file%2fpictures%2f114142%2fconvert%2fballondor_625x352
Penghargaan Ballon d’Or beberapa tahun ke belakang selalu dimonopoli pemain yang bermain di La Liga Spanyol. La Liga Spanyol memang digdaya di penghargaan ini beberapa tahun ke belakang. Jika dulu Serie A Italia yang dominasi kini La Liga Spanyol, lantas mengapa Liga Inggris selalu absen?

Nominasi Ballon d’Or masih berkutat di liga Spanyol, dua pemain dari dua klub hebat Spanyol, Lionel Messi dari Barcelona dan Cristiano Ronaldo dari Real Madrid kembali jadi unggulan untuk bisa raih gelar ini.

Penghargaan ini seperti sudah jadi monopoli dua klub tersebut sejak 2010 lalu. Pun untuk peringkat kedua dan ketiga, hanya klub Jerman, Bayern Muenchen yang mampu sumbangkan dua pemainnya yakni Frank Ribery pada 2013 dan Manuel Neuer pada 2014 lalu.

Pertanyaan kemudian muncul, mengapa liga sekaliber liga Inggris yang disebut sebagai liga paling profesional dan terbaik di dunia tak mampu sumbang satu atau dua pemainnya minimal untuk masuk nominasi terkuat?

Banyak alasan yang kemudian muncul mengapa hal itu bisa terjadi. Berdasar catatan sejarah sebenarnya sejumlah pemain asli Inggris pernah mendapat penghargaan Ballon d’Or (dulu masih berstatus sebagai pemain terbaik dunia).

Pada 1956, Stanley Matthews sukses menyambet gelar ini meski selang setahun kembai pemain asal Real Madrid, Alfredo Di Stefano sukses meraih gelar itu kembali. Lalu ada Kevin Keegan dan Michael Owen. Itu dulu, sejak penghargaan pemain terbaik dunia dan Ballon d’Or jadi satu paket pada 2010, pemain asli Inggris hanya jadi penonton.

Berikut sejumlah alasan yang membuat trofi Ballon d’Or enggan singgah di tanah Inggris:

Jago kandang

Tak dipungkiri memang jika liga Primer Inggris ialah liga paling kompetitif, paling profesional dan terbaik di dunia. Sejumlah klub meski berstatus klub kecil mampu jungkalkan dominasi klub mapan. Lihat saja Leicester City di musim ini.

Namun meski paling kompetitif, pemain dan klub liga Inggris bahkan sampai timnasnya merupakan jago kandang. Dominasi klub Inggris di pentas Eropa tak sedigdaya klub Spanyol, Italia ataupun Jerman.

Pun demikian jika berbicara pemain asli Inggris yang mampu menjadi raja di kompetisi Eropa lainnya. Ian Rush misalnya, di Liverpool ia dianggap dewa oleh fans namun ketika hijrah ke Italia dan bergabung dengan Juventus, Rush jadi pecundang.

Begitu juga dengan seorang Michael Owen. Karirnya hancur total ketika bermain di Real Madrid. Ia hanya jadi pelengkap di era Los Galaticos. Mungkin hanya Kevin Keegan yang mampu jadi yang terbaik dengan mampu memenangkan Ballon d’Or pada 1978 dan 1979 kala membela Hamburg.

Soal timnas juga setali tiga uang. Klub Jerman mungkin tak sedigdaya klub-klub Spanyol dan Jerman rajai liga Champions dan Piala Europa namun dalam urusan antra negara, tim Panser Jerman ialah raja turnamen.

Serbuan pemain asing

Sebagai liga paling kompetitif, profesional dan terbaik di dunia maka liga Inggris jadi incaran banyak pemain top dunia untuk mengadu nasib.

Membanjirnya pemain non Inggris di liga Inggris sebenarnya sudah menjadi isu lama yang sering terangkat jika timnas Inggris catat hasil buruk.

Klub-klub liga Inggris memang lebih suka menggunakan pemain non Inggris di starting line up mereka. Lihat starting line up klub mapan liga Inggris musim ini.

Arsenal misalnya hanya memiliki 9 pemain asli Inggris dari seluruh skuadnya musim ini. Untuk urusan starting line up, Arsene Wenger, pria Prancis itu hanya menempatkan 2 atau 3 pemain asli Inggris saat Arsenal main di liga Inggris ataupun liga Champions. Lain jika Arsenal bermain di Piala FA ataupun Piala Liga Inggris, Wenger baru menurunkan pemain asli Inggris.

Ketatnya liga Inggris ataupun liga Champions sangat berbeda dengan Piala FA ataupun Piala Liga Inggris. Hal sama juga bakal ditemukan di skuad Liverpool, Chelsea, Man United serta Man City.

Liga bisnis

Efek dari hebatnya liga Inggris dari sisi pengembangan dan manajemen berdampak pada cara dan budaya liga Inggris itu sendiri. sebagai liga paling profesional jika bisa dikatakan seperti itu, liga Inggris semata hanya memetingkan bisnis komersial.

Tak dipungkiri banyak pebisnis dari seluruh dunia yang sangat memfavoritkan liga Inggris sebagai tempat investasi mereka. Akibatnya budaya klub lebih memetingkan bagaimana perputaran uang semata mulai dari penjualan jersey, tiket stadion hingga penjualan pemain hebat ke luar Inggris.

Kasus Gareth Bale bisa jadi contoh paling relevan. Selain itu menjamurnya akademi sepakbola di klub Inggris bukan semata untuk mencetak pesepakbola Inggris berbintang lima namun lebih kepada pengembangan bisnis klub itu sendiri. Hal ini tentu berbeda dengan pengambangan akademi sepakbola di Spanyol misalnya.

Hal ini membuat sejumlah fans resah. Muncul kemudian aksi protes para fans terhadap budaya ini. Kasus berdirinya klub FC United of Manchester bisa jadi rujukan.

Advertisements