Sebagai provinsi paling barat di Nusantara, Nanggroe Aceh Darussalam miliki segudang potensi baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Di ranah olahraga, khususnya sepakbola, potensi daerah ini tenggalam dan kurang mendapat perhatian dari pihak terkait.

Jangan pernah pandang sebelah mata sepakbola di Negeri Serambi Mekkah, Nanggroe Aceh Darussalam, provinsi paling barat negara ini miliki banyak potensi di lapangan hijau.

Daerah yang miliki sejarah kelam akibat pertarungan politik antara pemerintah pusat dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) jadikan daerah ini tangguh dalam arti harfiah yang sebenarnya. Belum lagi jika membuka lembaran tak mengenakkan di 2004 kala tsunami menerjang Aceh.

Meski darah dan air mata acapkali jatuh di tanah Aceh, kekuataan manusia-manusia di Aceh tak perlu diragukan. Potensi sumber daya manusia di Aceh akan selalu jadi pembeda di negeri ini.

Dalam banyak bidang, Aceh memang memiliki banyak potensi yang tak perlu diragukan. Pun dalam bidang olahraga, khususnya sepakbola. Talenta sepakbola di Aceh selalu ada dan tak pernah padam.

Orang Aceh memang tak pernah main-main untuk memajukan sepakbola mereka. Di 2008 lalu misalnya dengan anggaran pemerintah daerah sebesar Rp45 miliar, sejumlah anak muda Aceh belajar sepakbola di Paraguay.

Gubernur Aceh saat itu, Irwandi Yusuf sangat berambisi untuk membangun kekuatan sepakbola Aceh. Setara dengan Timnas, begitu respon masyarakat dan media Aceh menanggapi ambisi sang Gubernur yang juga mantan Staf Khusus Komando Pusat Tentara GAM.

Orang Aceh memang memiliki karakter yang tak setengah-setengah dalam urusan menyelesaikan urusan. Semaksimal mungkin, orang Aceh akan terus membangun dan membuat sepakbola Tanah Rencong jadi yang terdepan dan terkuat.

Namun pertanyaannya, bagaimana nasib jebolan pemain Aceh usai berlatih di Paraguay?

Padahal fakta sejarah membuktikkan bahwa sepakbola Aceh selalu munculkan talenta berbakat. Mulai dari M Nasir Guru Mud, M. Daan, Irwansyah, Fachry Husaini, Ismed Sofyan, hingga ke generasi baru Aceh, Fitra Ridwan.

Di momentum Ketua Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang kini dipimpin oleh putra asli Aceh, Letjen Edy Rahmayadi, sepakbola Tanah Rencong mendapat angin segar. Harapan agar sepakbola Aceh mendapat perhatian lebih tentu sudah jadi hal lumrah diinginkan masyarakat sepakbola Aceh.

Berikut ulasan mengenai perjalanan sepakbola Aceh dari era VOA hingga sampai di era sepakbola Aceh saat ini yang bertahan meski minim perhatian.

Generasi awal yang ‘hilang’

Literatur mengenai sejarah sepakbola Aceh sangat jarang ditemui, hal sama pun dialami sejumlah daerah di negeri ini. Salah satu literatur sejarah mengenai sepakbola Aceh yang minim publikasi ialah soal sepak terjang generasi awal sepakbola Aceh yang ‘hilang’.

VOA disebut-sebut sebagai klub Aceh yang terkuat di era Nusantara masih jadi bangsa terjajah. Tidak ada yang tahu pasti apa singkatan dari VOA, sejumlah pihak menyebut VOA singkatan dari Voetbal Atjech.

Namun seperti dilansir dari laporan yang ditulis oleh Zulhelmi A Gani, dua saksi sejarah VOA yakni Nurdin Ishak dan AR Djuli juga tak paham soal kepanjangan dari VOA.

Nurdin Ishak ialah putra dari almarhum Keuchik Ishak, penyerang VOA. Sementara AR Djuli yang juga pewarta senior Aceh jadi saksi mata bagaimana pemain VOA berlatih dan bertanding.

Para pemain sangat disiplin berlatih, manajemennya juga tegas, tiga kali berturut-turut seorang pemain tidak latihan langsung dipecat,” ungkap AR Djuli seperti dilansir iskandarnorman.blogspot.co.id.

VOA merupakan klub yang bermarkas di Bireuen, Aceh. Di era 1930-1950, klub ini salah satu klub terkuat di Semenanjung Sumatera.

Nurdin Ishak menuturkan bahwa skuat VOA kala itu diisi oleh sejumlah talenta handal seperti Hamid Bintang, Amin Crah, Alamsyah Lancok, Abdullah Lancok, Mahmdu Guru Mud (Ayah dari eks pemain Persiraja Aceh, Nasir Guru Mud), Pattinasarani (ayah dari Ronny Pattinasarani), hingga mantan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara era  Susilo Bambang Yudhoyono, EE Mangindaan.

Akhir 1950-an, VOA alami keredupan. Salah satu masalahnya ialah soal regenerasi yang tak cakap. Selain soal regenerasi, VOA juga terkikis akibat masalah dana dan minimnya perhatian pemerintah pusat kepada sepakbola Aceh.

