Mencari bibit sepakbola nasional tidak melulu hanya dari kota-kota besar, nun jauh di sana di dekat perbatasan negara lain, sejumlah talenta berbakat lapangan hijau berusaha mengejar prestasi meski harus bertahan dari himpitan keterbatasan.

Miliki luas negara 1,904,569 km2, negara ini dianugerahi banyak hal hebat. Mulai dari sumber daya alam (SDA) hingga sumber daya manusia (SDM) dari pelbagai bidang.

Tak terkecuali di bidang olahraga, utamanya sepakbola. Sejumlah pihak yang memiliki fokus peningkatan sepakbola nasional, sadar betul bahwa di pelosok-pelosok negeri ini banyak talenta hebat di lapangan hijau.

Indra Sjafri misalnya, saat menjabat sebagai pelatih Timnas U-19 pada 2013 silam, menjalani blusukan untuk menemukan bakat hebat negeri ini di lapangan hijau. Usahanya berbuah hasil, Timnas U-19 mampu menjuarai Piala AFF U-19, gelar internasional pertama negeri ini sejak 22 tahun terakhir.

Publik pun mulai sadar bahwa bakat sepakbola Indonesia tidak hanya berasal dari kota-kota besar, sejumlah pemain yang dicomot Indra berasal dari kota ‘antah berantah’, sebut saja Yabes Roni Malaifani.

Yabes ialah putra Alor, salah satu dari dua pulau terluar di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pulau Alor adalah satu dari 92 pulau terluar Indonesia karena berbatasan langsung dengan Timor Leste di sebelah selatan.

Faktanya, jauh dari hingar bingar kota besar yang selalu riuh dengan sorotan media, geliat sepakbola di daerah-daerah perbatasan masih mampu lahirkan bakat sepakbola.

Mereka yang ada di perbatasan negara, masih terus menendang bola di lapangan yang sudah tak lagi terlihat rumputnya bercampur dengan bebatuan. Aktifitas yang dilakukan demi sebuah prestasi dan ingin membela panji Merah Putih.

Bertahan di tengah konflik laut China Selatan

PSP Natuna, merupakan salah satu klub sepakbola yang ada di daerah perbatasan tepatnya di daerah Ranai, Kabupaten Natuna.

Daerah yang kini tengah jadi sorotan karena adanya konflik laut China Selatan. Meski tengah dibayang-bayang konflik tersebut, PSP Natuna masih eksis dan berusaha untuk melahirkan bakat sepakbola terbaik.

Pada perhelatan Liga Nusantara 2015 lalu misalnya, PSP Natuna mulai menyeleksi pemain. Setidaknya dalam pemanggilan awal ini ada 30 nama yang hadir berasal dari berbagai klub-klub amatir di Ranai.

Pengurus PSPN yang sudah diakui secara legal formal oleh PSSI menyurati sudah menyurati klub hingga pemain langsung sebagai pemberitahuan.

Laporan dari Tribun Batam menyebut bahwa sejumlah pemain yang diseleksi PSP Natuna berasal dari Bunguran Timur dan Bunguran Timur Laut.

Tim PSPN sendiri punya logo dengan lingkaran elips dengan dasar kuning didalamnya ada gambar siluet Gunung Ranai berwana hijau, logo sebuah bola dan tujuh gelombang air.

Sayangnya informasi teranyar terkait perkembangan terbaru PSP Natuna tidak banyak diketahui saat ini. Dari halaman media sosial klub ini pun tidak ada up date terbaru mengenai geliat klub ini.

Sekolah Sepakbola di Perbatasan Timor Leste

Indonesia bagian timur dikenal memiliki talenta berbakat yang selalu mengisi Timnas Indonesia. Hal ini pula yang mendorong sejumlah orang untuk terus meningkatkan infrastruktur sepakbola di daerah perbatasan negara lain, salah satunya ialah daerah di Nusa Tenggara Timur yang berbatasan dengan Timor Leste.

Sejumlah Sekolah Sepakbola (SSB) pun didirikan oleh sejumlah pihak, seperti dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Pada November 2015 silam, dibangun Sekolah Sepak Bola (SSB) Perbatasan di Atambua, Belu. SSB yang akan dibangun, bekerjasama dengan Ketua Asosiasi Sekolah Sepakbola Indonesia (ASSBI) dan juga sejumlah pemerhati sepakbola nasional, diantaranya, Ketua ASSBI, Amarta Imron, Dwi Pranayuda, dan Zulfikar Utama.

