Pernah menjadi kampiun divisi satu Galatama pada 1992, kondisi sepakbola di Bengkulu terbilang cukup memprihatinkan. Didirikan pada 1970, klub ini bahkan sempat dirumorkan ditutup karena terkendala dana. Sekarang setelah PSSI dipimpin oleh Edy Rahmayadi yang berlatarbelakang militer, bagaiamana nasib PS Bengkulu saat ini?

Sepakbola Bengkulu yang beberapa tahun kebelakang jarang terdengar kabarnya, mendadak jadi sorotan. Bukan karena prestasi namun karena insiden memalukan yang dilakukan oleh pemain dari salah satu klub sepakbola di Bengkulu, PS Bengkulu Tengah (PS Benteng), Cholid Dalyanto bertindak kasar hingga memukul dan menginjak kepala wasit saat tim ini bermain di Liga Nusantara melawan Persiku Kudus pada November 2016 lalu.

Kabar buruk tersebut sempat mereda. Jelang pergantian tahun 2016, angin segar tertiup bagi kondisi sepakbola Bengkulu. Bengkulu yang memiliki klub sepakbola bernama PS Bengkulu memiliki ketua umum pengurus cabang PSSI.

Pengcab PSSI kota Bengkulu seperti dilansir dari rbtv.co.id kini dipimpin oleh Kapten Inf Akhirudin. Danramil Selebar Bengkulu ini terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Cabang (Muscab) PSSI yang berlangsung di Bengkulu, 28 Desember 2016 lalu.

Terpilihnya Kapten Inf Akhirudin sebagai Ketua Umum Pengcab PSSI Bengkulu ini mendatangkan sejumlah perubahan. Wakil Ketua Asprov Bengkulu, Syamsurizal Idris seperti dilansir harianrakyatbengkulu.com mengatakan terpilihnya Kapten Akhirudin juga meresmikan PSSI Kota Bengkulu berubah nama menjadi Assosiasi PSSI Kota (Askot) Bengkulu, sesuai dengan nomenklatur yang telah ditentukan oleh PB PSSI.

“Jadi setelah ini nama PSSI Kota resmi menjadi Askot Bengkulu, dan ke depannya nama Muscab pun akan berganti menjadi Kongres Askot Bengkulu. Selamat kepada Ketua Umum Askot Bengkulu terpilih, semoga bisa memberikan harapan baru dalam memajukan sepakbola Kota Bengkulu,” kata Syamsurizal.

Selain itu yang tidak kalah penting dengan terpilihnya Kapten Inf Akhirudin juga datangkan angin segar untuk perkembangan salah satu klub Bengkulu yang lain, PS Bengkulu, klub asli kota Raflesia yang pernah mencicipi gelar juara divisi satu Galatama pada 1992 silam.

Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi PS Bengkulu memang terbilang cukup memperhatinkan. Masalah klasik, soal dana jadi hal yang menghambat perkembangan sepakbola Bengkulu, PS Bengkulu khususnya.

Meski terseok-seok karena kondisi dana, PS Bengkulu masih bertarung di Indonesia Soccer Championship (ISB) B. Sayang kiprah PS Bengkulu di ISC B hanya sampai di sampai di babak kualifikasi Grup 2. PS Bengkulu hanya mampu meraih 2 kali kemenangan, 3 kali imbang, dan 5 kali menelan kekalahan.

Meski begitu semangat masyarakat pencinta sepakbola di Bengkulu tak pernah surut. Akar sepakbola diciptakan dari tingkatan junior, bibit sepakbola dari putra asli Bengkulu coba digulirkan.

Berikut ulasan sepakbola Bengkulu utamanya PS Bengkulu serta visi misi dari Ketua Pengcab PSSI Bengkulu yang anyar, Kapten Inf Akhirudin:

Mengenang sejarah kejayaan Sepakbola Bengkulu

PS Bengkulu berdiri pada 1970 silam, dalam perjalanannya PS Bengkulu sempat alami masa kejayaan kala meraih gelar juara divisi satu Galatama pada 1992 silam.

Pada awal berdirinya, PS Bengkulu bernama Persatuan Sepak Bola Empang Kahulu (Persipang), baru pada 1983 nama PS Bengkulu digunakan. Perubahan nama itu agar mewakili keseluruhan daerah di Bengkulu.

Sebelum meraih gelar pada 1992, PS Bengkulu juga sempat meraih posisi kedua di kompetisi divisi I pada 1984 silam. Hasil ini membuat PS Bengkulu berhak tampil di divisi utama bersama 12 klub elit Indonesia lainnya.

PS Bengkulu saat itu berada di grup timur, bersama dengan klub-klub besar seperti Persebaya Surabaya, Persipura, PSM Ujung Pandang, Persema Malang, dan PSIS Semarang.

Saat main di Divisi Utama Perserikatan ini, PS Bengkulu dilatih nama besar dari Belanda. Ia adalah Jan Zwartkruis. Sepak terjang Zwartkruis cukup mengkilap. Ia pernah menjabat sebagai asisten pelatih Ernst Happel saat Belanda meraih runner up Piala Dunia 1978.

Syamsurizal Idris, eks Adminstrator PS Bengkulu seperti dilansir bengkuluekspress.com mengkisahkan bahwa PS Bengkulu juga pernah meraih gelar Piala Caltex pada 1997 silam.

”Dengan sejumlah prestasi itu, PS Bengkulu sangat disegani di tingkat nasional. Dan pada tahun 1997 PS Bengkulu juga berhasil menjuarai piala Caltex di Pekan Baru,” terangnya.

Bahkan pada 1987, PS Bengkulu berkesempatan untuk melawan Timnas Brasil junior dalam laga persahabatan. Kedua tim bertanding di Stadion Sawah Lebar.

