file%2fpictures%2f105879%2fconvert%2fgraffity_625x352-1
Bagi banyak kalangan di Eropa dan kawasan Amerika Selatan banyak media yang bisa mereka gunakan untuk tunjukan rasa cintanya pada klub yang mereka ‘puja’, salah satu dengan memahat karya tulis di tembok-tembok kosong. Hal serupa juga banyak ditemukan di Indonesia. 

Seni grafiti memiliki pengertian sebagai  coretan-coretan pada dinding yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk, dan volume untuk menuliskan kata, simbol, atau kalimat tertentu.

Ditelusuri sejarahnya, seni ini sudah ada sejak zaman purba dulu, buktinya bisa kita lihat dari banyak penemuan seni pahat tembok tersebut di gua-gua kuno, seperti di Mesir ataupun di Yunani. Seiring dengan perkembangan masyarakat, seni ini pun masih memiliki tempat tersendiri bagi sebagaian kalangan.

Seni ini dijadikan media untuk menyampaikan kegelisahan mereka akan fenomen sosial yang ada di sekeliling mereka. Juga sebagai media penyalur hobi mereka membuat karya yang menarik mata untuk memandang.

Di sepakbola, seni grafiti pun memiliki tempat tersendiri. Di jalan-jalan kota Jakarta misalnya, sangat banyak kita temui coretan pendukung Persija, The Jakmania mendukung tim idamannya tersebut. Hal serupa ternyata juga ditemui di negara-negara yang memiliki akar sepakbola yang kuat seperti di Eropa ataupun kawasan Amerika Selatan.

Sejauh mana keterlekatan seni grafiti dan fanatisme fans sepakbola?

Dilarang di Inggris

Menariknya meski memiliki akar sepakbola yang kuat, Inggris ternyata memiliki aturan hukum yang ketat untuk seni grafiti utamanya yang dilakukan para fans sepakbola. Tak mengherankan jika di stadion klub-klub besar liga Inggris tidak ditemukan seni grafiti.

Man United boleh menyebut bahwa klub mereka ialah klub yang didirikan oleh para buruh kereta api, sebagai kelas pekerja yang identik dengan semangat perlawanan salah satunya dengn seni grafiti, namun saat ini seni itu sudah tak memiliki tempat di Old Trafford.

Pada 2003 silam, parlemen Inggris mengesahkan undang-undang bernama Anti-Social Behaviour Act, undang-undang ini yang mengatur pelarangan seni grafiti di ruang-ruang publik, seperti stadion. Hukuman bagi para pelaku graffiti di Inggris ialah dengan memberikan denda.

Belanda Lebih Lunak

Lain Inggris, lain juga Belanda. Mengerti bahwa grafiti ialah bagian dari ekspresi para fans, pemerintah Belanda bekerjasama dengan klub liga Belanda memberikan ruang untuk para fans melakukan seni grafiti.

Seperti Ajax Amsterdam misalnya, klub ini memberikan tembok khusus yang disediakn tak jauh dari Amsterdam Arena untuk para fans memahat seni grafiti. Namun syaratnya, seni itu akan dihapus oleh pemerintah kota jika Amsterdam menjadi tempat bermain timnas Belanda di laga-laga internasional.

Italia dan Yunani Miliki Kebebasan

Sedangkan untuk dua negara lainnya di Eropa, Italia dan Yunani, pemerintah mereka lebih melegalkan akfifitas ini. Tidak mengherankan jika kemudian banyak seni grafiti yang muncul di stadion-stadion sepakbola dua negara tersebut.

Di kota Napoli, Italia bahkan ada seni grafiti yang bertahan lama, grafiti itu bergambar sosok legenda Yunani, Diego Maradona. Hal sama juga terjadi di Yunani, usai negosiasi yang alot antara pemerintah dengan stackholder terkait, maka ada ‘jembatan’ untuk para fans peminat seni grafiti untuk salurkan ide-ide mereka mendukung klub kesayangannya.

Lantas bagaimana di Indonesia?

Advertisements