Matabeleland, Wilayah Sejenis Catalan yang Bercita-cita jadi Juara Piala Dunia

Bagi sebagian pencinta sepakbola tentu tak asing dengan wilayah bernama Catalan. Wilayah berada di negara Spanyol ini memiliki klub sepakbola terkuat di dunia, Barcelona. Para pesepakbola asli Catalan pun bukan pemain sembarangan.

Wilayah yang beberapa waktu lalu ini melakukan referendum dan ingin jadi negara merdeka lepas dari Spanyol juga memiliki Timnas sendiri. Sepak terjang Catalan terbilang sangat bagus, sejumlah kekuatan sepakbola dunia seperti Brasil dan Argentina pernah melakoni laga uji coba dengan Catalan.

Ternyata tidak hanya Catalan yang memiliki timnas sendiri, sebuah wilayah yang namanya terdengar lucu di telinga orang Indonesia, Matabeleland juga memiliki cita-cira sama. Memiliki timnas yang kuat untuk berkarier di level internasional.

Di mana letak Matabeleland? Matabeleland terletak di wilayah negara Zimbabwe, Afrika. Sama dengan Catalan, Matabeleland juga bercita-cita jadi negara sendiri. Dikutip dari boxtoboxfootball.uk (05/04/18), Matabeleland memiliki timnas yang dilatih oleh pria asal Inggris bernama Justin Walley.

Walley sendiri memiliki rekam jejak sebagai seorang pelatih di klub-klub kecil Eropa. Ia cukup lama berkarier di klub liga Latvia, Riga United ialah salah satu klub yang pernah dilatihnya. Selain itu, Walley juga tercatat pernah melatih Timnas wanita Sierra Lone.

Tim Matabeleland sendiri tengah bersiap untuk mengikuti Piala Dunia untuk wilayah yang keberdaannya tak diakui FIFA yakni Piala Dunia CONIFA. “Saya tertarik untuk bisa membawa Matabeleland untuk berkiprah di ajang ini. Mereka memiliki kemampuan untuk itu,” kata Walley.

Sayangnya Walley memiliki tantangan tersendiri untuk para pemain Matabeleland. Karakteristik para pemuda di Matabeleland hampir sama dengan orang-orang di negara terbelakang, lebih suka dengan hal berbau kriminal untuk mendapatkan sesuatu.

“Mereka ingin menjadi sukses namun ketika memiliki uang dihabiskan untuk mabuk dan melakukan hal kejahatan lainnya,” kata Walley. Tidak itu saja sebagai wilayah yang keberadaanya tak diakui pemerintah Zimbabwe, persoalan infrastruktur dan SDM juga jadi masalah utama bagi tim Matabeleland.

Bahkan untuk bisa mendapatkan sponsor dan visa demi mengikuti Piala Dunia CONFIA di Inggris pada 31 Mei – 10 Juni 2018 mendatang, Walley sampai terbang ke negara asalnya Inggris untuk mendapatkan dukungan dari sejumlah pihak.

“Sejumlah tim memiliki fasilitas yang lebih baik seperti Siprus misalnya yang sepert negara anggota FIFA. Namun kami percaya bisa mengejutkan beberapa orang di kompetisi ini,” kata Walley.

Advertisements

Rene Higuita, Si Scorpion King yang Berkawan Baik dengan Gembong Narkoba

Pernah mendengar nama Rene Higuita? Kalau belum berarti bisa dipastikan anda fans zaman now. Pasalnya nama Higuita merupakan kiper legendaris yang cukup tenar di generasi old alias era 80 dan 90-an. Higuita merupakan pemain dan kiper legendaris untuk Timnas Kolombia.

Lahir di Medelin, Kolombia 51 tahun silam, Higuita mengawali kariernya di salah satu klub kontroversial, Millonarios. Millonarios merupakan klub sepakbola yang rumornya mendapat sokongan dana dari para gembong narkoba Kolombia.

Nama Higuita mulai dikenal oleh banyak orang karena kiper satu ini bukan sembarang kiper. Ia buka kiper konvensional yang tak mau keluar dari sarangnya. Tercatat seperti dikutip dari fifa.com (12/04/18) selama berkarier sebagai kiper, Higuita telah mengoleksi 40 gol, 3 gol diantaranya untuk Timnas Kolombia.

Higuita juga kiper yang sangat berani untuk mengambil resiko. Salah satu aksi berani Higuita yang menjadi sorotan ialah saat ia mengantisipasi bola dengan cara tak biasa. Yakni menendang bola layaknya hewan kalajengking.

Aksi beraninya itu dilakukannya saat Kolombia bertemu Inggris pada 06 September 1995. Dikutip dari goal.com (12/04/18) Kiper berambut gimbal itu mementahkan tendangan silang Jamie Redknapp dengan tumitnya seraya terbang dengan posisi seperti kalajengking.

Hebatnya lagi aksi tersebut bukan keberuntungan semata pasalnya Higuita kemudian bisa melakukan aksi tersebut pada 2012 silam di sebuah laga persahabatan. Sayang nama Higuita sedikit tercemar, pasalanya seperti dikutip dari thesefootballtimes.co (12/04/18) memiliki hubungan baik dengan raja gembong narkoba Kolombia, Pablo Escobar.

Bahkan pada 1993 disebutkan bahwa Higuita mendapat dana sebesar 64ribu dollar atas jasanya membantu Escobar menyulik salah satu pesaingnya di pasar kokain Kolombia, Carlos Molina.

Sayang bukti dan saksi dari keterlibatan Higuita pada Escoba tak pernah muncul ke pengadilan. Meski begitu di kalangan publik Kolombia, hubungan Higuita dengan gembong narkoba sudah menjadi rahasia umum.

Mengenal Oriol Tort, Sosok Dibelakang Layar Kejayaan Barcelona

Jika membicara Barcelona tentu banyak orang lebih banyak mengetahui nama-nama tenarnya seperti Johan Cruyff, Diego Maradona, Ronaldo, Pep Guardiola atau megabintang mereka saat ini, Lionel Messi. Paling banter, fans Barcelona cukup mengetahui La Masia, akademi Barcelona yang lahirkan sosok Lionel Messi.

