Klub-klub maju di Eropa memiliki banyak cara untuk bisa membangun skuat mereka jadi lebih kuat di tiap musimnya. Tidak hanya membeli pemain bintang dengan harga selangit, namun juga melahirkan sejumlah talenta muda yang mereka bina lewat sejumlah program.

Ongkos yang besar dikeluarkan oleh sejumlah klub Eropa untuk bisa merekrut sejumlah pemain bintang. Tujuannya sudah pasti menjadikan klub jadi yang peling hebat.

Namun strategi itu sudah usang. Sejak medio 2000-an, sejumlah klub Eropa lebih fokus pada program melahirkan bakat sepakbola yang keluar dari ‘rahim’ mereka sendiri. Selain bisa membuat klub bisa meraih prestasi gemilang, dari sisi bisnis, pemain atau ‘produk’ unggulan ini bisa mereka jual kepada klub yang masih fokus pada startegi pembelian pemain bintang.

Untuk klub yang ingin hasilkan talenta berbakat, banyak program yang kemudian dihasilkan. Mulai dari akademi pemain, sekolah sepakbola (SSB) hingga pada program ‘Corporate Social Responsibility’ (CSR) klub tersebut dengan melakukan latihan bersama atau program foundation lainnya.

Program-program pengembangan bakat di klub Eropa ini tentu saja membuat silau sejumlah pihak dari negara di luar Eropa yang ingin rentas karier di sana.

Sayangnya, pemahaman atas perbedaan dari program klub-klub tersebut membuat hal tidak sedap bisa menghampiri mereka. Di Indonesia misalnya, sejumlah pemberitaan mengenai bakat muda di Indonesia yang berkarier di Eropa, tidak dijelaskan dengan jelas hingga menimbulkan kesan terlalu bombastis.

Hal ini juga yang disorot oleh media Belanda, nos.nl lewat laporannya yang berjudul ‘Hoe Ajax en Feyenoord flirten met te jonge buitenlandse talenten’.

Didorong oleh hal tersebut, penulis coba memperkenalkan istilah-istilah tersebut hingga bisa menjadi bahan rujukan untuk bisa melihat dengan jelas perkembangan bakat muda Indonesia yang kini atau sedang berkarier di Eropa.

Akademi Klub

Jika telaah dari segi arti, akademi sepakbola merupakan lembaga pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan olahraga sepakbola dari anak usia dini, mulai dari 6-17  cf tahun.

Pembelajaran di akademi sepakbola mulai dari segi taktik, teknik pengolahan bola, keterampilan individu, kerjasama tim, sampai pada teknik pernapasan, dan kecepatan dalam dribbling.

Output dari akademi sepakbola sudah pasti untuk melahirkan bakat sepakbola untuk bisa menjadi pemain profesional di usia 18 tahun hingga mendapat kontrak dari klub profesional.

Salah satu klub yang dikenal memiliki akademi sepakbola ialah Barcelona dengan La Masia. Seperti dilansir dari scholastic.com, di La Masia, tiap anak akan mengikuti jadwal rutin yang telah disusun.

Tiap anak di La Masia tiap harinya akan mulai sarapan pada pukul 07:30 waktu setempat, kemudian dilanjutkan dengan bersekolah pada pukul 08:00 dan pulang pada pukul 14:00. Setelah itu, anak-anak mendapat kesempatan istirahat pada hingga pukul 16:00.

Tepat pukul 16:00, anak-anak akan langsung turun ke lapangan dan mengikuti latihan sampai pukul 18:00. Pada pukul 21:00 anak-anak ini akan makan malam bersama dan tidur tepat pukul 22:00.

“Di sana (La Masia) tidak hanya diajarkan soal sepakbola namun lebih dari itu dan menyentuh pribadi saya untuk jadi lebih baik,” kata Gerard Pique, alumnus La Masia.

Akademi klub memang sudah menjadi harga mati untuk perkembangan sepakbola saat ini. Asian Football Confederation (AFC) bahkan meminta bahwa akademi sepakbola merupakan salah satu syarat untuk klub di Asia Tenggara jika ingin disebut sebagai klub profesional.

Yang paling utama siswa di akademi sepakbola tidak mengeluarkan uang. Menurut eks pelatih Timnas Putri Indonesia, Timo Scheunemann, sumber pendanaan akademi sepakbola bukan dari siswa.

“Dengan demikian akademi bebas memilih pemain secara ketat,” kata Timo.

Sekolah Sepakbola

Sedangkan sekolah sepakbola memiliki pengertian yang tak jauh berbeda dengan akademi sepakbola. Namun yang jadi perbedaan jelas keduanya ialah soal biaya.

Timo Scheunemann menyebut jika akademi sepakbola memiliki seleksi yang ketat untuk menjaring pemain maka di SSB tidak seperti itu. Siapa yang mampu membayar iuran yang telah ditetapkan maka sudah pasti masuk dalam SSB.

“SSB profit oriented dan untuk pendidikan di luar sepakbola tidak diajarkan,” kata Timo.

Di sejumlah negara berkembang seperti di Indonesia, SSB jadi alternatif jika ada bakat muda yang memiliki kendala saat masuk ke akademi klub.

“Masalahnya, kalau sampai salah pilih SSB, karakter pemain bisa rusak. Percaya diri bukannya meningkat malah menurun,” kata Timo seperti dilansir dari supersoccer.co.id.

Sejumlah klub di Eropa juga membuat SSB di sejumlah negara namun dengan penamaan yang berbeda. Contohnya ialah Barcelona yang membangun akademi binaan Barcelona bernama FCB Escola.

Seperti dilansir dari situs resmi klub, tiap pemain yang ingin masuk ke FCB Escola membayar sebesar Rp10 juta perbulan. Ini biaya untuk FCB Escola yang telah beroperasi di Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Program ‘CSR’ Klub dan Mantan Pemain

Selain membuat akademi binaan atau SSB, sejumlah klub Eropa juga mendirikan sejumlah program layaknya perusahaan besar yakni menjalankan Corporate Social Responsibility (CSR).

Perugia misalnya, seperti dilansir dari soccertalentidentification.com, eks klub Marco Materazzi ini membuat program identifikasi bakat.

Program Identifikasi Bakat telah didirikan pada tahun 1997 yang merupakan kolaborasi antara A.C. Perugia Calcio SPA (sebelumnya bermain di Serie A) dan Italian Soccer Management (ISM), dengan tujuan untuk mengidentifikasi talenta muda.

Tidak hanya Perugia, Manchester United juga menjalankan program foundation untuk menjaring sejumlah talenta muda dari luar Inggris.

Di Bali, Manchester United Foundation Inggris sempat memberikan pelatihan singkat kepada pemain muda asal Bali selain itu, pada April 2016, Manchester United Foundation melaksanakan United Training.

Dalam program ini, talenta Indonesia sebanyak 60 anak akan mendapatkan pelatihan sepakbola kelas dunia bersama pelatih dari Manchester United di pusat pelatihan United Training, Bali pada 11 hingga 18 Mei 2016.

Selain itu, sejumlah eks pemain bintang seperti Jamie Carrager misalnya melalui yayasan sosial miliknya, the 23 Foundation mendirikan pelatih di enam sekolah dasar di Liverpool Inggris.

“Seiring pensiunnya diri saya, kami memutuskan ini adalah sebuah cara yang tepat bagi saya untuk terus terlibat dalam dunia sepak bola,” ucap Carragher kepada Liverpool Echo.

Advertisements