Jangan Harap Sepakbola Indonesa Maju, Itu Hanya Fiksi Belaka

Entah apa yang dirasakan oleh Micko Pratama saat ia dan rombongan bonek lainnya berangkat dari rumahnya dari Sidoarjo menuju Bantul, Yogyakarta. Yang pasti hanya ada keinginan untuk mendukung klub kesayangannya, Persebaya Surabaya yang akan bertanding melawan PS Tira di lanjutan kompetisi Liga 1 2018.

Menumpang truk, para bonek ini kemudian malah dihadang orang-orang tak bertanggung jawab saat melintas di Pasar Kleco, Solo. Bentrokkan tak terhindarkan. Lemparan batu tak bisa dicegah. Dikutip dari laporan bolasport.com (15/04/18), rekan dari Micko menuturkan bahwa tiba-tiba saja ada orang tak bertanggung jawab melempari mereka batu.

“Kejadian itu sangat-sangat seram. Kami dilempari batu,” kata Anggun Yulianto. Mengapa tiba-tiba mereka dilempari batu? Menurut Anggun, hal itu disebabkan adanya rombongan bonek sebelumnya yang melakukan tindakan tidak terpuji dengan menjarah kios pedagang.

“Sebelumnya memang ada rombongan yang menjarah di sana, tetapi imbasnya kepada kami,” kata Anggun. Malang bagi Micko, lemparan batu mengenainya dan terjatuh dari truck. Orang tak bertanggung jawab yang sudah kesetanan itu langsung mengeroyok ramai-ramain Micko hingga berpulang ke Ilahi.

Darah segara kembali harus jatuh ke ibu bumi. Orang tak bersalah dan hanya berkeinginan untuk mendukung klub kesayangannya harus jadi tumbal. Siapa yang salah ? Siapa yang harus bertanggung jawab ? Entahlah.

Insiden meninggalnya Micko menambah panjang korban tak berdosa di sepakbola Indonesia. Bentrok antara suporter atau bentrok dengan orang tak bertanggung jawab seperti jadi hal lumrah di sepakbola Indonesia. Nyawa di sepakbola Indonesia seperti sedemikan murah sehingga jika kejadian itu terulang kembali hanya ada sepenggal kalimat penyesalan tanpa ada rasa ingin insiden jangan sampai terulang kembali.

Mari flash back, bagaimana kalimat penyesalan bertaburan pasca meninggalnya Gilang, Harun Al Rasyid, Agen Astrava, Ricko Andrean, Catur Yuliantono, atau suporter lain yang harus merenggang nyawa di sepakbola Indonesia. Sayangnya kalimat penyesalan itu tak bertahan lama dan darah kembali jatuh di sepakbola Indonesia.

Tak bermaksud menghakimi namun instrospeksi kubro harusnya dilakukan semua pihak di sepakbola Indonesia. Sementara kita semua melakukan instrospeksi kubro, ada baiknya tinggalkan dahulu angan dan mimpi kita melihat Timnas Indonesia berprestasi. Jangan pernah berharap atau bahkan bermimpi sepakbola Indonesia bakal maju jika empati terhadap sesama suporter masih sangat minim.

Jangan juga para suporter lantas memberi alasan, di negara lain juga sering bentrok dan Timnas mereka berhasil. Faktanya nyawa di negara lain yang juga terjadi bentrok karena sepakbola tak semurah di negeri ini. Dan jika ingin berkaca, bentrok yang terjadi di sejumlah negara lain juga dilatarbelakangi oleh faktor yang lebih mengakar dibanding hanya karena saling hina.

Tak percaya? Silahkan bedah laporan berjudul ‘SUPPORTERS’ MOVEMENT “AGAINST MODERN FOOTBALL” AND SPORT MEGA EVENTS: EUROPEAN AND POLISH CONTEXTS yang dipublsih oleh Universitas of Lodz. Di sana berisi apa yang menjadi latar belakang suporter sepakbola di sejumlah negara di Eropa saling baku hantam.