Menariknya, tidak hanya PS Bengkulu yang berprestasi, di era 80-an Bengkulu juga memiliki 2 wasit berlisensi Federation of International Football Association (FIFA). Kala itu Indonesia hanya memiliki 4 wasit berlisensi FIFA, dua wasit dari Bengkulu itu ialah Zulkifli Chaniago dan Adnan Setiawan.

Kekinian sepakbola Bengkulu juga memiliki pelatih berlisensi Asian Football Confederation (AFC), ia adalah M Nasir. Tidak banyak pelatih yang memegang lisensi A dari Asian Football Confederation (AFC), hanya 66 orang, dan salah satunya ialah Nasir. Nasir pernah melatih PS Bengkulu namun ia memilih mundur pada Juli 2016 lalu.

Tak mampu bayar sewa kamar hotel

Dana memang jadi masalah klasik yang acapkali dihadapi oleh klub sepakbola negeri ini. Sejak Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) 59 tahun 2006 berlaku, pemerintah daerah memang dilarang memberi bantuan dana kepada klub sepakbola profesional.

Bagaimana untuk klub amatir dan semi profesional? Saat Jokowi berkuasa, eks Gubernur DKI Jakarta ini memerintahkan agar Menteri Dalam Negeri memberikan bantuan dana dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) untuk klub berkategori amatir.

Sayangnya, hal itu tidak bisa langsung dirasakan efeknya oleh klub-klub lokal daerah yang selama ini menggantungkan keuangannya dari dana APBD seperti PS Bengkulu misalnya.

PS Bengkulu bahkan saat bertanding di ISC B 2016 seperti dilansir dari grup fans mereka di media sosial menyebut bahwa skuat klub berjuluk Tobo Kito ini pernah kesulitan untuk bisa membayar sewa kamar hotel saat laga tandang.

“Sedangkan di penginapan saat ini sangat menyedihkan melihat pemain PS Bengkulu harus tidur satu kamar diisi 5 orang, harga sewa 1 kamar Rp 100.000/hari. Itu semua di lakukan PS Bengkulu karena keterbatasan dana,” tulis fanspage PS Bengkulu.

Krisis finansial memang tengah dirasakan oleh PS Bengkulu. Bahkan untuk bisa menutup biaya selama berlaga di ISC B, kelompok suporter PS Bengkulu, Panglimania, menggalang bantuan dana.

Sayangnya semangat yang tengah dibangun oleh barisan suporter PS Bengkulu justru dijawab oleh pemerintah daerah dengan rencana membuat klub anyar bernama Rafflesia FC.

“Nanti ada Rafflesia FC. Jadi memang kita ingin membangun sebuah tim sepakbola baru,” kata Gubernur Bengkulu, Ridwan Mukti seperti dilansir dari harian Raykat Bengkulu, edisi 24 Agustus 2016.

Hal ini tentu saja jadi pro kontra bagi suporter PS Bengkulu. Sebagian besar mengkritik keinginan dari Ridwan Mukti. Mereka menganggap bahwa tindakan tersebut tidak masuk akal, selain itu menutup PS Bengkulu dan menggantinya jadi Rafflesia FC juga membuat identitas klub sebagai ciri khas dari kota Bengkulu jadi menghilang.

Penciptaan bibit muda sejalan dengan visi misi Ketum Anyar

Kendala dana yang jadi masalah klasik bagi klub di Indonesia, begitu juga yang dialami PS Bengkulu. Namun, semangat untuk tetap memanjukan sepakbola lokal patut mendapat apresiasi dan perhatian dari pihak terkait.

Mendidik talenta muda di lapangan hijau jadi pusat perhatian PS Bengkulu. PS Bengkulu tak pernah surut untuk mengirimkan anak-anak muda Bengkulu untuk bertanding di daerah lain.

Pada November 2016 lalu, PS Bengkulu junior yang diisi pemain asli Bengkulu tetap mengikuti Piala Soeratin junior. Meski tanpa bantuan dana dari pemerintah daerah, para pemain besutan duet pelatih Martos dan Nugroho TP ini tetap bertanding untuk mengejar jam terbang bertanding.

Gebrakan dari PS Bengkulu segaris dengan visi misi Kapten Akhiruddin sebagai ketua anyar Askot PSSI Bengkulu. Akhiruddin yang dilantik beberapa waktu lalu sudah memiliki rencana 4 tahun ke depan.

Talenta muda jadi sorotan bagi Akhiruddin. Ia ingin menciptakan kompetisi sepakbola di Bengkulu dari berbagai tingkatan umur.

“Seperti apa komitmen kita akan kompetisi ini. Apakah fokus kita pada hadiah atau prestasi para pemain? Karena kompetisi yang akan dilaksanakan nantinya adalah berjenjang, mulai dari tingkat SSB, remaja, SMA, hingga klub amatir yang ada,” kata Akhiruddin.

Hal itu juga yang dilakukan senior Akhiruddin, Letjen Eddy Rahmayadi yang memimpin PSSI. Edy pun berbenah pasca Timnas Indonesia kembali jadi runner up di Piala AFF beberapa waktu lalu.

Blueprint dari Eddy salah satunya ialah soal database pemain muda di Indonesia.

“Nantinya akan saya bagi menjadi tiga sektor. Sektor Indonesia bagian barat, tengah, dan timur. Barat dari mulai Sabang sampai ke Lampung. Lalu bagian tengah dari Jawa dan Kalimantan. Serta bagian Timur mulai dari Bali sampai ke Papua,” ujar Eddy.

“Zona-zona ini akan melahirkan setiap tahun pemain-pemain dari mulai usia 15 tahun, 17 tahun, dan 19 tahun dan akan dimasukkan ke database.”

Advertisements