Saat Sosial Media jadi Kekuatan untuk Olahraga

Kala Mark Zuckerberg mendirikan Facebook beberapa waktu lalu, penemuan tersebut bisa disebut sebagai salah satu ‘keajaiban dunia’ abad ke-20. Konsep Zuckerberg dan rekan-rekannya saat menciptakan Facebook tidak hanya terfokus pada jejaring sosial,namun menangkap dinamika yang berkembang di tengah masyarakat.

Dinamika ini yang kemudian masuk dalam platform bisnis para penemu sosial media, tak terkecuali Zuckerberg dengan Facebook miliknya. Salah satu dinamika yang mereka tarik ke platform bisnis mereka ialah olahraga.

Dikutip dari sportspromedia.com, saat masyarakat dunia sangat membutuhkan informasi yang cepat terkait perkembangan klub sepakbola favorit mereka, atau soal hasil pertandingan, di situlah sosial media hadir untuk jadi bagian pemenuh kebutuhan masyarakat tersebut.

Kondisi ini memang tak bisa dipungkiri dari efek kemajuan teknologi. Twitter, ‘pesaing’ Facebook misalnya menyebut bahwa mereka akan selalu menjaga followers mereka yang sangat dekat dan membutuhkan informasi olahraga.

 Ilustrasi penggunaan sosial media di kalangan pencinta olahraga.

“Satu-satunya cara ialah terus menyajikan konten olahraga dengan bermitra dengan sejumlah media olahraga ataupun klub olahraga,” kata Danny Keens, kepala Twitter bagian kemitraan olahraga.

Twitter memang tak dipungkiri saat ini jadi pelengkap alami dari hidup olahraga. Tweet-tweet tentang olahraga akan selalu jadi trending hampir tiap hari.

Menariknya tidak hanya sepakbola saja yang menjadi trending di Twitter, olahraga lain yang tidak terlalu populer pun bisa jadi trending di Twitter. Sebagai contoh, saat perhelatan Piala Dunia Rugby beberapa waktu lalu, Twitter mencatat ada 6,8 miliar tweet tentang rugby saat itu.

Twitter bahkan selangkah lebih maju untuk menarik pencinta olahraga. Penggunaan hastag misalnya yang jadi bagian dari fitur mereka untuk para followers-nya.

Untuk tingkatan kompetisi, baik Facebook maupun Twitter akan bekerjasama dengan media olahraga ataupun badan yang mengurus kompetisi tersebut.

Alur saat pencinta olahraga menshare video olahraga ke sosial media.

“Elemen kedua yang membuat kami (sosial media) jadi kekuatan untuk olahraga saat ini ialah kami bermitra secara resmi untuk sejumlah kompetisi seperti Super Bowl di Amerika Serikat ataupun Liga Champions,” kata Dan Reed, perwakilan Facebook yang mengurus kemitraan olahraga.

Reed menambahkan saat perhelatan Super Bowl, Facebook secara resmi bekerjasama dengan National Football League (NFL) dan salah satu media olahraga ternama Amerika Serikat, NBC.

Dalam banyak kasus untuk kemitraan ini, Reed menyebut bahwa Facebook menciptakan dan berbagi jaminan pemasaran yang saling menguntungkan. Tidak hanya memfasilitasi saluran komunikasi dengan pencinta olahraga namun juga bagaimana secara omset juga memiliki dampak.

“Golden State Warrios misalnya memanfaatkan alat pemasaran Facebook dengan keterlibatan organik. Untuk penjualan tiket, penjualan jersey dan sebagainya. Itu menguntungkan untuk manajemen Golde State Warriors,” kata Reed.

Sosial media memang sudah jadi kekuatan yang sangat nyata untuk perkembangan satu olahraga. Sederhananya, sebuah studi di India mengungkap fakta bahwa sembilan dari sepuluh pengguna Twitter ialah penggemar olahraga kriket.


Fakta lain soal sosial media dan olahraga.

“Twitter telah berkembang menjadi media di mana Anda tinggal mengetik 140 karakter, men-share foto, video atau GIF tentang klub sepakbola atau pemain favorit Anda,” kata Aneesh Madani, perwakilan Twitter di India.

