file%2fpictures%2f143319%2fconvert%2fterorprancis4_625x352
Aksi teror kembali guncang Prancis. Kamis malam (14/07/16) waktu setempat, 77 orang tak bersalah jadi korban akibat aksi teror yang diduga dilakukan teroris. Ini jadi kesekian kalinya, Prancis jadi target teroris pasca penyelenggaraan Euro 2016. Negara sepakbola ini memang rentan jadi target, mengapa?

Mayat bergelimpangan di jalanan kota Nice, Prancis, Kamis malam, 14 Juli 2016 waktu setempat. Jalanan penuh sesak warga yang tengah merayakan hari Bastille ditabrak oleh sebuah truk yang berisi granat.

Puluhan orang jadi korban jiwa dan ratusan lainnya alami korban luka. Aksi teror di Prancis pecah pasca Euro 2016, sebelumnya kelompok teror berulang kali mengancam akan melakukan serangan saat Euro 2016 berlangsung.

Bahkan di tahun lalu, tepatnya November 2015, aksi teror memakan korban nyawa sebanyak 128 orang dan 180 orang luka di Paris, Prancis.

Negara sepakbola ini membuat dunia berduka. Kecaman dan kutukan mengalir dari seluruh penjuru dunia atas aksi teror ini. Ramai-ramai seluruh orang termasuk para atlet dunia sampaikan rasa belasungkawanya.

Mirisnya, aksi teror yang terjadi di Prancis memang seperti bom waktu yang siap meledak kapapun. Bahkan seperti laporan BBC, orang Prancis sendiri sudah memprediksi teror akan segara hadir di negara mereka.

Sebagai negara multietnis, Prancis memang menjadi target empuk untuk pelaku teror. Prancis jadi sasaran tembak dari pelaku teror.

Seberapa rentan Prancis jadi sasaran empuk untuk pelaku teror? lantas bagaimana kaitannya dengan olahraga, khususnya sepakbola dengan aksi teror-teror tersebut?

‘Dendam’ terhadap aksi rasis di sepakbola Prancis

Prancis merupakan salah satu negara di Eropa yang mayoritasnya ialah imigran. Berdasar data pada 2014, terdapat 12 juta jiwa imigran di Prancis atau 19 persen dari total penduduk Prancis.

Namun keberagaman belum sepenuhnya diterima oleh masyarakat Prancis. Contoh nyata bisa terlihat pada sepakbola Prancis. Prancis ialah salah satu negara yang memiliki akar rasisme.

Bahkan salah satu eks pemain timnas Prancis era 1998, Willy Sagnol pernah lontarkan kalimat rasis terkait pesepakbola asal Afrika yang menjamur di liga Prancis.

“Keuntungan memiliki pemain asal Afrika ialah mereka berharga murah, mau bertanding dan memiliki kekuatan fisik hebat. Tapi ingat, sepakbola itu tidak hanya membutuhkan itu. Sepakbola membutuhkan teknik dan kecerdesan,” kata eks bek Bayern Munchen itu seperti dilansir dari The Telegraph.

Bahkan saat Prancis misalnya mengalami kegagalan di satu kompetisi, publik dan media lokal setempat menunjuk hidung para pemain berkulit hitam. Hal tersebut pernah diungkap oleh eks penyerang Prancis, Nicolas Anelka.

“Saat Prancis kalah, publik dengan mudah menunjuk mereka yang berbeda. Mulai membawa agama mereka, warna kulit mereka dan lain sebagainya,” kata eks penyerang Real Madrid tersebut.

Bahkan survei di Eropa menunjukan bahwa Prancis merupakan negara terdepan untuk urusan rasis para suporter mereka. Prancis kalahkan negara seperti Rusia, Inggris dan Spanyol untuk urusan tak terpuji ini.

“Orang-orang di Prancis saat ini dengan mudahnya menyalahkan orang beragama tertentu dan berwarna kulit berbeda. Saya tidak suka dengan mentalitas seperti ini karena akan menjadi boomerang nantinya,” kata gelandang Man City, Samir Nasri.

Apa yang dikhawatirkan Nasri sedikit banyak memang terbukti saat ini. Jika menilik sejumlah komentar mereka yang diduga pelaku teror, ada rasa dendam dari mereka terhadap perlakukan Prancis kepada mereka yang berbeda.