Tapi tahukan fans Barcelona pada sosok bernama Oriol Tort? Bernama lengkap Oriol Tort Martinez, sosok ini ialah orang dibelakang layak yang akhirnya membuat nama La Masia dan Barcelona tentu saja menjadi tenar seperti saat ini.

Tort yang merupakan pria asli Catalan ini juga mantan pemain Barcelona. Usai pensiun sebagai pemain, Tort diberi kepercayaan sebagai direktur akademi Barcelona. Sebagai seorang direktur akademi Barcelona, Tort memiliki insting kuat mana pemain muda yang layak dipertahankan dan mana yang tidak.

Dikutip dari fcbarcelona.com (12/04/18) Tort jadi orang yang menyelamatkan karier Guardiola di Barcelona. Tort kala itu bersikeras kepada manajemen Barcelona agar Pep tetap dipertahankan meski secara fisik, Pep kala itu tak disukai manajemen Barcelona.

“Dia harus tinggal. Dia memiliki kepala (otak) untuk sebuah pertandingan,” kata Tort kala itu. Hebatnya lagi Tort hanya membutuhkan satu kali melihat aksi seorang pemain muda menilainya. Tort pula yang kabarnya membuat Barcelona beruntung mempertahankan para pemain muda seperti Iniesta, Xavi, Valdes, hingga Cesc Fabregas.

“Tort mewakili orang tanpa nama yang sangat penting bagi kebutuhan klub,” kata seorang Vicente del Bosque seperti dikutip dari thesefootballtimes.co (12/04/18).

Lantas seperti apa Tort sebagai direktur pertama La Masia bisa nge-bland dengan para pemain muda Barcelona. Ternyata rahasianya cuma satu, yakni Tort tak pernah menganggap dirinya lebih tinggi dari para pemain muda ini.

“Saya tidak hanya sekedar memilih pemain. Saya memantau semua perkembangan mereka. Saya bisa melihat mana yang gugup dan mana yang tidak. Tiap makan siang, saya satu meja dengan mereka menyantap makanan. Setelah itu di akhir pekan kami tertawa dan bercanda. Saya meluang banyak waktu untuk mengenal anak muda ini lebih dalam. Itu saya lakukan semata menjalani moto klub, ‘Lebih dari sebuah klub’ kata Tort.

Pada 20 Oktober 2011, Barcelona kemudian mengabadikan nama Tort sebagai bagian dari La Masia. Itu menjadi pengakuan dan penghargaan pada orang yang telah mengabdi pada klub tersebut selama 40 tahun. Tort sendiri meninggal dunia pada 10 September 1999 silam.

Brescia, Panti Jompo untuk Pemain Bintang yang Sudah Mulai Lapuk

Berdiri 107 tahun silam, Brescia Calcio merupakan klub Italia yang pada era 90-an dan awal 2000-an memiliki rekam jejak yang cukup bagus. Pada musim 2000/01 misalnya, Brescia seperti dikutip dari data legaseriea.it (12/04/18) sukses meringsek ke papan tengah dan menduduki peringkat ke-8 di akhir musim.

Prestasi Brescia kala itu tentu tak lepas dari tangan dingin pelatih veteran mereka, Carlo Mazzone. Selain itu, Brescia kala itu diisi percampuran pemain tua dan pemain muda. Di sana kala itu ada nama-nama pemain senior seperti Roberto Baggio, Dario Hubner, Pavel Srnicek. Sedangkan untuk para pemain mudanya ada nama seperti Andrea Pirlo.

Yang unik dari klub ini, Brescia acapkali jadi tempat untuk para pemain bintang yang sudah menua dan mulai lapuk di karier mereka. Seperti tersebut di atas, Brescia sempat diperkuat oleh Roberto Baggio, mantan bintang Juventus dan Italia yang memutuskan berkarier di Brescia di masa tuanya.

Selain Baggio, ada juga nama kiper Timnas Ceko yang sempat jadi bintang di Liga Inggris bersama Newscatle United, Pavel Srnícek. Selain dua nama tersebut, Pep Guardiola pun memutuskan untuk hijrah ke Italia di sisa-sisa masa keemasannya sebagai gelandang brilian bersama Barcelona.

Dikutip dari inbedwithmaradona.com (12/04/18) pasca alami cedera berkepanjangan pada 2001, Pep memutuskan pindah ke Brescia. Sejumlah pihak menyebut bahwa Pep terdampar karena pihak Barcelona kala itu seperti melepasnya begitu saja pasca memutuskan untuk cuti panjang. Apalagi kemudian transfer Pep bernilai kecil, Pep ke Brescia semata bukan untuk mencari uang.

Selain Pep, ada juga mantan bintang Barcelona lain yang sempat memperkuat Brescia yakni Gheorghe Hagi. Maradona dari Carpathian tersebut bermain untuk Brescia pada 1992 hingga 1994. Selain Hagi, ada juga mantan gelandang Manchester United, Quinton Fortune yang datang membela Brescia pada 2008 dan hanya 1 kali bermain.

Lalu ada juga nama eks striker AS Roma, Marco Delvecchio yang membela Brescia pada 2005 dan bermain hanya 5 kali. Ada juga nama Luigi Di Biagio, mantan bintang Inter Milan, Francisco Lima, mantan gelandang asal Brasil yang antarkan AS Roma raih scudetto, dan ada juga mantan bek tangguh Juventus asal Prancis, Jonathan Zebina.

Saat Sosial Media jadi Kekuatan untuk Olahraga

Kala Mark Zuckerberg mendirikan Facebook beberapa waktu lalu, penemuan tersebut bisa disebut sebagai salah satu ‘keajaiban dunia’ abad ke-20. Konsep Zuckerberg dan rekan-rekannya saat menciptakan Facebook tidak hanya terfokus pada jejaring sosial,namun menangkap dinamika yang berkembang di tengah masyarakat.