Laporan dari panditfootball.com (15/04/18) juga bisa jadi referensi untuk mereka yang merasa bentrok antar suporter ialah bumbu di sepakbola. Baku pukul antara suporter di Eropa, memiliki aturan tidak tertulis yang wajib dipatuhi semua pihak, TIDAK SALING MEMBUNUH.

 

 

Advertisements

‘Kutukan’ 79 Tahun yang Buat Negara Asia Tenggara Absen di Piala Dunia

79 tahun terakhir sejak Hindia Belanda berkiprah di Piala Dunia 1938 sampai perhelatan Piala Dunia 2018 mendatang di Rusia, negara di kawasan Asia Tenggara selalu absen. Kawasan ini jadi garis terakhir dari pergulatan sepakbola dunia.

Pada perhelatan Piala Dunia 1938, Indonesia yang masih dalam jajahan bangsa kolonial Belanda, ikut ambil bagian. Saat itu Indonesia masih menggunakan nama Hindia Belanda.

Skuat Hindia Belanda saat itu datang ke perhelatan ketiga Piala Dunia dengan bermaterikan sejumlah pemain yang mayoritas berasal dari klub lokal seperti Hercules Batavia, Djocoja Djogjakarta, Sparta Bandung, serta SVV Semarang.


Timnas Hindia Belanda di perhelatan Piala Dunia 1938 (FIFA.com).

Meski kalah telak 0-6 dari salah satu kekuataan Eropa kala itu, Hungaria di babak pertama dan langsung tersingkir, penampilan Achmad Nawir dan kawan-kawan sempat mendapat ulasan khusus dari koran Prancis, L’Equipe edisi 06 Juni 1938.

“Gaya menggiring bola pemain depan Tim Hindia Belanda, sungguh brilian,” tulis laporan L’Equipe.

Sayang usai pertandingan Hungaria vs Hindia Belanda yang berlangsung di kota Reims pada 05 Juni 1938 itu hingga detik ini belum ada satu pun negara dari kawasan Asia Tenggara yang bisa tampil di pentas Piala Dunia.

Padahal kawasan ini memiliki 600 juta penduduk atau separuh dari jumlah populasi di dunia. Sepertinya federasi-federasi negara di kawasan Asia Tenggara cukup kesulitan untuk bisa mencari starting eleven terbaik demi maju ke pentas Piala Dunia.

Sejumlah negara termasuk Indonesia secara bergantian dalam beberapa tahun ke belakang sempat menjadi sorotan pemerhati sepakbola dunia. Negara-negara ini dianggap akan bisa tampil di pentas Piala Dunia.

Myanmar misalnya pada 1968 sukses menjadi runner up ajang Piala Asia. Negara yang sekarang dikuasai Junta Militer ini pun dianggap banyak pihak saat itu sangat memenuhi syarat bisa tembus Piala Dunia.

Sayang Myanmar harus keok kala bertemu China, Israel, dan Hongkong di babak kualifikasi Piala Dunia 1970. Usai Myanmar, Thailand mencoba untuk memutus kutukan usai tampilnya Hindia Belanda di Piala Dunia 1938.

Sayang di babak playoff Piala Dunia 1974, Thailand harus menyerah dengan skor cukup telak 0-4 dari Kuwait. Setelah era tersebut, pemberitaan soal sepakbola kawasan Asia Tenggara mulai tenggalam dari pentas internasional.


Peta negara kawasan Asia Tenggara (Asia Society).

Di era-era 60-an akhir hingga 70-an, sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara tengah sibuk dengan pergulatan politik dalam negeri masing-masing. Era Perang Dingin yang membuat dunia terbelah menjadi dua kutub juga menjadi pangkal kondisi tak mengenakkan itu.

Bahkan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara seperti Vietnam, Laos, Kamboja, dan Myanmar harus terisolasi dari pergaulan internasional setelah kediktatoran militer mengusai pemerintah di negara-negara tersebut.