Keunggulan yang dimiliki sosial media ini kemudian membawa kita bisa melihat bagaiamana laga final Piala Dunia 1990 misalnya, atau dokumentasi foto saat Pele menjuarai Piala Dunia bersama Brasil.

Advertisements

Inter: Berawal dari Protes dan ‘Dikuasai’ Orang Indonesia

Jika kita mengatakan bahwa ‘kiblat’ untuk sepakbola dunia ialah Italia tentu tidak salah. Pasalnya sejak abad ke-19, negara ini sudah memiliki klub dan kompetisi sepakbola.

Salah satu kota di Italia yang memiliki klub sepakbola di abad ke-19 ialah kota Milan. Kota yang disebut sebagai pusat fashion dan mode dunia ini memiliki Associazione Calcio Milan yang berdiri pada 16 Desember 1899. Kala itu, AC Milan jadi satu-satunya klub sepakbola dan kriket di kota tersebut.

Berdirinya AC Milan tidak lepas dari peran orang Inggris bernama Alfred Edwards dan Herbert Kilpin, dua pria asli Nottingham. Maka sejak berdirinya AC Milan lebih banyak didominasi pemain Inggris dan Italia.

Masalah ini yang kemudian mendorong sejumlah pemuda asli kota Milan dan Swiss untuk mendirikan klub lain. Klub yang bisa menampung sejumlah pemain di luar Inggris dan Italia yang dipinggirkan oleh AC Milan.

Para pemuda berkewarganegaraan Swiss dan Italia yang mendirikan Inter Milan.

Giorgio Muggiani, Bossard, Lana, Bertoloni, De Olma, Enrico Hintermann, Arturo Hintermann, Carlo Hintermann, Pietro Dell’Oro, Hugo dan Hans Rietmann, Voelkel, Maner, Wipf, dan Carlo Arduss, ialah para ‘sang pencerah’ yang mendirikan klub baru bernama Internazionale.

Tepat hari ini, 09 Maret 2017, 109 tahun lalu, Internazionale resmi berdiri. Giorgio yang saat itu berprofesi sebagai pelukis kemudian merancang logo klub yang dipakai hingga detik ini.

“Hitam dan biru dengan latar belakang bintang emas itu akan disebut Internazionale, karena kita adalah saudara dari dunia,” tulis pernyataan klub pada 09 Maret 1908.

Darah pemberontak dan rezim fasis

Sebagai klub ‘pemberontak’, Internazionale tercatat sebagai klub yang pernah keluar dari Federasi Sepakbola Italia atau yang lebih dikenal FIGC. Internazionale keluar dari FIGC pada 1921.

Internazionale kala itu lebih memilih untuk bergabung dengan Confederazione Calcistica Italiana (CIC), organisasi tandingan FIGC. Bermain di kompetisi yang digulirkan CIC, Internazionale hanya mampu mengumpulkan 11 poin.

Beruntung bagi Internazionale, klub ini tidak terdegradasi setelah adanya kesepakatan bersama antara FIGC dan CIC untuk mengakhiri dualisme di sepakbola Italia, kesepakatan antar keduanya ini kemudian dikenal dengan nama Compromesso Colombo. Internazionale kembali ke pangkuan FIGC.

Perjalanan Internazionale di awal abad ke-20 memang lebih banyak didominasi dengan cerita pemberotakan dan bentrokan dengan penguasa fasis yang menguasai Italia.

Internazionale bahkan harus berganti nama oleh rezim fasis Italia yang dikuasai Benito Mussolini. Kala itu, Internazionale harus berganti nama menjadi Societa Sportiva Ambrosiana pada 1928. Selang setahun, nama itu kembali diubah menjadi AS Ambrosiana.

Pemilihan nama AS Ambrosiana dikarenakan petinggi klub menuruti perintah dari Benito Mussolini yang menginginkan klub sepakbola di Italia mempunyai nama yang khas Italia. Tidak berhenti disitu, nama  hanya bertahan sampai 1931, klub ini kembali memiliki nama baru yakni AS Ambrosiana-Inter.