Dinamika ini yang kemudian masuk dalam platform bisnis para penemu sosial media, tak terkecuali Zuckerberg dengan Facebook miliknya. Salah satu dinamika yang mereka tarik ke platform bisnis mereka ialah olahraga.

Dikutip dari sportspromedia.com, saat masyarakat dunia sangat membutuhkan informasi yang cepat terkait perkembangan klub sepakbola favorit mereka, atau soal hasil pertandingan, di situlah sosial media hadir untuk jadi bagian pemenuh kebutuhan masyarakat tersebut.

Kondisi ini memang tak bisa dipungkiri dari efek kemajuan teknologi. Twitter, ‘pesaing’ Facebook misalnya menyebut bahwa mereka akan selalu menjaga followers mereka yang sangat dekat dan membutuhkan informasi olahraga.

 Ilustrasi penggunaan sosial media di kalangan pencinta olahraga.

“Satu-satunya cara ialah terus menyajikan konten olahraga dengan bermitra dengan sejumlah media olahraga ataupun klub olahraga,” kata Danny Keens, kepala Twitter bagian kemitraan olahraga.

Twitter memang tak dipungkiri saat ini jadi pelengkap alami dari hidup olahraga. Tweet-tweet tentang olahraga akan selalu jadi trending hampir tiap hari.

Menariknya tidak hanya sepakbola saja yang menjadi trending di Twitter, olahraga lain yang tidak terlalu populer pun bisa jadi trending di Twitter. Sebagai contoh, saat perhelatan Piala Dunia Rugby beberapa waktu lalu, Twitter mencatat ada 6,8 miliar tweet tentang rugby saat itu.

Twitter bahkan selangkah lebih maju untuk menarik pencinta olahraga. Penggunaan hastag misalnya yang jadi bagian dari fitur mereka untuk para followers-nya.

Untuk tingkatan kompetisi, baik Facebook maupun Twitter akan bekerjasama dengan media olahraga ataupun badan yang mengurus kompetisi tersebut.

Alur saat pencinta olahraga menshare video olahraga ke sosial media.

“Elemen kedua yang membuat kami (sosial media) jadi kekuatan untuk olahraga saat ini ialah kami bermitra secara resmi untuk sejumlah kompetisi seperti Super Bowl di Amerika Serikat ataupun Liga Champions,” kata Dan Reed, perwakilan Facebook yang mengurus kemitraan olahraga.

Reed menambahkan saat perhelatan Super Bowl, Facebook secara resmi bekerjasama dengan National Football League (NFL) dan salah satu media olahraga ternama Amerika Serikat, NBC.

Dalam banyak kasus untuk kemitraan ini, Reed menyebut bahwa Facebook menciptakan dan berbagi jaminan pemasaran yang saling menguntungkan. Tidak hanya memfasilitasi saluran komunikasi dengan pencinta olahraga namun juga bagaimana secara omset juga memiliki dampak.

“Golden State Warrios misalnya memanfaatkan alat pemasaran Facebook dengan keterlibatan organik. Untuk penjualan tiket, penjualan jersey dan sebagainya. Itu menguntungkan untuk manajemen Golde State Warriors,” kata Reed.

Sosial media memang sudah jadi kekuatan yang sangat nyata untuk perkembangan satu olahraga. Sederhananya, sebuah studi di India mengungkap fakta bahwa sembilan dari sepuluh pengguna Twitter ialah penggemar olahraga kriket.


Fakta lain soal sosial media dan olahraga.

“Twitter telah berkembang menjadi media di mana Anda tinggal mengetik 140 karakter, men-share foto, video atau GIF tentang klub sepakbola atau pemain favorit Anda,” kata Aneesh Madani, perwakilan Twitter di India.

Keunggulan yang dimiliki sosial media ini kemudian membawa kita bisa melihat bagaiamana laga final Piala Dunia 1990 misalnya, atau dokumentasi foto saat Pele menjuarai Piala Dunia bersama Brasil.

Inter: Berawal dari Protes dan ‘Dikuasai’ Orang Indonesia

Jika kita mengatakan bahwa ‘kiblat’ untuk sepakbola dunia ialah Italia tentu tidak salah. Pasalnya sejak abad ke-19, negara ini sudah memiliki klub dan kompetisi sepakbola.

Salah satu kota di Italia yang memiliki klub sepakbola di abad ke-19 ialah kota Milan. Kota yang disebut sebagai pusat fashion dan mode dunia ini memiliki Associazione Calcio Milan yang berdiri pada 16 Desember 1899. Kala itu, AC Milan jadi satu-satunya klub sepakbola dan kriket di kota tersebut.

Berdirinya AC Milan tidak lepas dari peran orang Inggris bernama Alfred Edwards dan Herbert Kilpin, dua pria asli Nottingham. Maka sejak berdirinya AC Milan lebih banyak didominasi pemain Inggris dan Italia.

Masalah ini yang kemudian mendorong sejumlah pemuda asli kota Milan dan Swiss untuk mendirikan klub lain. Klub yang bisa menampung sejumlah pemain di luar Inggris dan Italia yang dipinggirkan oleh AC Milan.

Para pemuda berkewarganegaraan Swiss dan Italia yang mendirikan Inter Milan.

Giorgio Muggiani, Bossard, Lana, Bertoloni, De Olma, Enrico Hintermann, Arturo Hintermann, Carlo Hintermann, Pietro Dell’Oro, Hugo dan Hans Rietmann, Voelkel, Maner, Wipf, dan Carlo Arduss, ialah para ‘sang pencerah’ yang mendirikan klub baru bernama Internazionale.

Tepat hari ini, 09 Maret 2017, 109 tahun lalu, Internazionale resmi berdiri. Giorgio yang saat itu berprofesi sebagai pelukis kemudian merancang logo klub yang dipakai hingga detik ini.

“Hitam dan biru dengan latar belakang bintang emas itu akan disebut Internazionale, karena kita adalah saudara dari dunia,” tulis pernyataan klub pada 09 Maret 1908.

