Sepakbola akan selalu datangkan pundi-pundi uang untuk mereka yang terlibat di dalamnya. Terutama jika jendela bursa transfer mulai dibuka. Musim ini, pembelian Paul Pogba ke Manchester United diyakini akan membuat sekelompok investor berpesta pora.

Pada 2009 lalu, sekelompok investor yang berbasis di Sao Paulo menanamkan dana besar ke seorang pemuda yang saat itu tengah merintis karier sepakbolanya di Santos. Bahkan ada salah satu supermarket di Brasil yang rela menanamkan uang sebesar 5,5juta real Brasil untuk pemuda ini.

Gelontoran dana besar untuk si pemuda ini berbuah hasil selang empat tahun kemudian saat klub besar La Liga Spanyol, Barcelona rela untuk membeli si pemain dari Santo seharga 57,1juta Euro. Lantas berapa persen keuntungan dari kelompok investor ini?

Seperti dilansir dari Forbes, kelompok investor ini mendapat keuntungan mencapai 62% karena penjualan Neymar dari Santos ke Barcelona pada tahun itu. Pembelian saham untuk satu orang pemain memang sudah jadi hal lumrah di sepakbola internasional.

Meski dibeberapa negara hal ini sempat jadi polemik. Kasus pembelian Carlos Teves misalnya dari West Ham United ke Manchester United beberapa waktu lalu.

Seberapa besar keuntungan para investor sepakbola jika ada pembelain seorang megabintang? Analisis dari Bloomberg pernah membedahnya beberapa waktu lalu.

Untung Cepat

Sebuah kantor investasi yang berpusat di Manchester, Inggris, R2 Asset Management Ltd menceritakan kepada Bloomberg bahwa keuntungan yang mereka raih saat menanam modal di dunia sepakbola cukup cepat diraih.

Ray Ranson sang pemilik mengatakan bahwa perusahaannya memang terfokus pada investasi untuk klub kecil atau pemain muda. Ray yang juga mantan pesepakbola ini menyebut dalam durasi dua tahun setelah dana masuk ke klub atau pemain, pihaknya akan mendapat keuntungan kira-kira 50% lebih.

Saat Eropa tengah diterjang krisis ekonomi dan pihak bank memberi batasan sulit untuk klub meminjam dana, maka pihak-pihak seperti perusahaan Ray Ranson jadi solusinya.

“Kami menyediakan uang cash untuk klub yang memiliki neraca keuangan yang tidak bagus. Klub-klub itu membutuhkan kami,” kata Ranson.

Kabarnya untuk perusahaan Ranson saja, dana yang dikeluarkan mencapai 50juta poundsterling atau setara 75juta Dollar untuk 20 pemain seluruh Eropa di Februari tahun ini.

“Jika ada pemain asal Spanyol ditaksir dengan harga 2juta Dollar, kami ia akan dibeli dengan 3juta Dollar, kami menerima keuntungan 50 persen lebih,” kata Ranson.

Jadi Pro kontra

Namun sayangnya, keberadaan ‘agen’ seperti Ranson ini jadi polemik, utamnya di liga Inggris. Sejumlah pihak menilai keberdaan Ranson dan sejawatnya akan mengancam semangat fair play di sepakbola.

“Investasi di sepakbola tidak bermoral dan tidak hubungannya dengan sepakbola sebagai olahraga,” kata Theo van Seggelen, sekjen federasi sepakbola internasional.

Seorang profesor dari Belanda bahkan menyebut bahwa profesi seperti Ranson dan sejawatnya ialah profesi rendahan. “Tidak ada profesi lain di seluruh dunia yang tidak lebih rendah dibanding profesi membeli saham manusia,” kata Ranson.

Federasi sepakbola dunia, FIFA pun mengkritik soal pergerakan dari investor pemain, menurut FIFA sangat aneh bahwa ada sekelompok orang yang bisa memiliki pengaruh kuat untuk masa depan si pemain akan bermain dimana.

Meski mendapat cibiran dan celaan dari banyak pihak, sejumlah investor sepakbola mengaku tidak patah arang, termasuk Ranson. Menurutnya kemarahan mereka yang kontra dengan investor sepakbola terlalu berlebihan.

“Saya belum patah arang selama 15 tahun ke belakang ini. Inilah wajah sepakbola modern saat ini,” kata Ranson.

Ranson pun membantah anggapan dari banyak pihak bahwa pihaknya bisa menentukan jalan karier seorang pemain. Menurutnya, proses transfer pemain murni dari keinginan pemain dan klub.

“Kami tidak bisa membuat satu klub menjual satu pemain,” kata Ranson.

Ajang judi saat bursa transfer landai

Salah satu anggapan minus lagi soal investor di bidang sepakbola ialah terkait gelagat para investor ini jika bursa transfer pemain di Eropa berjalan landai.

Bloomberg menyebut sejumlah taipan besar di bidang investasi sepakbola dunia seperti Baniyas Sports Club yang presidennya juga menjabat PM Uni Emirat Arab, Saif bin Zayed Al Nahyan serta konglomerat Qatar yang memiliki hubungan dengan penguasa Manchester City bahwa ada kecenderungan perputaran pemain masuk ke meja judi.

Jika tidak ada penjualan bombastis, tentu saja banyak orang yang kehilangan uangnya di meja judi. Anggapan itu semakin diperkuat jika ada pemain yang akan habis masa kontraknya, pasalnya si investor bisa menekan si pemain untuk pindah ke satu klub yang memiliki nilai tinggi di bursa taruhan.

Kondisi ini membuat gusar banyak pemain. Gregor Reiter, CEO kelompok pemain profesional Jerman mengatakan peran dari FIFA dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah ini.

“Ini adalah salah satu tantangan terbesar FIFA. Jika mereka tak cepat mengatasi maka banyak pemain akan bertanya, apa kita masih membutuhkan FIFA?” kata Reiter.

Advertisements