Memberi label pada seorang pesepakbola muda sebagai titisan seorang legenda sepakbola harus hati-hati benar, pasalnya banyak kasus malah membuat si pemain muda ini tak pernah berkembang kariernya di lapangan hijau. Pesepakbola muda Inggris malah hampir alami nasib tragis saat dicap sebagai The Next Maradona.

24 Maret 1996 di stadion Wembley. 77ribu penonton memadati Stadion Wembley saat itu. Suasana Wembley makin riuh saat chant berjudul ‘Marching On Together’ milik Leeds United membahana. Chant tersebut dibalas dengan chat lain yang jadi kebanggaan fans Aston Villa, ‘And It’s Aston Villa’.

Kedua tim saat itu memang akan bersiap tampil di final Piala Liga Inggris musim 1996/97. Suasana makin gegap gempita kala panitia lewat pengeras suara memberikan pengumuman.

“Sebelum laga dimulai, kita akan menyaksikan talenta berbakat sepakbola Inggris, anak kecil ini disebut-sebut sebagai The Next Maradona,” begitu kira-kira pengumuman dari panitia saat itu.

Bocah berumur 14 tahun, berambut keriting pirang itu pun keluar dari lorong pemain. Menggunakan kaos putih bersponsor minuman berkarbonasi, bocah itu lalu mulai tunjukan skillnya di depan ribuan orang tersebut.

Sejumlah teknik juggling, ia peragakan. Penonton bersorak dan bertepuk tangan mengagumi skill bocah tersebut. Keesokan harinya, disela-sela berita kemenangan Aston Villa atas Leeds United di laga final tersebut, terselip berita, “The Next Maradona Lahir di Inggris”

Hidup bocah berambut keriting pirang ini pun berubah drastis. Banyak agen sepakbola dan iklan mendatangi dirinya. Undangan wawancara dari sejumlah media menghampirinya.

Roda nasib seseorang tak ada yang pernah tahu. Ekspektasi yang besar, serta label sebagai titisan legenda sepakbola membuat jalan hidup bocah ini tak pernah seterang benderang Diego Maradona. Ia terpuruk dan bahkan nyaris bunuh diri.

Titisan yang tak pernah merentas

Pada pertengahan 1990-an, sejumlah media menaikan tajuk olahraga seputar, Sonny Pike. Bocah asal Inggris yang memiliki kemampuan dan skill sepakbola seperti legenda hidup Argentina, Diego Maradona.

Pike ingat betul, usai menunjukan skillnya sebelum final Piala Liga Inggris 1996, banyak tawaran bombastis menghampiri dirinya.

“Saya diundang ke Istana Buckingham. Saya sempat bermain untuk Tottenham Hotspur di laga persahabatan. Saya main di winger kiri saat itu. Saat itu, saya berpikir jalan untuk jadi pesepakbola dunia akan terbuka lebar,” kata Pike seperti dilansir theguardian.com

Pike menyebut, kala itu banyak agen sepakbola, penawaran dari sponsporship serta tawaran uji coba klub Liga Primer Inggris datang ke rumahnya. Atas bujuk rayu dari Eric Hall dan Sky Andrew (agen sepakbola) Pike saat itu justru memutuskan untuk mengambil tawaran dari akademi sepakbola di luar Inggris, Ajax Amsterdam.

Bergabung di Ajax pada usia yang relatif yang sangat muda, membuat mental Pike tidak bagus. Angan-angan untuk bisa hidup bergemilang harta saat jadi bintang sepakbola membuat kondisi psikologis Pike naik turun. Pike akhirnya meninggalkan Ajax tanpa satu kali pun pernah ditawari untuk bermain di klub besar Eropa.

Terbuang dari Ajax, Pike sempat gabung dan membina ilmu di Leyton Orient F.C. Klub yang kini bermain di divisi tiga liga Inggris tak sampai setahun dihuni oleh Pike.

Ia lantas menetap di Inggris dan bermain untuk klub-klub non liga seperti, Stevenage Borough, Barnet, Enfield, Waltham Forest dan Dryburgh Saints.

Nafsu sang ayah dan Keinginan Bunuh Diri

Saat diwawancarai oleh radio lokal setempat, Pike pernah mengatakan bahwa kehancurannya sebagai pesepakbola bermula dari nafsu sang ayah.

“Ia (sang ayah) seperti terus mencari perhatian publik. Ia terbawa arus sisi publisitas, sementara saya terus menjadi sosok pemimpi. Itu sangat bahaya bagi pesepakbola muda,” kata Pike.

Ditambahkan Pike, saat itu ayahnya acapkali menerima tawaran wawancara dari banyak media disaat itu masih harus berlatih sepakbola.

“Siapa yang akan menampik tawaran menggiurkan untuk sang anak dari McDonald, Coca Cola, serta pakaian dan peralatan sepakbola gratis dari para sponsor,” kenang Pike.

Saat itu kata Pike, dirinya lebih banyak menghabiskan waktu untuk jadi bintang iklan.

“Saya hanya menjalani sesi pemotretan dari satu studio ke studio lain tiap harinya, sementara anak lain berlatih di lapangan. Itu jadi kehidupan yang sangat kejam,” kata Pike.

Kehidupan Pike malah tambah berantakan saat orang tuanya memutuskan untuk bercerai. Kehidupan perekonomian yang melonjak tinggi tak diimbangi mental kuat membuat keluarga Pike berantakan.

Lantas apa yang dialami Pike? Ia menyebut bahwa ada dorongan kuat untuk mengakhiri hidup,

“Pada usia 17 tahun, saya sempat mencoba untuk bunuh diri sebanyak dua kali. Aku tidak bisa menerima kenyataan pahit ini,” kata Pike.

Melupakan Sepakbola

Lantas apa yang kini dijalani Pike tiap harinya? Seperti dilansir theguardian.com, Pike kini telah menikah dan sudah menjadi ayah untuk dua orang putri cantik. Saat ditanya apakah ia masih memiliki obsesi di sepakbola?

“Saya tidak tahu banyak tentang sepakbola saat ini. Obsesi itu hanya ada saat saya masih muda, coba meniru pemain bintang, bermimpi untuk jadi mereka,” kata Pike.

Saat ini kata Pike, ia merasa lebih senang dan bahagia. Hidup sederhana dengan istri dan dua orang anaknya bagi Pike saat itu sudah lebih dari cukup.

Pike juga menyebut bahwa kesalahannya saat masih muda agar tak diikuti oleh banyak pesepakbola muda saat ini,

“Kesedihan terbesar saya ialah terbuang dari lapangan hijau. Bakat saya terkalahkan oleh publisitas yang tak terkontrol. Ini memang konsekuensi pahit dari sepakbola,” kata Pike.

Pike terakhir memberi pesan kepada orang tua di seluruh dunia soal bakat anak mereka,

“Karena pengalaman kemudian membuat saya sadar bahwa seorang anak ialah harta terbaik yang tidak perlu untuk kita bentuk sesuai ambisi pribadi. Hal-hal negatif akan selalu jadi pelajaran bagus untuk masa depan,” kata Pike.

Advertisements