Darah pemberontak dan rezim fasis

Sebagai klub ‘pemberontak’, Internazionale tercatat sebagai klub yang pernah keluar dari Federasi Sepakbola Italia atau yang lebih dikenal FIGC. Internazionale keluar dari FIGC pada 1921.

Internazionale kala itu lebih memilih untuk bergabung dengan Confederazione Calcistica Italiana (CIC), organisasi tandingan FIGC. Bermain di kompetisi yang digulirkan CIC, Internazionale hanya mampu mengumpulkan 11 poin.

Beruntung bagi Internazionale, klub ini tidak terdegradasi setelah adanya kesepakatan bersama antara FIGC dan CIC untuk mengakhiri dualisme di sepakbola Italia, kesepakatan antar keduanya ini kemudian dikenal dengan nama Compromesso Colombo. Internazionale kembali ke pangkuan FIGC.

Perjalanan Internazionale di awal abad ke-20 memang lebih banyak didominasi dengan cerita pemberotakan dan bentrokan dengan penguasa fasis yang menguasai Italia.

Internazionale bahkan harus berganti nama oleh rezim fasis Italia yang dikuasai Benito Mussolini. Kala itu, Internazionale harus berganti nama menjadi Societa Sportiva Ambrosiana pada 1928. Selang setahun, nama itu kembali diubah menjadi AS Ambrosiana.

Pemilihan nama AS Ambrosiana dikarenakan petinggi klub menuruti perintah dari Benito Mussolini yang menginginkan klub sepakbola di Italia mempunyai nama yang khas Italia. Tidak berhenti disitu, nama  hanya bertahan sampai 1931, klub ini kembali memiliki nama baru yakni AS Ambrosiana-Inter.

Baru 3 tahun sebelum Indonesia merdeka, klub ini resmi meninggalkan nama AS Ambrosiana-Inter dan memakai nama Internazionale Milano hingga detik ini.

Dari Italia untuk Italia

Di awal berdirinya, Inter Milan dilatih oleh pria asli Milan, Virgilio Fossati. Fossati melatih Inter Milan dari 1909 sampai 1915. Di era kepelatihan Fossati, Inter Milan sukses memboyong trofi Serie A pertama pada musim 1909/10.

Usai Fossati tidak lagi melatih Inter pada 1915, klub ini tidak memiliki catatan sejarah siapa pelatih berikutnya. Baru pada 1919, muncul nama Nino Resegotti dan Francesco Mauro jadi pelatih Inter Milan. Dua pelatih ini sukses meraih gelar kedua Inter di Serie A pada musim 1919/20.

Setelah dua kali dilatih oleh pria Italia, Inter diasuh oleh pria asal Inggris, ia adalah Bob Spottiswood. Dilansir dari situs resmi klub dan buku karangan Ian King berjudul Crystal Palace: A Complete Record 1905–2011, Spottiswood merupakan pelatih kelahiran Carlisle, Inggris dan sempat tercatat sebagai pemain di Crystal Palace pada 1909 hingga 1915.

Usai Spottiswood tak lagi melatih dan Inter kembali dilatih pelatih asal Italia bernama Paolo Schiedler, Inter Milan tercatat dari 1926 hingga 1936 dilatih oleh 6 pelatih asal Hungaria.

Kursi kepelatihan Inter Milan memang terbilang cukup unik dengan diisi sejumlah pelatih dari luar Italia. Tercatat sejak berdiri hingga sekarang, Inter Milan sempat dilatih oleh 24 pelatih dari 9 negara non Italia.

Selain Inggris dan Hungaria, Inter sempat diasuh oleh pelatih dari Austria, Wales, Argentina, Spanyol, Rumania, Brasil, hingga Paraguay. Saat ini usai dipecatnya pelatih asal Belanda, Frank de Boer, Inter Milan kembali diasuh oleh pelatih asli Italia, Stefano Pioli.

Anak Jakarta Runtuhkan ‘Budaya’ 105 tahun

Sejak berdiri pada 09 Maret 1908, Inter Milan selalu dikuasai oleh Presiden klub asal Italia. Mereka seolah lupa hakekat berdirinya klub ini yakni, “karena kita adalah saudara dari dunia”.

Nama-nama seperti Giovanni Paramithiotti, Ettore Strauss, hingga Angelo dan Massimo Moratti jadi pemilik dari klub ini. Kesemuanya adalah orang Italia.

Pada 2013 atau tepat 105 tahun setelah berdiri muncul pria kelahiran Jakarta yang menggeser posisi Presiden Inter, Massimo Moratti yang sudah berkuasa sejak 1995. Pria itu bernama Erick Thohir.

September 2013, Massimo Moratti mengumumkan ke publik bahwa ia sudah menjual mayoritas sahamnya sebesar 70 persen ke Thohir. Namun setelah negosiasi panjang disepakati bahwa Thohir hanya menguasai 60 persen saham Inter Milan. 15 November 2013, era baru Inter Milan muncul setelah Thohir ditetapkan secara resmi sebagai Presiden Inter Milan.

Setelah tiga tahun memimpin Inter Milan pada Juni 2016, Thohir menjual sebagian besar sahamnya ke pengusaha lain, namun bukan pengusaha dari Italia melainkan dari Negeri Tirai Bambu, China yakni ke Suning Holding Grup yang dipimpin oleh Zhang Jindong.

Meski mendapat pro kontra di kalangan suporter dan internal Inter Milan, aksi Thohir ini seperti mengingatkan bahwa sejak berdiri Inter Milan ialah klub terbuka untuk semua orang dari belahan dunia mana pun.

“…karena kita adalah saudara dari dunia”

Kisah Klub Pengungsi di Jerman, Berawal dari Restoran Cepat Saji

Data dari Perserikatan Bangsa-bangsa yang dilansir dari situs resmi mereka menyatakan bahwa ada 10.000 orang tewas akibat konflik di Yaman. Di sejumlah negara lain di kawasan Timur Tengah seperti di Syria, ribuan orang juga harus merenggang nyawa dan kehilangan tempat tinggalnya.