Menjadi wajar jika melihat kemunduran VOA di 1950, pasalnya di tahun itu juga Aceh tengah alami gejolak politik akibat status Aceh yang menjadi Keresidenan.Di Bireuen sendiri mulai muncul Persatuan Sepakbola Kota Bireuen (PSKB), Nurdin Ishak masuk dalam klub tersebut.

Bertarung di era kegelapan

Provinsi Aceh di era 70-an alami masa yang tidak mengenakkan. Gerakan Aceh Merdeka (GAM) berdiri 1975, pemerintah pusat di era Soeharto meresponnya dengan aksi militer.

Beberapa tahun setelah GAM berdiri, Soeharto menerapkan Daerah operasi Militer (DOM) di Aceh. Orang Aceh teraniyaya karena DOM. Bencana kemanusiaan yang juga berdampak pada semua sendi kehidupan orang Aceh, tak terkecuali di bidang sepakbola.

Menariknya meski tengah berada di era kegelapan, sepakbola Aceh masih bergigi. Buktinya, salah satu klub Aceh, Persiraja mampu tampil di Stadion Gelora Bung Karno di final Perserikatan.

Di final, Persiraja jungkalkan tim paling timur Indonesia, Persipura. Final yang berlangsung pada 31 Agustus 1980 itu dimenangkan oleh Persiraja dengan skor 3-1. Gol Persiraja dicetak oleh Rustam Syarafi dan Bustamam yang cetak dua gol.

Gelar ini membuat Persiraja jadi deretan klub besar di Indonesia yang sukses raih gelar Perserikatan. Persiraja sejajar dnegan Persis Solo, Persebaya, Persija, Persib, PSM Makssar, dan PSMS Medan.

Bisa dibilang apa yang ditorehkan oleh Persiraja jadi raihan terbaik putra-putra Aceh di kancah sepakbola nasional. Prestasi yang mereka torehkan di kala Aceh tengah jadi bidikan senjata Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Keamanan memang jadi salah satu hal yang cukup riskan di Aceh dan sepakbolanya. Salah satu masyarakat Aceh yang juga penggiat sepabola di Aceh, Deni Asmarrizal, Sekretaris Umum Persatuan Sepakbola Rajawali Balohan (PS Rajawali) menyebut di era tersebut, faktor kemanan jadi sangat riskan.

“Politik di Aceh yang tidak menentu di era tersebut sangat mempengaruhi, utamanya dalam hal faktor kemanan,” kata Deni kepada INDOSPORT. 

Menariknya, sepakbola Aceh pun mendapat campur tangan positif dari TNI. Ialah EE Mangindaan, eks pemain PSSB Bireuen yang banyak berjasa pada sepakbola Aceh. Sejumlah hal positif diberikan mantan Wakil Ketua MPR RI ini untuk sepakbola Aceh.

Bertahan meski tak menentu

Soal talenta, Aceh bisa dibilang hampir sama dengan Papua. Punya segudang talenta, namun minim perhatian dari pihak terkait.

Parahnya lagi, di tingkatan kota dan provinsi, di Aceh seperti yang diturukan Deni justru saling jegal. Di tingkatan Asisten Provinsi (Asprov) dan Asisten Kota (Askot) PSSI tidak memiliki kesatuan yang sama untuk memajukan sepakbola Aceh.

“Kalau di daerah-daerah, banyak yang tidak jalan Askot-nya. Paling cuma ada tarkam. Khusus Askot Sabang, malah tidak ada apa-apa di sini,” kata Deni.

Akibatnya pilihan untuk pemain asli Aceh ialah merantau di daerah lain guna mendapat ruang untuk bisa mengembangkan karier mereka.

Itu jadi pilihan yang paling realistis untuk pemuda Aceh semisal gelandang asli Aceh Fitra Ridwan. Gelandang kelahiran 16 Maret 1994 itu usai membela Persiraja pada 2014 lalu langsung terbang ke Gresik United dan kini tercatat membela Bhayangkara SU.

Pun yang dilakukan senior dari Fitra, Ismed Sofyan. Full back kelahiran Aceh Tamiang itu sudah dari 2000 meninggalkan tanah kelahirannya. Ia bergabung ke Persijatim Jakarta. Setelah itu, ia jadi legenda hidup bagi Persija Jakarta.

Saat Ketua Umum PSSI kini dipegang oleh putra asli Aceh, Letjen Edy Rahmayadi, sejumlah pecinta sepakbola Aceh sangat berharap ada campur tangan PSSI di tingkat pusat untuk bisa mengurus carut marut tersebut.

“Ada kebanggaan tersendiri buat kami, beliau kelahiran Sabang. Kami mendukung penuh. Semoga saja di kepemimpinan beliau, PSSI ada perubahan baik prestasi maupun displinnya,” kata Samanizal Zal kepada INDOSPORT. 

Ditambahkan oleh Samanizal, penggiat sepakbola di Sabang selaras dengan plat form awal Edy Rahmayadi untuk meningkatkan prestasi sepakbola nasional yakni soal pembinaan usai muda. Samanizal mengaku akan terus mengembangkan pemain muda di Sabang.

“Mulai besok kami sudah bekerja di pembinaan usia muda dan akan lahir cikal bakal dari ujung Indonesia untuk Persas dan untuk Timnas,” kata Samanizal.

Advertisements