Nama-nama seperti Ortizan dan Boaz Solossa, Imanuel Wanggai, Ian Kabes, serta Titus Bonai merupakan generasi tanah Papua yang memiliki talenta hebat di lapangan hijau. Jauh ke belakang, ada nama Daniel Hanasby yang disebut-sebut sebagai pemain Papua pertama yang main di Belanda. Tanah Papua merupakan tanah yang banyak hasilkan pesepakbola hebat.

Tanah Papua dengan keindahan dan kekayaan alamnya tengah jadi bahan perbincangan usai aksi diplomat muda, Nara Masista Rakhmatia beri pernyataan keras kepada 6 pimpinan negara di sidang Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) terkait kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua.

Terlepas dari itu semua, tanah Papua tidak hanya memiliki keindahan dan kekayaan alam. Tanah Papua juga memiliki bakat-bakat hebat di sepakbola. Timnas Indonesia dari tahun ke tahun selalu diisi oleh anak-anak muda hebat Papua yang memiliki skill sepakbola di atas rata-rata.

Nama-nama seperti Boaz Solossa, Imanuel Wanggai, Ian Kabes, dan Titus Bonai jadi contohnya. Jauh ke belakang, tanah Papua bahkan sempat mengirim pemain bernama Daniel Hanasby untuk bermain di negeri Belanda (sejumlah sumber mengonfirmasi hal tersebut, salah satunya sepakbolanda.com).

Jika di Maluku, kita mengenal kampung Tulehu sebagai kampung sepakbola orang Maluku, maka di Papua ada kawasan yang disebut-sebut sebagai pusat sepakbola modern masyarakat Papua. Kawasan itu bernama, kawasan Miei yang terletak di teluk Wondama.

Sejumlah blog pribadi orang Papua mengisahkan bahwa kawasan Miei pada saat Jayapura masih bernama Hollandia merupakan kampung yang paling banyak menyumbang taleta berbakat di bidang sepakbola.

Peran para pastur

Pada era 1910-an, kawasan Papua merupakan salah satu kawasan yang jadi penyebaran agama Kristen. Para zendeling yang kebanyakan berasal dari Belanda dan negara Eropa lainnya datang ke Papua untuk sebarkan agama Kristen.

Pada 1917 seperti dikutip dari tulisan Hanggua Rudi Membri, dibangun sekolah zending di Kwawi, selanjutnya di kawasan Serui pada 1948 kembali dibangun sekolah untuk mencerdaskan anak-anak pribumi Papua.

Sebelum sekolah di Serui dibangun, Izaak Samuel Kijne membangun sekolah untuk guru di kawasan Miei pada 1925. Sekolah guru inilah yang kelak jadi embrio sepakbola modern di tanah Papua.

Sebenarnya sepakbola sudah mulai diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda namun hanya di pusat kota Jayapura (dulu masih bernama Hollandia). Di pelosok, sepakbola masih jadi olahraga baru untuk masyarakat lokal.

Peran dari Izaak yang disebut masyarakat lokal sebagai orang suci membukakan mata banyak anak muda Papua bahwa mereka diberi anugrah kehebatan mengolah si kulit bundar di lapangan hijau.

Kiper pertama dan bergulirnya kompetisi

Sumber-sumber dari tulisan orang Papua terkait sepakbola di tanah kelahirannya menyebut bahwa dari kawasan Miei muncul kiper pertama putra Papua, ia adalah Gustaf Adolf Lanta.

Sayang penelusuran penulis belum menemukan rekam jejak Adolf Lanta sebagai kiper. Tidak diketahui ia bermain untuk klub apa dan di tahun berapa.

Terlepas dari hal tersebut, sepakbola pun jadi olahraga populer bagi anak Papua saat itu pasca didirikannya sekolah guru di kawasan Miei. Kompetisi sepakbola pun mulai bergulir.

Kompetisi yang biasanya hanya berlangsung di Jayapura dan tempat-tempat sekitarnya kala itu berubah. Kompetisi di tingkatan lokal sudah mulai berlangsung.

Kala itu sepakbola memang hanya jadi domain masyarakat Belanda dan Papua yang tinggal di Jayapura dan sekitarnya. Jayapura jadi rumah bagi dua asosiasi sepakbola Papua saat itu, Voetbalbond Hollandia en Omstreken (VHO) yang hanya untuk pemain Belanda dan Eropa lainnya, dan Voetbal Obligasi Hollandia (VBH), dimana masyarakat lokal bisa diperbolehkan berkarier lewat kompetisi yang digagas VBH.

Pada era 50-an, kompetisi sepakbola mulai dijalankan oleh VBH. Sejumlah taletan berbakat dari pelbagai klub di pelesok pun mulai jadi bahan perbicaraan seperti,: Karel Pahalerang dari Club Ajapo I Sentani, Lamberth Rumbiak, dari Club DVG (Dienst van Gezondheidzorg (Dinas Kesehatan Hollandia), Theo Daat dari Club MVV/PMS (Missie Voetbal Vereniging), dan masih banyak lagi.

Mereka-mereka ini yang kemudian jadi pondasi pemain generasi pertama di VBH yang kemudian bermetamorfosa jadi klub terhebat di kawasan Pasifik.

Tour ke Eropa

Talenta-talenta berbakat tanah Papua yang berawal dari munculnya sekolah pendidikan di Miei mulai bersaing di kompetisi lokal, sebagai pengurus sepakbola, VBH pun memiliki sejumlah program jitu untuk terus mengasah skill para pemain.

Seperti dilansir dari bintangpapua.com. salah satu programnya adalah tour ke Eropa untuk melawan latih tanding. Pada 1960, tim-tim yang tergabung di VBH bertanding melawan tim sepakbola Papua New Guinea, laga ini jadi ajang persiapan untuk mereka tanding di Pasifik Games tahun itu berlangsung di Fiji. Hasilnya, VBH sukses cukur lawan dengan skor telak 6-1.

Bahkan untuk terus mengasah skill, VBH sampai mengundang wakil dari komisi teknik Ajax untuk melihat skill putra Papua. Hasilnya?

Beberapa klub sepakbola di Belanda tertarik untuk mengontrak beberapa pemain, yakni Karel Pehelerang dan Theo Daat ke Ajax Asterdam serta Dominggus Waweyai ke PSV Eindhoven, namun karena situasi politik pada saat itu manajemen VBH mendapat kabar bahwa semua rencana gagal karena suhu politik Belanda dan Indonesia semakin panas dan menegangkan.

Meski Karel Pehelerang dan Theo Daat gagal ke Eropa, sebenarnya ada putra asli Papua yang sukses berangkat ke Belanda untuk berkarier sepakbola. Ia bernama Daniel Hanasbey.

Seperti dilansir dari sepakbolanda.com, lewat berbagai tulisan koran lawas di arsip Belanda terlacak nama Daniel Hanasbey. Di Belanda, nama Hanasby atau terkadang ditulis Hanasbei menjadi pemberitaan ketika ia mendarat di Bandara Schiphol, Belanda pada Senin, 07 Desember 1959. Ia terbang dari pelabuhan udara Biak menumpangi pesawat KLM yang berangkat dari Sydney.

Tiba di Belanda, Hanasbey yang juga berprofesi sebagai pekerja administrasi Dinas Pengairan di Papua ini diterima masuk ke skuat HVC Amersfoort, salah satu klub tertua di Belanda dan saat itu HVC tengah bertarung di kompetisi profesional.

“Hanasby menjalani beberapa laga memperkuat HVC Amersfoort, dengan status sebagai pemain kontrak semi profesional.” tulis Eka Tanjung di sepakbolanda.com.

Advertisements