Mereka yang selamat berupaya mencari jalan keluar untuk keluar dari ‘neraka’ dunia ini. Arus pengungsi pun mulai membanjiri dataran Eropa. Dilansir dari situs pemerintah Italia misalnya, di awal Februari 2017 ini tercatat ada 1300 pengungsi yang berupaya masuk ke Italia lewat jalur laut.

Sejumlah negara termasuk Italia di Eropa memang menjadi tujuan para pengungsi ini. Salah satu negara yang memiliki jumlah pengungsi paling banyak ialah Jerman.

Biro statistik Jerman menyebut per 2016, populasi Jerman tumbuh sebanyak 600 ribu orang, hal ini disebabkan kedatangan para pengungsi ini. Pro kontra dari orang asli Jerman pun bermunculan terkait keberadaan para pengungsi ini.

Mereka yang kontra menganggap para pengungsi ini hanya menambah beban hidup ekonomi dan sosial orang Jerman. Sadar bukan berada di tanah kelahiran sendiri, para pengungsi ini berupaya untuk lebih berguna.

Upaya memperbaiki hidup yang dilakukan para pengungsi dilakukan dengan banyak cara, salah satunya ialah lewat jalur sepakbola. Sebagai negara sepakbola, Jerman memang memberikan peluang untuk para pengungsi ini untuk bisa mendapatkan panggung di sepakbola.

Klub sepakbola pun coba didirikan oleh para pengungsi ini. Setali tiga uang dengan kaum pengungsi Rohingya di Australia misalnya yang mendirikan The Lakemba Roos, di Jerman juga ada klub sepakbola bernama FC Lampedusa.

FC Lampedusa merupakan klub berlokasi di kota Hamburg, Jerman yang mendapat dukungan penuh dari klub penghuni Bundesliga 2, St Pauli. Banyak kisah menarik dari pendirian klub ini. Salah satunya ialah soal penamaan klub ini.

Dilansir dari vermelho.org.br, nama Lampedusa dipilih berdasar sisi historis para pengungsi ini atas tanah kelahiran mereka. Lampedusa merupakan nama sebuah pulau di Laut Mediterania yang secara historis memiliki kedekatan dengan para pengungsi ini, utamanya mereka yang berasal dari Libya dan negara-negara di kawasan Afrika Utara.

15 Tahun Berpuasa, Singa Afrika Tuntaskan Dendam 9 Tahun Lalu

Butuh 15 tahun untuk sepakbola Kamerun mengakhiri dahaganya untuk bisa meraih gelar. Senin (06/02/17) dinihari, Kamerun sukses mengakhiri perlawan Mesir dengan skor 2-1 di partai puncak Piala Afrika 2017.

Gol kemenangan yang dicetak penyerang Besiktas, Vincent Aboubakar pada menit ke-88 menyudahi perlawanan Mesir yang sempat unggul terlebih dahulu pada menit ke-22 lewat gol pemain Arsenal, Mohamed Elneny sebelum disamakan oleh Nicolas Nkoulou pada menit ke-59.

Skuat berjuluk The Indomitable Lions itu pun berpesta di Stade de l’Amitie yang terletak di Libreville, Gabon. Sukses Vincent Aboubakar dan kawan-kawan meraih gelar Piala Afrika tahun ini membuat Kamerun sudah sebanyak lima kali meraih Piala Afrika.

Hasil fantastis ini juga membayar lunas kegagalan Kamerun di Piala Afrika edisi sebelumnya yang berlangsung di Guinea Khatulistiwa. Kala itu, Kamerun terhenti di babak kualifikasi grup.

Pada turnamen yang dimenangkan oleh Pantai Gading itu, Kamerun bahkan berada di posisi buncit grup D dan hanya meraih 2 poin hasil dari 2 kali imbang dan 1 kali kalah.

Bahkan pada Piala Afrika 2012 dan 2013, Kamerun gagal karena tidak lolos babak kualifikasi. Padahla pada Piala Afrika 2008, Kamerun sukses melenggang ke partai puncak sebelum dikalahkan oleh negara yang tahun ini mereka kalahkan, Mesir.

Padahal Kamerun kala itu dihuni oleh sejumlah pemain yang bisa dibilang sebagai generasi emas mereka seperti Samuel Eto’o yang sukses menyabet gelar top skor. Selain Eto’o, Kamerun di 2008 juga diisi oleh pemain seperti Geremi Njitap, Alexandre Song, atau Stephane Mbia.


Kekecewaan skuat Kamerun di Piala Afrika 2008.

Generasi emas Kamerun 2008 harus puas dengan gelar runner up. Menilik penampilan Kamerun di perhelatan tahun ini, Kamerun sebenarnya tampil dengan langkah awal yang tertatih-tatih di langkah pertama.

Pada laga pertama, Kamerun yang harusnya bisa meraih tiga poin malah hanya mampu bermain imbang 1-1 dengan Burkina Faso. Burkina Faso bahkan lewati Kamerun di klasemen akhir grup A dan keluar sebagai juara grup.

Hadangan kembali dialami Kamerun saat melangkah ke partai perempatfinal. Kamerun harus bertemu salah satu favorit juara, Senegal. Betul saja, bertemu Senegal, Kamerun harus bermain sampai babak adu penalti.

Beruntung bagi Kamerun, pemain terbaik Senegal tahun ini, Sadio Mane gagal eksekusi penalti dan membuat Kamerun menang 5-4 di babak adu penalti. Masuk ke semifinal, tantangan terberat dihadapi Kamerun.

Kamerun harus bertemu dengan tim kuat lainnya, Ghana. Menariknya di pertemuan melawan Ghana, Kamerun malah mampu menang meyakinkan 2-0. Gol Kamerun saat itu dicetak oleh Michael Ngadeu-Ngadjui di menit ke-72 dan Christian Bassogog di injury time babak kedua.

Tiba di partai puncak, Kamerun bertemu dengan tim yang tengah membangun negaranya usai mengalami The Arab Spring beberapa tahun lalu, Mesir.

Mengandalkan dua pemain terbaik mereka, Salah dan Elneny, Mesir berusaha mengulang kejayaan mereka bertemu Kamerun sama seperti 2008 lalu.