Baru 3 tahun sebelum Indonesia merdeka, klub ini resmi meninggalkan nama AS Ambrosiana-Inter dan memakai nama Internazionale Milano hingga detik ini.

Dari Italia untuk Italia

Di awal berdirinya, Inter Milan dilatih oleh pria asli Milan, Virgilio Fossati. Fossati melatih Inter Milan dari 1909 sampai 1915. Di era kepelatihan Fossati, Inter Milan sukses memboyong trofi Serie A pertama pada musim 1909/10.

Usai Fossati tidak lagi melatih Inter pada 1915, klub ini tidak memiliki catatan sejarah siapa pelatih berikutnya. Baru pada 1919, muncul nama Nino Resegotti dan Francesco Mauro jadi pelatih Inter Milan. Dua pelatih ini sukses meraih gelar kedua Inter di Serie A pada musim 1919/20.

Setelah dua kali dilatih oleh pria Italia, Inter diasuh oleh pria asal Inggris, ia adalah Bob Spottiswood. Dilansir dari situs resmi klub dan buku karangan Ian King berjudul Crystal Palace: A Complete Record 1905–2011, Spottiswood merupakan pelatih kelahiran Carlisle, Inggris dan sempat tercatat sebagai pemain di Crystal Palace pada 1909 hingga 1915.

Usai Spottiswood tak lagi melatih dan Inter kembali dilatih pelatih asal Italia bernama Paolo Schiedler, Inter Milan tercatat dari 1926 hingga 1936 dilatih oleh 6 pelatih asal Hungaria.

Kursi kepelatihan Inter Milan memang terbilang cukup unik dengan diisi sejumlah pelatih dari luar Italia. Tercatat sejak berdiri hingga sekarang, Inter Milan sempat dilatih oleh 24 pelatih dari 9 negara non Italia.

Selain Inggris dan Hungaria, Inter sempat diasuh oleh pelatih dari Austria, Wales, Argentina, Spanyol, Rumania, Brasil, hingga Paraguay. Saat ini usai dipecatnya pelatih asal Belanda, Frank de Boer, Inter Milan kembali diasuh oleh pelatih asli Italia, Stefano Pioli.

Anak Jakarta Runtuhkan ‘Budaya’ 105 tahun

Sejak berdiri pada 09 Maret 1908, Inter Milan selalu dikuasai oleh Presiden klub asal Italia. Mereka seolah lupa hakekat berdirinya klub ini yakni, “karena kita adalah saudara dari dunia”.

Nama-nama seperti Giovanni Paramithiotti, Ettore Strauss, hingga Angelo dan Massimo Moratti jadi pemilik dari klub ini. Kesemuanya adalah orang Italia.

Pada 2013 atau tepat 105 tahun setelah berdiri muncul pria kelahiran Jakarta yang menggeser posisi Presiden Inter, Massimo Moratti yang sudah berkuasa sejak 1995. Pria itu bernama Erick Thohir.

September 2013, Massimo Moratti mengumumkan ke publik bahwa ia sudah menjual mayoritas sahamnya sebesar 70 persen ke Thohir. Namun setelah negosiasi panjang disepakati bahwa Thohir hanya menguasai 60 persen saham Inter Milan. 15 November 2013, era baru Inter Milan muncul setelah Thohir ditetapkan secara resmi sebagai Presiden Inter Milan.

Setelah tiga tahun memimpin Inter Milan pada Juni 2016, Thohir menjual sebagian besar sahamnya ke pengusaha lain, namun bukan pengusaha dari Italia melainkan dari Negeri Tirai Bambu, China yakni ke Suning Holding Grup yang dipimpin oleh Zhang Jindong.

Meski mendapat pro kontra di kalangan suporter dan internal Inter Milan, aksi Thohir ini seperti mengingatkan bahwa sejak berdiri Inter Milan ialah klub terbuka untuk semua orang dari belahan dunia mana pun.

“…karena kita adalah saudara dari dunia”

‘Kutukan’ 79 Tahun yang Buat Negara Asia Tenggara Absen di Piala Dunia

79 tahun terakhir sejak Hindia Belanda berkiprah di Piala Dunia 1938 sampai perhelatan Piala Dunia 2018 mendatang di Rusia, negara di kawasan Asia Tenggara selalu absen. Kawasan ini jadi garis terakhir dari pergulatan sepakbola dunia.

