Sepakbola Indonesia tengah bergeliat usai Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mencakut Surat Keputusan Pembekuan induk sepakbola negeri ini, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).

Momentum kebangkitan sepakbola Indonesia lewat PSSI sebenarnya sudah mulai terlihat saat perhelatan Piala AFF tahun lalu. Energi positif terasa betul di kalangan pencinta sepakbola nasional, dan masyarakat Indonesia khususnya saat Tim Nasional besutan Alfred Riedl mempersiapkan diri untuk mengikuti turnamen itu.

Meski akhirnya Indonesia kembali berada di urutan kedua di bawah Thailand di akhir kompetisi, api positif di jaga betul oleh kepengurusan PSSI serta semua stackholder sepakbola nasional, termasuk media di dalamnya.

Keresahan mulai timbul saat Kongres PSSI terkait nasib 7 klub yang di era PSSI sebelumnya di bekukkan dari sepakbola nasional. PSSI mampu meredam kekhawatiran bakal terulang hal buruk di sepakbola nasional akibat kasus tersebut.

Di bawah pimpinan Letjen Edy Rahmayadi, PSSI memiliki posisi tawar yang begitu kuat namun memiliki kerendahan hati untuk mendengar suara dari akar rumput, kasus Persebaya Surabaya bisa jadi contohnya.

Meski di awalnya, pro kontra terkait latar belakang Edy yang notabene juga menjabat Panglima Komandan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) juga jadi sorotan, namun mantan Komandan Pleton (Danto) di jajaran Kopassus pada 1985 ini mampu menjawabnya dengan profesional.


Letjen Edy Rahmayadi (Credit Photo:rmol.com).

Program-program kerja yang tengah diusung pengurus baru PSSI dibawah komando Edy pun terlihat secara nyata memiliki sinergitas dengan pihak terkait seperti Kemenpora misalnya. Kita bisa ambil satu contoh nyata, yakni soal pemain muda. Saat sejumlah media memberitakan terkait kritik membangun soal pembinaan pemain muda, PSSI pun menjawabnya dengan mencoba bersinergis dengan Kemenpora yang juga ingin agar pemain muda mendapat perhatian lebih.

Pemain muda Indonesia yang ada di luar negeri pun mendapat sorotan dari PSSI, hal ini dilakukan menapung suara akar rumput dan Kemenpora saat melihat banyaknya pemain muda berdarah Indonesia yang berkarier di luar negeri.

Soal kompetisi, tahu betul bahwa dari tahun ke tahun kompetisi sepakbola nasional selalu dihantui masalah, Edy dengan tegas berusaha mengurai benang kusut masalah tersebut. Salah satu benang kusut yang coba di urai ialah soal wasit. Kamis, 02 Februari 2017, Edy melantik 38 wasit yang akan menjadi pengadil di perhelatan Piala Presiden 2017.

Meski sekedar turnamen pembuka musim, Edy menganggap wasit wajib menandatangani pakta intergritas untuk mendukung kemajuan sepakbola nasional lewat peran mereka di tengah lapangan. Tak tanggung-tanggung, Edy bahkan memberi ultimatum keras, jika ada wasit yang terindikasi melanggar sportifitas dan menguntungkan salah satu klub, hukumannya ialah,

“Sanksinya kita coret dari urusan perwasitan,” kata pria kelahiran Aceh ini.

Semoga geliat dan energi positif ini terus dipertahakan dan dijaga tidak hanya oleh PSSI tapi seluruh lapisan masyarakat Indonesia, dan tentu saja dari pihak yang terlibat di sepakbola nasional, mulai dari klub, suporter, dan pemain.

Advertisements