Berstatus sebagai pesepakbola, nama Beb Bakhuys ialah satu dari sekian banyak orang Eropa yang lahir di tanah jajahan. Bakhuys lahir di Pekalongan, Jawa Tengah saat Indonesia masih dijajah bangsa kolonial Belanda.

Kala Indonesia masih menjadi daerah jajahan bangsa kolonial Belanda, sejumlah orang yang lahir di negeri dikenal dengan sebutan nama Belanda Totok.

Belanda Totok ialah sebutan untuk anak yang lahir di negeri jajahan seperti Indonesia namun memiliki ayah dan ibu yang asli berdarah Belanda. Sebutan Belanda Totok juga biasa diungkap kepada orang asli Belanda yang baru datang ke Indonesia saat negeri ini masih bernama Hindia Belanda.

Dari sejumlah literatur berbahasa Belanda, terdapat banyak tokoh yang jika ditelusuri latar belakangnya ialah seorang Belanda Totok. Dari kalangan intelektual kita mengenal nama Eduard Douwes Dekker atau yang lebih dikenal dengan nama Multauli.

Tidak hanya dari kalangan intelektual, politikus, ataupun public figure lainnya, garis keturunan Belanda Totok juga terdapat di skuat Timnas Belanda.

Salah satunya yang mungkin jarang didengar ialah pesepakbola era 30-40an, Beb Bakhyus. Nama pemain kelahiran Pekalongan, 16 April 1909 ini terbilang cukup spesial, pasalnya di Negeri Kincir Angin, ia dianggap sebagai salah satu legenda.

Siapa sebenarnya Bakhuys? Apa saja kontribusi yang ia berikan untuk Timnas Belanda? Bagaimana kariernya di level klub?

Dari Pekalongan ke Den Haag

Lahir di Pekalongan di saat Indonesia masih bernama Hindia Belanda, Bakhuys memulai karier profesionalnya di klub bernama HBS Craeyenhout. Klub yang berbasis di Den Haag, Belanda.

Di era Bakhuys memulai karier, HBS merupakan salah satu klub kuat di Belanda. Klub ini tercatat telah memenangkan tiga gelar juara liga Belanda yakni 1903/04, 1905/06, dan 1924/25.

Saat HBS meraih gelar juara terakhirnya, Bakhyus masuk dalam jajaran skuat, ia tercatat melakoni 9 laga dan mencetak 6 gol.

Sejumlah literasi media Belanda era 30-an seperti disadur dari hartvannederland.nl menyebut sebagai seorang penyerang Bakhuys sedari awal memulai debutnya sudah menarik perhatian banyak pihak.

Bakhuys disebut jadi sedikit pemain di era tersebut yang memiliki tendangan keras mematikan dari jarak 30-40 meter, selain itu ia memiliki kemampuan yang bagus dalam hal dribling bola. Bakhuys juga tipikal penyerang tengah yang mampu mencari celah dan mencari ruang kosong di sektor pertahanan lawan.

Naik kapal uap ‘demi’ bela Surabaya

Ada kisah menarik yang dituliskan media Belanda era 1930-an soal hijrahnya Bakhuys dari Belanda kembali menuju Hindia Belanda.

Seperti dilansir javapost.nl, Bakhuys rela naik kapal uap Patria menuju Batavia. Mengapa ia lakukan itu? Padahal setelah membela HBS, Bakhuys sempat membela ZAC (cikal bakal dari klub PEC Zwolle).

Bakhuys memang tercatat hanya sampai umur 7 tahun di Hindia Belanda. Sang ayah, Bakhuys van der Mandele seorang pekerja di pabrik gula di daerah Tegal memilih memboyong anak-anaknya ke Belanda pasca kematian sang istri.

Uang jadi tujuan utama Bakhuys hingga rela kembali ke Hindia Belanda. Tiba di Batavia, ia mendapatkan pekerjaan di Batavia Petroleum Company dan ditempatkan di Surabaya.