Pada perhelatan Piala Dunia 1938, Indonesia yang masih dalam jajahan bangsa kolonial Belanda, ikut ambil bagian. Saat itu Indonesia masih menggunakan nama Hindia Belanda.

Skuat Hindia Belanda saat itu datang ke perhelatan ketiga Piala Dunia dengan bermaterikan sejumlah pemain yang mayoritas berasal dari klub lokal seperti Hercules Batavia, Djocoja Djogjakarta, Sparta Bandung, serta SVV Semarang.


Timnas Hindia Belanda di perhelatan Piala Dunia 1938 (FIFA.com).

Meski kalah telak 0-6 dari salah satu kekuataan Eropa kala itu, Hungaria di babak pertama dan langsung tersingkir, penampilan Achmad Nawir dan kawan-kawan sempat mendapat ulasan khusus dari koran Prancis, L’Equipe edisi 06 Juni 1938.

“Gaya menggiring bola pemain depan Tim Hindia Belanda, sungguh brilian,” tulis laporan L’Equipe.

Sayang usai pertandingan Hungaria vs Hindia Belanda yang berlangsung di kota Reims pada 05 Juni 1938 itu hingga detik ini belum ada satu pun negara dari kawasan Asia Tenggara yang bisa tampil di pentas Piala Dunia.

Padahal kawasan ini memiliki 600 juta penduduk atau separuh dari jumlah populasi di dunia. Sepertinya federasi-federasi negara di kawasan Asia Tenggara cukup kesulitan untuk bisa mencari starting eleven terbaik demi maju ke pentas Piala Dunia.

Sejumlah negara termasuk Indonesia secara bergantian dalam beberapa tahun ke belakang sempat menjadi sorotan pemerhati sepakbola dunia. Negara-negara ini dianggap akan bisa tampil di pentas Piala Dunia.

Myanmar misalnya pada 1968 sukses menjadi runner up ajang Piala Asia. Negara yang sekarang dikuasai Junta Militer ini pun dianggap banyak pihak saat itu sangat memenuhi syarat bisa tembus Piala Dunia.

Sayang Myanmar harus keok kala bertemu China, Israel, dan Hongkong di babak kualifikasi Piala Dunia 1970. Usai Myanmar, Thailand mencoba untuk memutus kutukan usai tampilnya Hindia Belanda di Piala Dunia 1938.

Sayang di babak playoff Piala Dunia 1974, Thailand harus menyerah dengan skor cukup telak 0-4 dari Kuwait. Setelah era tersebut, pemberitaan soal sepakbola kawasan Asia Tenggara mulai tenggalam dari pentas internasional.


Peta negara kawasan Asia Tenggara (Asia Society).

Di era-era 60-an akhir hingga 70-an, sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara tengah sibuk dengan pergulatan politik dalam negeri masing-masing. Era Perang Dingin yang membuat dunia terbelah menjadi dua kutub juga menjadi pangkal kondisi tak mengenakkan itu.

Bahkan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara seperti Vietnam, Laos, Kamboja, dan Myanmar harus terisolasi dari pergaulan internasional setelah kediktatoran militer mengusai pemerintah di negara-negara tersebut.

Kala negara di kawasan Asia Tenggara berusaha bangkit usai huru hara politik era 60-an dan 70-an, sepakbola mereka sudah cukup jauh tertinggal. Benua Afrika mulai menunjukkan geliatnya di pentas Piala Dunia.

Mendekati era 90-an, Arab Saudi menjadi wakil Asia yang mampu lolos sampai babak 16 besar Piala Dunia 1994. Geliat sepakbola kawasan Asia kembali dilanjutkan oleh negara-negara dari kawasan Asia Timur.

Jepang dan Korea Selatan sampai detik ini bisa dibilang sebagai negara dari kawasan Asia yang sukses. Selain menjadi negara Asia pertama yang menjadi tuan rumah Piala Dunia, khusus untuk Korea Selatan mereka bisa sampai tembus ke babak semifinal Piala Dunia 2002.