Sayang harapan itu kandas setelah Vincent Aboubakar cetak gol di menit-menit akhir babak kedua. Singa Kamerun pun sukses membalaskan dendam 9 tahun usai berpuasa 15 tahun lamanya.

Prestasi Kamerun di Piala Afrika: 

Sepakbola Jadi Alat Mesir untuk Bangkit Usai Alami The Arab Spring

Beberapa tahun lalu, gejolak politik melanda negara-negara Arab seperti Mesir. Negara ini alami kerusuhan politik yang mengakibatkan runtuhnya banyak sendi kehidupan. Mesir pun  berusaha bangkit, sepakbola menjadi salah satu alat untuk Negeri Piramida ini kembali menunjukkan eksistensinya.

Pada 2010 lalu terjadi efek domino politik di negara-negara Arab. Berawal dari revolusi politik yang terjadi di Tunisia pada 18 Desember 2010 lalu, berlanjut dengan revolusi di Mesir, Libya, Bahrain, Suriah, hingga ke Yaman.

Sejumlah pengamat politik Timur Tengah menyebut fenomena ini sebagai The Arab Spring, atau Musim Semi Arab, sebuah aksi gelombang unjuk rasa dan protes terhadap para pemimpin diktator dari negara-negara tersebut.

Mesir sebagai negara kedua yang alami Arab Spring usai Tunisia berada di level yang menakutkan usai penggulingan Presiden Mesir saat itu, Hosni Mubarak. Ironisnya usai Mubarak turun, Mesir justru alami perang saudara yang tak kunjung selesai.

Di tahun ini, Mesir sebagai negara yang memiliki rekam jejak sejarah panjang sebagai sebuah bangsa berusaha bangkit. Salah satu alat yang digunakan Mesir untuk kembali menunjukkan eksistensinya ialah lewat sepakbola.

Dahulu, Mesir memang salah satu negara di kawasan Afrika Utara yang memiliki banyak pesepakbola berkualitas. Bersama Maroko, Mesir jadi ‘penghasil’ pemain bintang dari Afrika Utara.

Periode 2000-an, kita tentu masih sangat familier dengan nama Ahmed ‘Mido’ Hossam. Penyerang asal Mesir yang lama berkarier di sejumlah klub top Eropa seperti Ajax, Marseille, AS Roma, hingga Tottenham Hotspur. Mido pun sukses membawa Mesir juara Piala Afrika pada 2006 lalu.

Usai Mido, Mesir kembali hasilkan pemain berkualitas. Amr Zaki, penyerang yang sempat membela Lokomotiv Moscow, Wigan, dan Hull City. Zaki pada 2008 sukses membawa Mesir meraih titel Piala Afrika usai kalahkan Kamerun di partai puncak.

Mesir memang belum kehabisan stok pemain bintang, nama Mohamed Salah ialah buktinya. Di perhelatan Piala Afrika 2017 yang berlangsung di Gabon sejak 14 Januari 2017 lalu, Mesir coba kembali menunjukkan bahwa mereka belum habis sebagai sebuah negara usai Musim Semi Arab.

Berusaha bangkit meski sulit

Pasca jatuhnya rezim Hosni Mubarak dan digantikan dengan sejumlah pemerintah berkuasa dari sipil dan militer, Mesir sebenarnya belum benar-benar pulih dari luka.

Di 2015 saja misalnya, aksi-aksi kekerasan masih sangat sering terjadi. Aksi-aksi kekerasan tersebut bahkan tidak hanya menyasar pada kelompok aktivis politik namun juga para suporter sepakbola.

Hal tersebut bisa terjadi karena sebagian besar kelompok suporter sepakbola di Mesir memang menjadikan momentum Arab Spring sebagai corong untuk menyuarakan banyak kebobrokan yang terjadi di sepakbola Mesir.

Meski masih dilanda banyak aksi kekerasan dan sejumlah aksi demo, sepakbola Mesir berusaha bangkit. Seperti dilansir dari sbnation.com, Mesir sejak 2011 lalu masih mengirimkan Tim Nasional mereka untuk bertanding di ajang resmi baik yang diselenggarakan FIFA ataupun CAF.

Federasi Sepakbola Mesir pun tak main-main untuk membangun kekuataan Timnas mereka. Federasi Sepakbola Mesir bahkan mengontrak sejumlah pelatih berpengalaman untuk mengarsiteki Timnas.

Nama-nama seperti Bob Bradley (mantan pelatih Timnas Amerika Serikat) hingga eks pelatih Inter Milan asal Argentina, Hector Cuper diminta untuk melatih Timnas Mesir.

Penujukkan Cuper pada Maret 2015 lalu menjelang perhelatan Piala Afrika tahun ini merupakan komitmen nyata dari Federasi Sepakbola Mesir untuk kembali menunjukkan pada dunia bahwa The Pharaohs masih eksis.

Namun Cuper belum menujukkan hal bagus bersama Timnas Mesir, wajar sebenarnya jika Cuper belum berbuat banyak. Pasalnya banyak ketidakberesan yang terjadi di sepakbola Mesir usai Arab Spring.

Mulai dari sanksi domestik selama dua tahun dari FIFA kepada sepakbola Mesir hingga masih bercokolnya sejumlah kepentingan rezim politik di susunan pemain untuk Timnas Mesir.

Cuper sendiri sebenarnya sudah berusaha untuk memanggil sejumlah pemain terbaik dari klub lokal Mesir namun sayang masalah politik membuat pria Argentina itu hanya mampu membangun setengah kekuatan dari klub lokal.

‘Membuang’ generasi lama dan bergantung pada wajah baru

Di awal susunan skuat yang akan dibawa Cuper ke Gabon hanya terdapat empat pemain yang terakhir bermain bersama Timnas Mesir pada 2010 lalu. Mereka adalah Ahmed Elmohamady, Mohamed Abdelshafi, Ahmed Fathi, dan pemain paling tua, Essam El Hadary.

