file%2fpictures%2f117748%2fconvert%2fsepakbolachina_625x352
Liga Super China menjadi fenomena baru di sepakbola dunia setelah berhasil menggaet banyak pemain bintang untuk merumput di dalamnya. Namun keberhasilan Negeri Tirai Bambu menjadi pelabuhan baru para pesepakbola top, ternyata berbanding terbalik dengan kondisi para pemain dan timnas mereka yang memprihatinkan.

Panggung Liga Super China atau CLS kian gemerlap dengan kehadiran para pemain bintang dunia yang memutuskan untuk menjalani karier mereka bersama klub kontestan CLS. Nama-nama tenar seperti striker Brasil, Robinho, hingga yang terbaru eks Juventus, Carlos Tevez yang merumput bersama klub China.


Eks Chelsea, Ramires yang hijrah ke klub peserta CLS, Jiangsu Sainty.

Nama-nama pelatih papan atas seperti Sven-Goran Eriksson yang pernah menukangi Inggris, serta Luiz Felipe Scolari eks arsitek Portugal, juga turut ambil bagian menjadi pelatih utama klub-klub tajir China.


Luiz Felipe Scolari

Ekspansi besar-besaran Liga Super China yang berhasil menggaet para megabintang lapangan hijau yang telah malang melintang di kompetisi Eropa, diklaim menjadi indikator kebangkitan sepakbola Negeri Panda. Namun, meski menjadi magnet baru bagi sederet bintang untuk merumput di sana, bagaimana sebenarnya kondisi nyata sepak bola China saat ini?

Berikut INDOSPORT merangkum beberapa fakta yang membuktikan jika kondisi sepakbola Negeri Tirai Bambu itu masih sangat memprihatinkan. Hal tersebut berbanding terbalik dengan kenyataan jika klub-klub Liga Super China membelanjakan banyak uang mereka untuk para pemain bintang asing:

Citra Buruk Timnas China

Tim sepakbola nasional China memang telah sejak lama menjadi ‘bulan-bulanan’ di Negara mereka sendiri. Minimnya prestasi serta kegagalan yang terus menerus mereka raih sangat jauh berbeda jika dibandingkan pretasi yang diraih Negara Komunis itu untuk sektor olahraga lainnya.

Pada Olimpiade 2008 Lalu di Beijing, timnas China yang menderita kekalahan 2-0 atas Belgia pun mendapat sorotan tajam. Komentator Olimpiaden asal Negara tersebut bahkan mengejek timnasnya sendiri dengan menyebut jika seharusnya tim sepakbola China segera keluar agar tak merusak mood rakyat seluruh negeri saat menyaksikan Olimpiade.

Kegagalan timnas tersebut diklaim karena selama ini, China lebih fokus untuk menggenjot cabang olahraga individu  yang berpotensi untuk memberikan lebih banyak medali emas, ketimbang sepakbola.

Intimidasi dalam Seleksi Pemain

Metode untuk mengidentifikasi bakat pesepakbola muda di China benar-benar sangat mengintimidasi. Sistem seleksi olahraga Negeri Tirai Bambu hanya memilih anak-anak dengan kondisi fisik tertentu, seperti tinggi badan mencukupi, serta piawai dalam olahraga lain seperti atletik, dayung, berenang, menyelam atau senam.

Hal tersebut tak bias disalahkan, namun pada kenyataanya banyak bakat besar dunia yang lahir dengan kondisi fisik tak sepenuhnya sempurna. Sebagai contoh, Diego Maradona dan Lionel Messi, pemain terbaik dunia saat ini, ia tak memiliki tinggi badan menjulang layaknya pesepakbola pada umumnya.

Pengaturan Skor

Tindakan match fixing atau pengaturan skor terjadi secara sistematis di China. Para pemilik klub di Liga Super China di akhir 1990-an bahkan mengklaim jika mereka harus mengelurkan biaaya yang tidak sedikit dalam setiap pertandingan jika ingin melihat klub asuhan mereka memenangkan pertandingan.

Tak hanya para pemilik klub,  sponsor pun turut menarik diri setelah secara langsung melihat kebobrokan system sepak bola di negara tersebut.  Produsen mobil, Geely, menarik dukungannya dari klub di kota selatan Guangzhou pada tahun 2001, delapan bulan setelah setuju untuk berinvestasi.

“Untuk setiap pertandingan, suap satu juta, dua juta yuan [$ 120,000-240,000] harus disediakan, dan tidak seorang pejabat sepak bola atau wasit yang pernah tertangkap,” ujar kepala Geely, Li Shufu.

Akhirnya, pada tahun 2007, penyelidikan kasus pengaturan pertandingan di Singapura pun dilakukan oleh pemerintah China. Sebanyak 20 orang, termasuk seorang wasit yang sebelumnya dicap sebagai wasit paling yang paling jujur turut ditangkap akibat skandal tersebut.

Sepakbola China Penuh Korupsi

Layaknya cabang olahraga lain, sepakbola China harus sepenuhnya berada di bawah kendali partai  komunis. Pejabat yang memimpin induk organisasi sepakbola pun harus dipilih dan disediakan oleh partai penguasa tersebut, hal tersebut sangat bertentangan dengan prinsip utama FIFA yang menyerukan agar sepakbola tak berada di bawah intervensi pemertintah

Keadaan tersebut secara langsung membuat kondisi sepakbola Cina benar-benar memprihatinkan. Korupsi secara terang-terangan terjadi di berbagai pos di tubuh sepakbola China, pejabat, wasit, pemilik klub, bahkan  pemain secara implisit melakukan tindakan tersebut.

Advertisements