Kemana negara dari kawasan Asia Tenggara? Seolah jadi kutukan, kehadiran Hindia Belanda di pentas Piala Dunia edisi ketiga malah ‘menutup’ peluang negara lain kembali tunjuk skill di Piala Dunia.

Kisah Klub Pengungsi di Jerman, Berawal dari Restoran Cepat Saji

Data dari Perserikatan Bangsa-bangsa yang dilansir dari situs resmi mereka menyatakan bahwa ada 10.000 orang tewas akibat konflik di Yaman. Di sejumlah negara lain di kawasan Timur Tengah seperti di Syria, ribuan orang juga harus merenggang nyawa dan kehilangan tempat tinggalnya.

Mereka yang selamat berupaya mencari jalan keluar untuk keluar dari ‘neraka’ dunia ini. Arus pengungsi pun mulai membanjiri dataran Eropa. Dilansir dari situs pemerintah Italia misalnya, di awal Februari 2017 ini tercatat ada 1300 pengungsi yang berupaya masuk ke Italia lewat jalur laut.

Sejumlah negara termasuk Italia di Eropa memang menjadi tujuan para pengungsi ini. Salah satu negara yang memiliki jumlah pengungsi paling banyak ialah Jerman.

Biro statistik Jerman menyebut per 2016, populasi Jerman tumbuh sebanyak 600 ribu orang, hal ini disebabkan kedatangan para pengungsi ini. Pro kontra dari orang asli Jerman pun bermunculan terkait keberadaan para pengungsi ini.

Mereka yang kontra menganggap para pengungsi ini hanya menambah beban hidup ekonomi dan sosial orang Jerman. Sadar bukan berada di tanah kelahiran sendiri, para pengungsi ini berupaya untuk lebih berguna.

Upaya memperbaiki hidup yang dilakukan para pengungsi dilakukan dengan banyak cara, salah satunya ialah lewat jalur sepakbola. Sebagai negara sepakbola, Jerman memang memberikan peluang untuk para pengungsi ini untuk bisa mendapatkan panggung di sepakbola.

Klub sepakbola pun coba didirikan oleh para pengungsi ini. Setali tiga uang dengan kaum pengungsi Rohingya di Australia misalnya yang mendirikan The Lakemba Roos, di Jerman juga ada klub sepakbola bernama FC Lampedusa.

FC Lampedusa merupakan klub berlokasi di kota Hamburg, Jerman yang mendapat dukungan penuh dari klub penghuni Bundesliga 2, St Pauli. Banyak kisah menarik dari pendirian klub ini. Salah satunya ialah soal penamaan klub ini.

Dilansir dari vermelho.org.br, nama Lampedusa dipilih berdasar sisi historis para pengungsi ini atas tanah kelahiran mereka. Lampedusa merupakan nama sebuah pulau di Laut Mediterania yang secara historis memiliki kedekatan dengan para pengungsi ini, utamanya mereka yang berasal dari Libya dan negara-negara di kawasan Afrika Utara.

Geliat PSSI di Bawah Pimpinan Eks Komandan Pleton Kopassus

Sepakbola Indonesia tengah bergeliat usai Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mencakut Surat Keputusan Pembekuan induk sepakbola negeri ini, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).

Momentum kebangkitan sepakbola Indonesia lewat PSSI sebenarnya sudah mulai terlihat saat perhelatan Piala AFF tahun lalu. Energi positif terasa betul di kalangan pencinta sepakbola nasional, dan masyarakat Indonesia khususnya saat Tim Nasional besutan Alfred Riedl mempersiapkan diri untuk mengikuti turnamen itu.

Meski akhirnya Indonesia kembali berada di urutan kedua di bawah Thailand di akhir kompetisi, api positif di jaga betul oleh kepengurusan PSSI serta semua stackholder sepakbola nasional, termasuk media di dalamnya.

Keresahan mulai timbul saat Kongres PSSI terkait nasib 7 klub yang di era PSSI sebelumnya di bekukkan dari sepakbola nasional. PSSI mampu meredam kekhawatiran bakal terulang hal buruk di sepakbola nasional akibat kasus tersebut.

Di bawah pimpinan Letjen Edy Rahmayadi, PSSI memiliki posisi tawar yang begitu kuat namun memiliki kerendahan hati untuk mendengar suara dari akar rumput, kasus Persebaya Surabaya bisa jadi contohnya.

Meski di awalnya, pro kontra terkait latar belakang Edy yang notabene juga menjabat Panglima Komandan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) juga jadi sorotan, namun mantan Komandan Pleton (Danto) di jajaran Kopassus pada 1985 ini mampu menjawabnya dengan profesional.


Letjen Edy Rahmayadi (Credit Photo:rmol.com).

Program-program kerja yang tengah diusung pengurus baru PSSI dibawah komando Edy pun terlihat secara nyata memiliki sinergitas dengan pihak terkait seperti Kemenpora misalnya. Kita bisa ambil satu contoh nyata, yakni soal pemain muda. Saat sejumlah media memberitakan terkait kritik membangun soal pembinaan pemain muda, PSSI pun menjawabnya dengan mencoba bersinergis dengan Kemenpora yang juga ingin agar pemain muda mendapat perhatian lebih.

Pemain muda Indonesia yang ada di luar negeri pun mendapat sorotan dari PSSI, hal ini dilakukan menapung suara akar rumput dan Kemenpora saat melihat banyaknya pemain muda berdarah Indonesia yang berkarier di luar negeri.

Soal kompetisi, tahu betul bahwa dari tahun ke tahun kompetisi sepakbola nasional selalu dihantui masalah, Edy dengan tegas berusaha mengurai benang kusut masalah tersebut. Salah satu benang kusut yang coba di urai ialah soal wasit. Kamis, 02 Februari 2017, Edy melantik 38 wasit yang akan menjadi pengadil di perhelatan Piala Presiden 2017.

Meski sekedar turnamen pembuka musim, Edy menganggap wasit wajib menandatangani pakta intergritas untuk mendukung kemajuan sepakbola nasional lewat peran mereka di tengah lapangan. Tak tanggung-tanggung, Edy bahkan memberi ultimatum keras, jika ada wasit yang terindikasi melanggar sportifitas dan menguntungkan salah satu klub, hukumannya ialah,

“Sanksinya kita coret dari urusan perwasitan,” kata pria kelahiran Aceh ini.

Semoga geliat dan energi positif ini terus dipertahakan dan dijaga tidak hanya oleh PSSI tapi seluruh lapisan masyarakat Indonesia, dan tentu saja dari pihak yang terlibat di sepakbola nasional, mulai dari klub, suporter, dan pemain.

15 Tahun Berpuasa, Singa Afrika Tuntaskan Dendam 9 Tahun Lalu

Butuh 15 tahun untuk sepakbola Kamerun mengakhiri dahaganya untuk bisa meraih gelar. Senin (06/02/17) dinihari, Kamerun sukses mengakhiri perlawan Mesir dengan skor 2-1 di partai puncak Piala Afrika 2017.

Gol kemenangan yang dicetak penyerang Besiktas, Vincent Aboubakar pada menit ke-88 menyudahi perlawanan Mesir yang sempat unggul terlebih dahulu pada menit ke-22 lewat gol pemain Arsenal, Mohamed Elneny sebelum disamakan oleh Nicolas Nkoulou pada menit ke-59.

Skuat berjuluk The Indomitable Lions itu pun berpesta di Stade de l’Amitie yang terletak di Libreville, Gabon. Sukses Vincent Aboubakar dan kawan-kawan meraih gelar Piala Afrika tahun ini membuat Kamerun sudah sebanyak lima kali meraih Piala Afrika.

Hasil fantastis ini juga membayar lunas kegagalan Kamerun di Piala Afrika edisi sebelumnya yang berlangsung di Guinea Khatulistiwa. Kala itu, Kamerun terhenti di babak kualifikasi grup.

Pada turnamen yang dimenangkan oleh Pantai Gading itu, Kamerun bahkan berada di posisi buncit grup D dan hanya meraih 2 poin hasil dari 2 kali imbang dan 1 kali kalah.