Dilansir dari wartaandalas.com, selain membangun SSB, ada sejumlah kegiatan yang dilaksanakan demi membangun sepakbola di Atambua.

Training of Trainer (TOT) bagi para pelatih sepakbola dan edukasi (coach education) untuk seluruh guru olahraga, kedua penyelenggaraan festival sepakbola usia dini 12 tahun ke bawah untuk mendukung program grassroots FIFA dibarengi dengan identifikasi database kemampuan, penilaian, dan rapor bagi para pesepakbola, ketiga dilakukan homebase bagi pesepakbola untuk memantau bakat dengan menggelar sekolah privat dan les tambahan serta keempat pembentukan komisariat daerah sebagai wadah sekolah sepakbola jangka panjang.

Hal ini tentu jadi angin segar untuk sepakbola Atambua. Pasalnya sejak Timor Leste lepas dari pangkuan Indonesia, Atambua jadi daerah yang berdampak. Salah satu dampaknya ialah matinya sepakbola di daerah ini.

Padahal di daerah ini terdapat Stadion Haliwen. Dulu stadion ini sempat digadang-gadang sebagai stadion terbesar. Saat ini seperti laporan dari rizkizulfitri-kiena.blogspot.co.id, hanya tinggal besi dan beton tua yang menghitung hari untuk roboh.

Jika ditilik secara sejarah, stadion yang hanya berjarak sekitar 15 menit perjalanan dari pusat kota Atambua ini, menjadi saksi bisu kepahitan politik masa lalu. Konon, Stadion Haliwen menjadi tempat pengungsian ribuan warga eks Timor Timur (Timtim), yang memilih pro integrasi, setia menjadi Warga Negara Indonesia pada masa Jajak Pendapat di Timtim tahun 1999 silam.

“Di sini dulu banyak orang buka tenda di lapangan, mereka tetap mau jadi orang Indonesia tapi belum mau tinggal di mana, jadi mereka pilih tinggal di stadion,” tambah kakek yang bekerja sebagai buruh tani tersebut. Konon Pak Frans adalah seorang pro integrasi, memilih hidup di sekitar Stadion Haliwen. Rasa cintanya terhadap negeri ini jangan ditanyakan lagi walaupun hidup dalam garis kemiskinan.

Putra Perbatasan

Nama Yabes Roni Malaifani jadi buah bibir kala Timnas U-19 melawan Filipina di Stadion Gelora Bung Karno pada Oktober 2013 silam. Yabes bukan pemain biasa.

Yabes ialah pemain kelahiran Moro Alor, pada 06 Februari 1995 silam. Daerah kelahiran Yabes merupakan satu dari 92 pulau terluar Indonesia karena berbatasan langsung dengan Timor Leste di sebelah selatan.

Yabes sendiri seperti dilansir dari sidomi.com mengaku kalau bakatnya pertama kali ditemukan oleh sang pelatih, Indra Sjafri pada pertengahan Juni 2013 lalu.

Saat itu Indra sedang berkeliling Indonesia mencari pemain yang akan diplot memperkuat Indonesia di Piala AFF dan AFC Cup U-19.

“Dalam hati saya bilang, ini baru kamu lihat orang Alor pung gila. Saya akan tunjukkan kepada dunia bahwa anak NTT juga bisa main bola,” kata anak dari Anus Malaifani, guru olahraga di Alor.

Yabes mengaku lolos ke Timnas melalui proses yang sangat panjang. Nyaris tak dapat diseleksi di Kupang, Yabes tak masuk di skuat timnas untuk Piala AFF. Yabes mengaku tak putus asa karena memang hanya 20 pemain yang didaftarkan, sementara jumlah mereka sebanyak 31 orang.

“Waktu seleksi untuk AFC di Gelora Bung Karno, pelatih melakukan game. Ada dua tim yang bermain dan saya tidak masuk. Namun kemudian pelatih suruh saya ganti satu pemain. Saat itu saya sudah bertekad harus bisa lolos. Saat saya main, pelatih bilang Yabes, kamu bagus. Dalam hati, saya bilang, saya sudah lolos. Dan, ketika keesokan harinya BTN merilis nama skuad AFC, saya berada di urutan ke-17,” kata Yabes.

Advertisements