Nama terakhir kemudian menjadi fenomenal di Piala Afrika 2017. Pasalnya Essam El Hadary ialah pemain tertua yang turun di kompetisi resmi, selain itu ia jadi mantan pensiunan pesepakbola yang kembali merumput setelah dua tahun absen.

Cuper sendiri menyebut untuk perhelatan Piala Afrika tahun ini, ia memang ‘membuang’ sejumlah pemain yang dulu sangat familiar di Timnas Mesir.

Nama-nama seperti Mohamed Aboutrika, Ahmed Hassan, Mido, dan Zidan menurut Cuper merupakan generasi yang berbeda. Cuper disebut-sebut tidak ingin pemain yang ia latih hanya bergantung pada satu atau dua pemain senior.

Alasannya kata Cuper, ketergantungan pada satu atau dua pemain senior hanya akan menimbulkan perpecahan pada satu tim. Sepertinya Cuper belajar dari kasus nyata yang pernah dialami Jerman pada perhelatan Piala Eropa 2000 lalu.

Cuper pun lebih memprioritaskan sejumlah pemain yang bisa dibilang sebagai generasi baru bagi sepakbola Mesir. Mohamed Salah dan Mohamed Elneny ialah pemain yang sangat diharapkan  Cuper sebagai penyeimbang di lini tengah saat Timnas Mesir bermain.

Selain dua nama di atas, Cuper pun berusaha mengorbitkan pemain muda Mesir yang saat ini terdaftar sebagai pemain Stoke City, Ramadan Sobhi.

Apa yang dilakukan oleh Cuper ini terbukti akurat. Saat di babak kualifikasi saja, Mesir tercatat sebagai negara yang paling sedikit kebobolan. Mesir hanya kebobolan satu gol.

Harapan untuk bisa kembali membawa sepakbola Mesir ke arah lebih baik pun sedikit terbuka di Piala Afrika 2017 ini. Berada di grup D, Mesir saat ini berada di urutan kedua dengan mengemas 4 poin.

Peluang Salah Cs untuk bisa lolos ke babak perempatfinal sangat terbuka, karena pesaing terdekatnya, Mali baru mengoleksi 1 poin. Mesir hanya butuh hasil imbang melawan Ghana sebagai pemuncak klasemen untuk bisa melangkah ke babak perempatfinal.

Ingin mengulang memori 1974 dan 1986

Mesir tidak hanya satu kali mengalami sebuah aksi revolusi di bidang politik. Pada 1952 misalnya, sejumlah gerakan perwira muda yang dipimpin oleh Gamal Abdel Nasser melakukan revolusi untuk gulingkan kekuasaan Raja Faruq.

Selang 22 tahun kemudian, Timnas Mesir hampir meraih titel pertamanya di Piala Afrika. Bertindak sebagai tuan rumah Piala Afrika 1974, Ali Abo Greisha cs harus puas sebagai juara ketiga event tersebut.

Mesir 1974 gagal ke partai puncak usai dikalahkan Zaire di babak semifinal. Zaire sendiri akhirnya keluar sebagai juara usai kalahkan Zambia di laga final yang masih menggunakan sistem home and away.

Sebenarnya Mesir sudah pernah meraih titel juara Afrika pada 1957 dan 1959, namun saat itu mereka masih menggunakan nama Republik Uni Afrika.

Pada perhelatan Piala Afrika 1986, Mesir yang kembali menjadi tuan rumah sukses meraih titel Piala Afrika. Bertemu Kamerun yang saat itu diperkuat oleh bintang mereka, Roger Milla, Taher Abouzaid cs sukses pecundangi mereka lewat babak adu penalti usai di waktu normal hanya mampu bermain tanpa gol.

Piala Afrika 2017 ini, Mesir pun berupaya untuk kembali meraih titel juara di tengah kondisi dalam negeri yang masih berada di kondisi transisi secara politik, sosial, dan budaya. Sama persis yang mereka alami usai revolusi 1952.

 

 

 

Mengenal Belanda Totok Kelahiran Pekalongan yang ‘Ajari’ van Persie Cetak Gol Indah

Berstatus sebagai pesepakbola, nama Beb Bakhuys ialah satu dari sekian banyak orang Eropa yang lahir di tanah jajahan. Bakhuys lahir di Pekalongan, Jawa Tengah saat Indonesia masih dijajah bangsa kolonial Belanda.

Kala Indonesia masih menjadi daerah jajahan bangsa kolonial Belanda, sejumlah orang yang lahir di negeri dikenal dengan sebutan nama Belanda Totok.

Belanda Totok ialah sebutan untuk anak yang lahir di negeri jajahan seperti Indonesia namun memiliki ayah dan ibu yang asli berdarah Belanda. Sebutan Belanda Totok juga biasa diungkap kepada orang asli Belanda yang baru datang ke Indonesia saat negeri ini masih bernama Hindia Belanda.

Dari sejumlah literatur berbahasa Belanda, terdapat banyak tokoh yang jika ditelusuri latar belakangnya ialah seorang Belanda Totok. Dari kalangan intelektual kita mengenal nama Eduard Douwes Dekker atau yang lebih dikenal dengan nama Multauli.

Tidak hanya dari kalangan intelektual, politikus, ataupun public figure lainnya, garis keturunan Belanda Totok juga terdapat di skuat Timnas Belanda.

Salah satunya yang mungkin jarang didengar ialah pesepakbola era 30-40an, Beb Bakhyus. Nama pemain kelahiran Pekalongan, 16 April 1909 ini terbilang cukup spesial, pasalnya di Negeri Kincir Angin, ia dianggap sebagai salah satu legenda.

Siapa sebenarnya Bakhuys? Apa saja kontribusi yang ia berikan untuk Timnas Belanda? Bagaimana kariernya di level klub?

Dari Pekalongan ke Den Haag

Lahir di Pekalongan di saat Indonesia masih bernama Hindia Belanda, Bakhuys memulai karier profesionalnya di klub bernama HBS Craeyenhout. Klub yang berbasis di Den Haag, Belanda.