Bahkan pada Piala Afrika 2012 dan 2013, Kamerun gagal karena tidak lolos babak kualifikasi. Padahla pada Piala Afrika 2008, Kamerun sukses melenggang ke partai puncak sebelum dikalahkan oleh negara yang tahun ini mereka kalahkan, Mesir.

Padahal Kamerun kala itu dihuni oleh sejumlah pemain yang bisa dibilang sebagai generasi emas mereka seperti Samuel Eto’o yang sukses menyabet gelar top skor. Selain Eto’o, Kamerun di 2008 juga diisi oleh pemain seperti Geremi Njitap, Alexandre Song, atau Stephane Mbia.


Kekecewaan skuat Kamerun di Piala Afrika 2008.

Generasi emas Kamerun 2008 harus puas dengan gelar runner up. Menilik penampilan Kamerun di perhelatan tahun ini, Kamerun sebenarnya tampil dengan langkah awal yang tertatih-tatih di langkah pertama.

Pada laga pertama, Kamerun yang harusnya bisa meraih tiga poin malah hanya mampu bermain imbang 1-1 dengan Burkina Faso. Burkina Faso bahkan lewati Kamerun di klasemen akhir grup A dan keluar sebagai juara grup.

Hadangan kembali dialami Kamerun saat melangkah ke partai perempatfinal. Kamerun harus bertemu salah satu favorit juara, Senegal. Betul saja, bertemu Senegal, Kamerun harus bermain sampai babak adu penalti.

Beruntung bagi Kamerun, pemain terbaik Senegal tahun ini, Sadio Mane gagal eksekusi penalti dan membuat Kamerun menang 5-4 di babak adu penalti. Masuk ke semifinal, tantangan terberat dihadapi Kamerun.

Kamerun harus bertemu dengan tim kuat lainnya, Ghana. Menariknya di pertemuan melawan Ghana, Kamerun malah mampu menang meyakinkan 2-0. Gol Kamerun saat itu dicetak oleh Michael Ngadeu-Ngadjui di menit ke-72 dan Christian Bassogog di injury time babak kedua.

Tiba di partai puncak, Kamerun bertemu dengan tim yang tengah membangun negaranya usai mengalami The Arab Spring beberapa tahun lalu, Mesir.

Mengandalkan dua pemain terbaik mereka, Salah dan Elneny, Mesir berusaha mengulang kejayaan mereka bertemu Kamerun sama seperti 2008 lalu.

Sayang harapan itu kandas setelah Vincent Aboubakar cetak gol di menit-menit akhir babak kedua. Singa Kamerun pun sukses membalaskan dendam 9 tahun usai berpuasa 15 tahun lamanya.

Prestasi Kamerun di Piala Afrika: 

Deretan Pesepakbola Asal Papua yang Coba Rintis Karier di Eropa

Anggaran Penerimaan Belanja Daerah (APBD) Papua pada 2016 hanya sekitar Rp1 triliun, angka ini turun 65 persen jika dibanding dengan APBD tahun sebelumnya. Papua yang penuh dengan ’emas’ memang selalu terpinggirkan dalam banyak hal.

Dana ‘kecil’ tersebut kemudian lebih banyak dialokasikan untuk proyek pembangunan infrastruktur, utamanya pembangunan jalan yang memang sangat dibutuhkan di Papua. Jadi bisa dibayangkan, berapa total anggaran di serap oleh dinas Olahraga Papua, tentu sangat sedikit.

Namun, terlepas dari hal tersebut, Papua tak pernah menyerah. Talenta berbakat dari provinsi paling timur Indonesia selalu muncul tiap tahunnya. Di bidang sepakbola, stok pemain berkualitas asal Papua selalu muncul.

Di tengah keterbatasan, pesepakbola muda Papua muncul dan membuat publik terhenyak dengan talenta dan skill mereka. Tidak hanya publik nasional yang berdecak kagum dengan skill dan kemampuan pesepakbola Papua, dunia Internasional bahkan mengakuinya.

Tidak mengherankan jika kemudian, sejumlah klub asal Eropa memiliki minat besar untuk bisa mendidik dan merekrut pesepakbola asal Papua. Sejumlah pesepakbola Papua yang bertalenta beruntung saat ini tengah merintis di Eropa. Siapa saja mereka?