Keinginannya untuk terus bermain sepakbola bisa sedikit terobati setelah tiba di Surabaya, ia sempat bergabung dengan klub amatir sepakbola bernama Tot Heil Onzer Ribbenkast (THOR). Seperti dilansir dari
indisch4ever.nu, Thor ialah klub sepakbola yang didirikan orang Belanda dan cukup eksis di era tersebut utamanya di Pulau Jawa.

Beberapa bulan kemudian, seperti dilansir dari javapost.nl, Bakhuys dipercaya masuk tim sepakbola Surabaya melawan Semarang.

Masuknya Bakhuys di skuat Surabaya sukses membuat tim tersebut menang telak 11-1 atas Semarang di laga persahabatan.

“Dia (Bakhuys) mencetak 6 gol saat itu. Ia memiliki kecepatan yang luar bisa. Penonton di sore itu begitu berdecak kagum dengan skill-nya. Lapangan saat itu penuh sesak orang-orang yang ingin menyaksikan pertandingan,” tulis javapost.nl

Pemain kedua Belanda yang berkarier di Eropa

Catatan sejarah yang dilansir dari javapost.nl menyebutkan bahwa perusahaan yang mempekerjakan Bakhuys alami kebangkrutan.

“Dewan kehakiman Surabaya menyatakan kebangkrutan untuk perusahaan itu,”

Hal ini yang kemudian mendorong Bakhuys pulang kembali ke Belanda. Tiba di Belanda pada 1933, pemain bernama lengkap Elisa Hendrik Bakhuys membela klub lamanya, ZAC.

Setelah sempat membela Venlose Voetbal Vereniging (VVV) setengah musim yakni 1937, datang tawaran kontrak dari klub asal Prancis, FC Metz.

Tanpa berpikir panjang, Bakhuys pun mengambil tawaran kontrak tersebut. Ia membela klub Metz sejak 1937 hingga 1946. Bergabungnya Bakhuys ke Metz mencatatkan dirinya sebagai pemain kedua asal Belanda yang berkarier di Eropa.

Karier Bakhuys di Metz terbilang cukup sensasional, namanya tercatat di Golden Book milik klub. Bahkan Metz menyebut bahwa Bakhuys ialah sosok pemain yang sejajar dengan seorang Johan Cruyff.

Seperti dilansir situs resmi klub, fcmetz.com, pada musim 1945/1946, Bakhuys memainkan 1440 menit. Ia mencetak 5 gol dari 16 pertandingan yang dilakoni.

‘Ajari’ van Persie sundulan terbang

Ingat dengan gol fantastis yang dilakukan oleh Robin van Persie ke gawang Spanyol di Piala Dunia 2014 lalu? Eks penyerang Man United itu membuat kagum dunia dengan cara tak biasanya menyundul bola.

Namun rupanya hal itu juga pernah dilakukan senior van Persie di Timnas. Bakhuys disebut-sebut ialah pemain pertama Belanda yang melakukan sundulan terbang jauh sebelum van Persie dilahirkan.

Seperti dilansir hartvannederland.nl, pada 11 Maret 1934, Bakhuys mencetak gol yang mirip dengan gol van Persie saat pertandingan Belanda vs Belgia di Stadion Olympic.

“80 tahun sebelum van Persie cetak gol dengan cara seperti itu, Bakhuys juga melakukan hal serupa. Gol indah ialah satu dari 9 gol yang dicetak Belanda ke gawang Belgia di pertandingan itu,” tulis hartvannederland.nl

Satu-satunya pembeda dari gol tersebut ialah menit terciptanya gol. Jika van Persie mencetak gol ke gawang Spanyol pada menit ke-44, Bakhuys mencetaknya pada menit ke-15.

Karier Bakhuys di Timnas Belanda memang tergolong mengkilap. Ia disebut sebagai salah satu legenda Orange di era tersebut. Selama membela Belanda, ia mencetak 28 gol dari 23 pertandingan.

Nama Bakhuys juga tercatat sebagai skuat Timnas Belanda yang bermain di Piala Dunia pertama 1934 di Uruguay. Sayang di perhelatan ini, Belanda dikalahkan Swiss dengan skor 2-3.

Advertisements