Sepakbola yang seharunya bisa jadi penengah justru dijadikan suporter Prancis untuk menyuarakan bualan rasis mereka ke orang lain.

Kebijakan Luar Negeri yang Hancurkan Talenta Sepakbola Berbakat

Jauh sebelum aksi teror terjadi di Prancis pada tahun lalu dan baru-baru ini, Prancis pada 1998 juga sempat diguncang aksi teror. Saat itu, kelompok teror dari Aljazair merencanakan aksi teror sebelum Piala Dunia 1998 berlangsung.

Beruntung aparat keamaan bisa mencegah dan menangkap 100 orang yang diduga sebagai pelaku serangan teror. Di 90-an, serangan teror kepada Prancis memang mengalami peningkatan intensitas, mulai dari serangan di lintasan kereta api pada 26 Agustus 1995 di kota Lyon, peledakan alun-alun kota Paris pada 03 September 1995 dan aksi teror lainnya.

Jika melihat lebih jauh, hal itu semua bermuara juga pada satu penyebab yakni kebijakan luar negeri Prancis terhadap aksi terorisme. Unit anti teror serta pasukan Prancis di sejumlah negara konflik Timur Tengah ternyata tidak hanya menghancurkan infrastrukur dan memakan korban nyawa negara tersebut, namun juga hancurkan impian dan harapan sejumlah talenta berbakat sepakbola negara itu.

Laporan ESPN teranyar setidaknya membuktikan asumsi tersebut. Abou Omar Brams, salah satu pemuda Suriah yang diduga masuk dalam kelompok teror mengungkap bahwa dirinya ialah pengagum sepakbola.

Omar bahkan salah seorang fans dari penyerang Prancis, Thierry Henry dan Barcelona jadi klub yang sangat ia sukai. Kekinian Omar sedikit mengubah haluan hidupnya. Ia seperti dikatakan sang ayah sedikit mulai sedikit melupakan sepakbola.

Hal tersebut dikarenakan kondisi negaranya porak poranda karena perang serta hasutan dari rekan sejawatnya yang sudah duluan masuk kelompok teror.

“Padahal sebelumnya ia selalu tak pernah mau kelewatan informasi terkait sepakbola dan Euro 2016,” kata sang ayah.

Omar menurut ayahnya sudah melupakan keinginannya untuk jadi pesepakbola dan gabung ke kelompok aksi teror. Poster-poster Henry dan Barcelona di dinding kamarnya sudah ia turunkan.

Bagaimana kabar terbaru Omar? Ia tewas karena melakukan serangan teror di Belgia beberapa waktu lalu.

Sekedar informasi, Prancis saat gabung dengan Amerika Serikat di pasukan koalisi memberikan 750 lebih tentara mereka. Bahkan ada 150 pasukan khusus yang diturunkan Prancis di Kurdistan, Irak untuk menyerang kelompok teroris ISIS.

Hanya ingin main sepakbola dan kedamaian di seluruh dunia

Tidak ada yang mengenal Jaseem Al Nuwaiji, wajar memang. Pasalnya pesepakbola yang berposisi sebagai penyerang ini berasal dari negara yang saat ini tengah konflik, Suriah.

Seperti laporan ESPN, Al Nuwaiji saat ini berada di Turki. Ia lari dari tanah kelahirannya karena ingin selamatkan hidup dirinya dan keluarga, selain itu, ia juga masih ingin bermain sepakbola dan main di salah satu liga Eropa, Prancis salah satunya.

Cita-cita yang sangat sederhana. Ia memang harus keluar dari negaranya jika ingin terus berkarier di sepakbola. Pasalnya kelompok teror yang kuasai Suriah, tidak hanya mendikte bidang kehidupan sosial namun juga sepakbola.

Ia ingat betul saat masih di klub lokal setempat, seorang wasit usai laga keesokan harinya ditemukan tak bernyawa karena memberikan pelanggaran, keputusan yang tidak diterima tim lawan, yang salah satu pemainnya diduga anggota kelompok teror.

“Apakah anda berdosa kepada Tuhan?” kata pemain itu ke wasit.

Di Turki, Nuwaiji berharap keadaan seperti itu berubah. Ia juga berharap keadaan dunia segera berubah dan negara yang terlibat penghancuran tanah kelahirannya segera mengambil tindakan yang lebih bijak untuk memukul balik pelaku teroris.

Advertisements