Di era Bakhuys memulai karier, HBS merupakan salah satu klub kuat di Belanda. Klub ini tercatat telah memenangkan tiga gelar juara liga Belanda yakni 1903/04, 1905/06, dan 1924/25.

Saat HBS meraih gelar juara terakhirnya, Bakhyus masuk dalam jajaran skuat, ia tercatat melakoni 9 laga dan mencetak 6 gol.

Sejumlah literasi media Belanda era 30-an seperti disadur dari hartvannederland.nl menyebut sebagai seorang penyerang Bakhuys sedari awal memulai debutnya sudah menarik perhatian banyak pihak.

Bakhuys disebut jadi sedikit pemain di era tersebut yang memiliki tendangan keras mematikan dari jarak 30-40 meter, selain itu ia memiliki kemampuan yang bagus dalam hal dribling bola. Bakhuys juga tipikal penyerang tengah yang mampu mencari celah dan mencari ruang kosong di sektor pertahanan lawan.

Naik kapal uap ‘demi’ bela Surabaya

Ada kisah menarik yang dituliskan media Belanda era 1930-an soal hijrahnya Bakhuys dari Belanda kembali menuju Hindia Belanda.

Seperti dilansir javapost.nl, Bakhuys rela naik kapal uap Patria menuju Batavia. Mengapa ia lakukan itu? Padahal setelah membela HBS, Bakhuys sempat membela ZAC (cikal bakal dari klub PEC Zwolle).

Bakhuys memang tercatat hanya sampai umur 7 tahun di Hindia Belanda. Sang ayah, Bakhuys van der Mandele seorang pekerja di pabrik gula di daerah Tegal memilih memboyong anak-anaknya ke Belanda pasca kematian sang istri.

Uang jadi tujuan utama Bakhuys hingga rela kembali ke Hindia Belanda. Tiba di Batavia, ia mendapatkan pekerjaan di Batavia Petroleum Company dan ditempatkan di Surabaya.

Keinginannya untuk terus bermain sepakbola bisa sedikit terobati setelah tiba di Surabaya, ia sempat bergabung dengan klub amatir sepakbola bernama Tot Heil Onzer Ribbenkast (THOR). Seperti dilansir dari
indisch4ever.nu, Thor ialah klub sepakbola yang didirikan orang Belanda dan cukup eksis di era tersebut utamanya di Pulau Jawa.

Beberapa bulan kemudian, seperti dilansir dari javapost.nl, Bakhuys dipercaya masuk tim sepakbola Surabaya melawan Semarang.

Masuknya Bakhuys di skuat Surabaya sukses membuat tim tersebut menang telak 11-1 atas Semarang di laga persahabatan.

“Dia (Bakhuys) mencetak 6 gol saat itu. Ia memiliki kecepatan yang luar bisa. Penonton di sore itu begitu berdecak kagum dengan skill-nya. Lapangan saat itu penuh sesak orang-orang yang ingin menyaksikan pertandingan,” tulis javapost.nl

Pemain kedua Belanda yang berkarier di Eropa

Catatan sejarah yang dilansir dari javapost.nl menyebutkan bahwa perusahaan yang mempekerjakan Bakhuys alami kebangkrutan.

“Dewan kehakiman Surabaya menyatakan kebangkrutan untuk perusahaan itu,”

Hal ini yang kemudian mendorong Bakhuys pulang kembali ke Belanda. Tiba di Belanda pada 1933, pemain bernama lengkap Elisa Hendrik Bakhuys membela klub lamanya, ZAC.

Setelah sempat membela Venlose Voetbal Vereniging (VVV) setengah musim yakni 1937, datang tawaran kontrak dari klub asal Prancis, FC Metz.

Tanpa berpikir panjang, Bakhuys pun mengambil tawaran kontrak tersebut. Ia membela klub Metz sejak 1937 hingga 1946. Bergabungnya Bakhuys ke Metz mencatatkan dirinya sebagai pemain kedua asal Belanda yang berkarier di Eropa.

Karier Bakhuys di Metz terbilang cukup sensasional, namanya tercatat di Golden Book milik klub. Bahkan Metz menyebut bahwa Bakhuys ialah sosok pemain yang sejajar dengan seorang Johan Cruyff.

Seperti dilansir situs resmi klub, fcmetz.com, pada musim 1945/1946, Bakhuys memainkan 1440 menit. Ia mencetak 5 gol dari 16 pertandingan yang dilakoni.

‘Ajari’ van Persie sundulan terbang

Ingat dengan gol fantastis yang dilakukan oleh Robin van Persie ke gawang Spanyol di Piala Dunia 2014 lalu? Eks penyerang Man United itu membuat kagum dunia dengan cara tak biasanya menyundul bola.

Namun rupanya hal itu juga pernah dilakukan senior van Persie di Timnas. Bakhuys disebut-sebut ialah pemain pertama Belanda yang melakukan sundulan terbang jauh sebelum van Persie dilahirkan.

Seperti dilansir hartvannederland.nl, pada 11 Maret 1934, Bakhuys mencetak gol yang mirip dengan gol van Persie saat pertandingan Belanda vs Belgia di Stadion Olympic.

“80 tahun sebelum van Persie cetak gol dengan cara seperti itu, Bakhuys juga melakukan hal serupa. Gol indah ialah satu dari 9 gol yang dicetak Belanda ke gawang Belgia di pertandingan itu,” tulis hartvannederland.nl

Satu-satunya pembeda dari gol tersebut ialah menit terciptanya gol. Jika van Persie mencetak gol ke gawang Spanyol pada menit ke-44, Bakhuys mencetaknya pada menit ke-15.

Karier Bakhuys di Timnas Belanda memang tergolong mengkilap. Ia disebut sebagai salah satu legenda Orange di era tersebut. Selama membela Belanda, ia mencetak 28 gol dari 23 pertandingan.

Nama Bakhuys juga tercatat sebagai skuat Timnas Belanda yang bermain di Piala Dunia pertama 1934 di Uruguay. Sayang di perhelatan ini, Belanda dikalahkan Swiss dengan skor 2-3.

%d bloggers like this: