Dari Turba Hingga Acara di Televisi

16 Mei 1966, Mao Tse Tung meluncurkan salah satu eksperimen sosial terbesar di dunia yakni revolusi kebudayaan di China. Tokoh komunis China itu memandang negerinya harus melaksanakan revolusi besar-besaran di segala bidang, tujuannya mengembalikan China ke ajaran Maoisme yang menurut Mao dianggap semakin luntur.

50 tahun setelah revolusi itu dijalankan oleh China, negeri tersebut memang menjelma jadi negara yang bakal menguasai dunia di segala bidang, tak terkecuali di bidang sepakbola.

Revolusi kebudayan pun tengah dijalankan oleh penerus Mao Tse Tung, Presiden Xi Jinping di ranah lapangan hijau. Xi Jinping didukung penuh oleh Sekretaris Jenderal Partai Komunis China, partai satu-satunya dan paling berkuasa di sana.

Mereka memiliki obsesi untuk membangun prestise bahwa sepakbola China sebagai negara komunis memiliki kekuataan yang disegani. John Lee dalam tulisannya di Forbes menyebut bahwa Xi Jinping mendapat laporan lengkapm dari politbiro partai Komunis terkait perkembangan sepakbola China.

Gemerlapnya Liga Super China dengan datangnya banyak pemain top Eropa jadi salah satu kebijakan pemerintah China untuk membangun sepakbola mereka. Xi Jinping dan anggota politbiro Komunis tentu sangat malu melihat prestasi Tim Nasional mereka.

Tim Nasional China memang di rentang waktu beberapa tahun terakhir hanya memang tak memiliki kemajuan berarti. Tidak hanya di level senior, di level tim muda pun China tak berkutik.

Pada 2013 lalu misalnya, Timnas China U-23 dipermalukan 1-5 oleh Thailand di kandang sendiri. Bahkan di rangking FIFA, China sempat berada di antara negara yang secara kultur sepakbola lebih buruk dari mereka yakni peringkat 93, persis diantara Botswana dan Kepulauan Faroe.

Setahun setelah hasil memalukan itu, Xi Jinping turun tangan. Ia pun membuat blue print membangun Tim Nasional China. Gol besarnya ialah menjadi raksasa di sepakbola internasional.

Xi Jinping jalankan kebijkan keras untuk mewujudkan itu. Layaknya Mao Tse Tung yang mengerahkan ribuan anggota pasukan merah untuk mewujudkan revolusi kebudayaan, Xi Jinping pun melakukan hal serupa.

Slogan pasukan merah saat revolusi budaya 1966 seperti ‘Ciptakan dunia baru’ dan ‘Hancurkan dunia lama’ diaplikasikan oleh Xi Jinping dan pengurus federasi sepakbola China. April 2015, Xi Jinping meluncurkan program ‘Reformasi Sepakbola China dan pengembangan secara keseluruhan’.

Pembangunan Tim Nasional dengan penekanan pada sisi profesional sepakbola dipadupadankan dengan sisi bisnis. Dua sisi mata uang yang membuat Tim Nasional China bersiap untuk jadi raja baru di kancah sepakbola internasional.

Hal-hal apa saja yang dilakukan penerus Mao Tse Tung untuk menjadikan Timnas China jadi timnas kuat?

Dari Turba Hingga Acara di Televisi

Pemerintah China memang tidak main-main untuk membangun Timnas mereka. Dilansir dari ebeijing.gov.cn, Xi Jinping dan anggota politbiro terapkan aturan keras untuk mengembangkan sepakbola.

Di level provinsi, pejabat China diminta untuk menciptakan model pembelajaran olahraga yang berujung pada penciptaan bibit muda di lapangan hijau. Bahkan pemerintah China tak malu menyebut bahwa untuk mencipta model seperti itu mereka meniru gaya Amerika Serikat yang sukses memasukan sistem olahraga di tingkat perguruan tinggi.

John Lee dalam tulisan berjudul ‘China’s New Goal: Becoming The Next Soccer Superpower’ yang dipublish Forbes menyebut bahwa kurikulum olahraga di sejumlah sekolah negeri di China memang banyak alami perubahan setelah anggota politbiro turba (turun ke bawah) ke provinsi-provinsi di China.

Selain perubahan kurikulum di satuan pendidikan, anggota politbiro juga meminta pejabat lokal untuk menemukan ruang dan membangun lapangan agar pertandingan sepakbola di tingkat lokal bisa terlaksana.

Maka tidak mengherankan jika kemudian kota Guangzhou, basis klub Guangzhou Evergrande masuk dalam buku rekor dunia karena memiliki murid sepakbola terbanyak yakni 2500 siswa. Seperti dilansir dari qyrb.com, terdapat 81 akademi sepakbola, 2000 meter persegi tempat gym, dan 1.100 hektare lapangan hanya untuk kota Guangzhou.

Selain itu, dilansir dari f.dataguru.cn, kebijakan untuk menemukan bibit muda untuk Timnas juga dilakukan dengan program ‘China Education Televison’.

Ini merupakan program yang digagas oleh salah satu televisi di China untuk mencintai sepakbola dan mempromosikan secara bombastis pembangunan Timnas China.

"Masa depan pemuda China ialah sepabola. Sepakbola ialah lahan subur untuk pemuda China. Kami berharap bisa menarik lebih banyak orang untuk berpartisipasi dalam sepakbola China," kata Fang Yu, produser program 'China Education Television'.

Program yang telah diluncurkan pada 03 Januari 2016 ini menyasar anak perempuan dan laki-laki dari tingkat sekolah dasar. Gol besarnya ialah menciptakan pemain lokal China berkualitas untuk Timnas.

Kiper Asing Haram

China kini berada di rangking 82 dunia. Trendnya sejak alami keterpurukan di 2008, Timnas China secara perlahan alami peningkatan, meski harus kembali terpuruk secara rangking di 2014.

Momentum di 2014 memang jadi perubahan besar di level Timnas China. Meski gila-gilaan mendatangkan pemain top Eropa di Liga Super China, ada satu kebijakan menarik yang ditetapkan federasi sepakbola China untuk kepentingan Timnas.

Kebijakan tersebut ialah melarang klub Liga Super China datangkan kiper dari luar China, kebijakan ini sebenarnya sudah diterapkan pada 2011 lalu. Tujuannya sangat jelas, China ingin membentuk kiper asli China yang berkualitas.

Timnas China diproyeksi untuk bisa bersaing dengan negara di Eropa dan Amerika Selatan, mereka harus memiliki penjaga gawang asli yang sudah memiliki jam terbang tinggi karena terbiasa melawan pemain top Eropa di Liga Super China.

Kebijakan ini terbilang jadi hal yang sangat tepat. Jonathan White dalam artikelnya berjudul ‘Wings clipped: Why China’s home bird goalkeepers could be holding back the national team’s World Cup dream’ menyebut pelarangan kiper asing berdampak pada kiper asli China.

Zhang Sipeng, ialah satu kiper potensial China yang mendapatkan efek positif dari kebijakan tersebut. Ia jadi salah satu kiper di Liga Super China yang mampu clean sheet di beberapa pertandingan.

Tidak hanya Zhang Sipeng, Zeng Cheng ialah salah satu kiper lokal China yang memiliki skill bagus. Ia ikut berperan besar saat mengantarkan klubnya, Guangzhou Evergrande saat jadi juara Liga Champions Asia 2015 lalu.

Efek pelarangan kiper asing di Liga Super China langsung terasa di level Timnas. Sepanjang 2016, Timnas China hanya total kebobolan sebanyak 5 gol dari 9 pertandingan, baik laga persahabatan ataupun kualifikasi Piala Dunia 2018. 

Bahkan sejak kalah 2-3 dari Korea Selatan pada 01 September 2016 lalu, Timnas China hingga laga terakhir di tahun ini melawan Qatar pada 15 November 2016 lalu hanya satu kali kebobolan.

Bahkan jika dirunut dari 2013 misalnya, Timnas China  tidak pernah kebobolan lebih dari empat gol per satu pertandingan. Tercatat hanya empat kali, Timnas China kebobolan tiga gol di satu pertandingan sejak 2013 hingga 2016.

Membangun 7 Timnas

Selain pengembangan pemain muda, hingga pelarangan kiper asing di Liga Super China, federasi sepakbola China juga membentuk 7 tim nasional.

China saat ini memiliki Timnas senior pria, Timnas U-23 pria, Timnas U-19 pria, Timnas U-17 pria, Timnas senior perempuan, Timnas U-20 perempuan, dan Timnas U-17 perempuan.

Ketujuh Timnas China ini memiliki program berbeda untuk meningkatkan kualitas. Di level pemain muda, China mengirimkan anak-anak berbakatnya untuk mencuri ilmu di akademi sepakbola di negara yang memiliki kultur asli sepakbola negara tersebut.

Masuknya sejumlah pemain berlabel bintang ke Liga Super China ternyata diimbangi oleh pengurus klub dan pengurus federasi sepakbola China dengan mengembangkan potensi pemain muda mereka.

Klub sekaliber Shanghai Shenhua misalnya, akademi klub ini mempunyai program ke Jerman, Belanda, dan Brasil untuk melakukan tur selama dua bulan.

Selain itu, tim Shanghai U-15 yang saat ini berjumlah 35 anak-anak acapkali berlatih ke Inggris, tepatnya di Birmingham, Aston Villa, dan West Brom.

Sementara itu, konsultan sepakbola China, Sammy Yu dari Goal Global Grup yang acapkali bekerjasama dengan klub sepakbola China mengatakan sepakbola China memiliki keberimbangan antara membeli pemain bintang dan pengembangan pemain muda.

“Datangnya pemain bintang juga menjadi inspirasi bagi pemain muda kami. Kami memang ingin menciptakan hubungan yang jangka panjang dengan antara klub China dengan klub asal Inggris,” kata Sammy Yu.

Selain mengurus berkembangnya pemain muda, federasi sepakbola China juga punya cara jitu untuk menekan membludaknya pemain ekspor dari Eropa. Salah satunya ialah membatasi kuota pemain asing di sebuah klub.

Seperti dilansir dari atimes.com, rencananya satu klub di Liga Super China hanya diperbolehkan memiliki 4-5 pemain asing. Ini dilakukan demi mengimbangi neraca keuangan klub di China.

"Datangnya pemain asing ke klub di China memang berdampak bagus untuk pengalaman pemain lokal, namun kami juga harus menjaga neraca keuangan dari satu klub," tulis pernyataan federasi sepakbola China. 
Advertisements