Andreas Gobai

Pesepakbola yang berposisi sebagai penjaga gawang ini ialah salah satu dari dua pemuda asal Papua yang sukses mengikuti training camp Manchester United di Bali beberapa waktu lalu. Gobai rencananya akan mengikuti training di Manchester United.

Gobai sendiri merupakan anak didik di sekolah sepakbola (SSB) Petra. “Ini sudah dua kali anak didik kami lolos ke Mancester United. Sebelumnya ada Delvin Taplo,” kata Billy Brando, salah satu pelatih SSB Petra Sentani.

Billy mengatakan lolosnya dua anak didik SSB Petra ke Manchester United untuk ikuti latihan jadi momentum sangat baik bagisepakbola Papua. Ini jadi salah satu bukti bahwa sepakbola Papua tidak pernah kehabisan bakat hebat di lapangan hijau.

Daniel Pahabol

Selain Gobai, satu lagi siswa dari SSB Petra yang juga catatkan nama bagus di ajang training camp Manchester United di Bali beberapa waktu lalu. Ia adalah Daniel Pahabol. Jika Gobai berposisi sebagai kiper, maka Pahabol ialah seorang penyerang.

Silas Ohee, pemiliki sekaligus pelatih di SSB Petra mengatakan bahwa prestasi anak asuhnya merupakan hasil dari ketulusan dan komitmen yang tinggi dari SSB untuk pembinaan sepakbola di usia dini.

“Untuk sampai pada tahapan seperti ini tidak semua orang mau melakukannya, apalagi tanpa dukungan dari pihak lain. Ini sudah menjadi komitmen kami dengan tanpa henyi melakukan yang terbaik bagi anak didik kita,” kata Ohee.

Delvin Taplo

Sebelum Gobai dan Pahabol, ada juga siswa dari SSB Petra yang berangkat ke Manchester, Inggris untuk training camp. Ia adalah Delvin Taplo. Delvin yang akrab disapa Deltex sempat berlatih di Manchester United Soccer School.

Menurut Deltex seperti dilansir situs resmi SSB Petra mengatakan bahwa dua juniornya, Gobai dan Pahabol akan mendapat banyak hal saat mendapat ilmu di Manchester.

“Salah satu ilmu yang saya dapat disana ialah soal kedisplinan. Disana pemain harus memiliki displin yang tinggi. Itu terlihat dari latihan mereka yang benar-benar fokus dengan memperhatikan intruksi pelatih,” kata Deltex.

Revalino Marbon

Pada 2014 lalu, tak publikasi yang banyak dari media nasional, klub lokal asal Papua sukses membuat silau eks finalis Liga Champions asal Spanyol, Valencia dengan talenta pemain mereka.

Klub, Reliv Crhista FC yang saat itu melakukan tur ke Belanda menghasilkan sejumlah pemain mereka yang kemudian dibidik oleh klub Eropa, salah satunya Valencia.

Ada lebih dari dua pemain klub ini yang ditarik oleh Valencia untuk melakukan training camp. Salah satunya ialah Revalino Marbon.

“Untuk Revalino sudah berangkat pada Minggu (19/06) lalu sedangkan ketiganya akan menyusul secepatnya,” kata Mesak.

Revalino sendiri akan berada di Valencia selama satu tahun. Revalino menurut Mesak selain berkarier di Valencia juga untuk melanjutkan studi pendidikannya di luar negeri.

Marinus Wanewar

Selain Revalino Marbon, pemain binaan klub Reliv Crhista FC yang juga dibidik oleh Valencia ialah Marinus Wanewar. Berbeda dengan program Espanyol B yang sempat merekrut Evan Dimas, perekrutan pemain muda Papua ini merupakan permintaan resmi dari Valencia.

Peluang para pemain muda Papua ini untuk mendapat kontrak resmi dari Valencia tergantung hasil evaluasi mereka setelah magang selama tiga bulan.

Wanewar sendiri sebelumnya sempat membela Persipura dan memperkuat tim PON Papua dan tim PON Papua Barat.