manchester City hanya mampu meraih 8 kali kemenangan, 13 kali hasil imbang, dan menelan 21 kali kekalahan. Gawang City pun kebobolan sebanyak 68 kali selama 42 laga tersebut.

Korban rasis fans Inggris

Entah apa yang terlintas dipikiran Trautmann saat memutuskan untuk menetap di Inggris, padahal pada 1948 ia dibebaskan sebagai tahanan perang.

Ia justru memilih untuk terus berkarier di Inggris sebagai seorang kiper profesional. Latar belakangnya sebagai pasukan Nazi sudah barang tentu akan menjadi incaran oleh mayoritas orang Inggris yang kala itu memang memerangi Nazi dan Adolf Hitler.

Betul saja, selama berkarier di Inggris, teriakan hinaan dan ejekan rasis acapkali diterima oleh Trautmann. Seperti dilansir dari independent.co.uk, intimidasi yang cukup parah bakal ia terima jika bermain melawan klub asal London.

Teriakkan rasis dan hinaan seperti ‘Heil Hitler’ akan selalu berkumandang di stadion. Apa yang dilakukan Trautmann mendapat ejekan seperti itu?

Trautmann sama sekali tidak terpancing dengan hal tersebut. Ada kisah menarik saat ia membela Manchester City dan bertemu dengan Fulham. Saat itu seluruh Stadion Craven Cottage, bergemuruh ‘Heil Hitler’ saat Trautmann masuk ke lapangan dan menyentuh bola.

Trautmann seolah tidak mendengar ejekan seluruh stadion dan tetpa berkonsentrasi untuk bermain. Sikapnya yang profesional dan mengacuhkan semua hinaan tersebut berbuah manis.

Usai laga, ejekan tersebut berbuah dengan tepuk tangan seluruh penonton dan pemain Fulham atas sikap dewasa dari Trautmann.

Patah leher dan terus bertanding

Tidak hanya dari fans klub kota London yang menghinanya, di awal saat ia datang ke City pun penolakan sudah ia terima. Namun semua itu hilang seiring dengan penampilannya yang memukau.

Puncaknya rasa hormat dan kagum dari fans kepada Trautmann membuahkan kenangan yang sulit terhapus. Kala itu, Manchester City bertemu dengan Brimigham City di final Piala FA di Stadion Wembley 1956.

Pertandingan berjalan sengit, jual beli serangan antar kedua tim tercipta. Petaka datang untuk Trautmann pada menit-menit akhir pertandingan.

Pemain Birmingham City, Peter Murphy mendapat kesempatan emas untuk bisa bobol gawang City. Ia tinggal berhadap-hadapan dengan Trautmann.

Segala cara dilakukan Trautmann untuk mengamankan gawangnya dari kebobolan. Ia menjatuhkan diri untuk bisa menghadang tendangan dari Murphy. Akibatnya sungguh tragis.

Leher dari Trautmann terkena tendangan dari Murphy. Gawang City selamat dari kebobolan sayang leher Trautmann alami cedera parah.

Meski sudah alami patah leher, Trautmann tetap berdiri kokoh di bawah mistar gawang. Ketangguhannya membuahkan hasil manis, City sukses menang 3-1 dan meraih gelar juara.

Usai pertandingan, ketika pengalungan medali, Trautmannt baru menyadari lehernya kesakitan. Ia dilarikan ke rumah sakit, setelah dpindai diketahui bahwa lima bagian otot leher Trautmann patah. Sejak itulah ia dianggap sebagai pesepakbola paling brutal dalam sejarah karena mampu bermain dengan leher patah.

Advertisements