Kala negara di kawasan Asia Tenggara berusaha bangkit usai huru hara politik era 60-an dan 70-an, sepakbola mereka sudah cukup jauh tertinggal. Benua Afrika mulai menunjukkan geliatnya di pentas Piala Dunia.

Mendekati era 90-an, Arab Saudi menjadi wakil Asia yang mampu lolos sampai babak 16 besar Piala Dunia 1994. Geliat sepakbola kawasan Asia kembali dilanjutkan oleh negara-negara dari kawasan Asia Timur.

Jepang dan Korea Selatan sampai detik ini bisa dibilang sebagai negara dari kawasan Asia yang sukses. Selain menjadi negara Asia pertama yang menjadi tuan rumah Piala Dunia, khusus untuk Korea Selatan mereka bisa sampai tembus ke babak semifinal Piala Dunia 2002.

Kemana negara dari kawasan Asia Tenggara? Seolah jadi kutukan, kehadiran Hindia Belanda di pentas Piala Dunia edisi ketiga malah ‘menutup’ peluang negara lain kembali tunjuk skill di Piala Dunia.

Geliat PSSI di Bawah Pimpinan Eks Komandan Pleton Kopassus

Sepakbola Indonesia tengah bergeliat usai Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mencakut Surat Keputusan Pembekuan induk sepakbola negeri ini, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).

Momentum kebangkitan sepakbola Indonesia lewat PSSI sebenarnya sudah mulai terlihat saat perhelatan Piala AFF tahun lalu. Energi positif terasa betul di kalangan pencinta sepakbola nasional, dan masyarakat Indonesia khususnya saat Tim Nasional besutan Alfred Riedl mempersiapkan diri untuk mengikuti turnamen itu.

Meski akhirnya Indonesia kembali berada di urutan kedua di bawah Thailand di akhir kompetisi, api positif di jaga betul oleh kepengurusan PSSI serta semua stackholder sepakbola nasional, termasuk media di dalamnya.

Keresahan mulai timbul saat Kongres PSSI terkait nasib 7 klub yang di era PSSI sebelumnya di bekukkan dari sepakbola nasional. PSSI mampu meredam kekhawatiran bakal terulang hal buruk di sepakbola nasional akibat kasus tersebut.

Di bawah pimpinan Letjen Edy Rahmayadi, PSSI memiliki posisi tawar yang begitu kuat namun memiliki kerendahan hati untuk mendengar suara dari akar rumput, kasus Persebaya Surabaya bisa jadi contohnya.

Meski di awalnya, pro kontra terkait latar belakang Edy yang notabene juga menjabat Panglima Komandan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) juga jadi sorotan, namun mantan Komandan Pleton (Danto) di jajaran Kopassus pada 1985 ini mampu menjawabnya dengan profesional.


Letjen Edy Rahmayadi (Credit Photo:rmol.com).

Program-program kerja yang tengah diusung pengurus baru PSSI dibawah komando Edy pun terlihat secara nyata memiliki sinergitas dengan pihak terkait seperti Kemenpora misalnya. Kita bisa ambil satu contoh nyata, yakni soal pemain muda. Saat sejumlah media memberitakan terkait kritik membangun soal pembinaan pemain muda, PSSI pun menjawabnya dengan mencoba bersinergis dengan Kemenpora yang juga ingin agar pemain muda mendapat perhatian lebih.

Pemain muda Indonesia yang ada di luar negeri pun mendapat sorotan dari PSSI, hal ini dilakukan menapung suara akar rumput dan Kemenpora saat melihat banyaknya pemain muda berdarah Indonesia yang berkarier di luar negeri.

Soal kompetisi, tahu betul bahwa dari tahun ke tahun kompetisi sepakbola nasional selalu dihantui masalah, Edy dengan tegas berusaha mengurai benang kusut masalah tersebut. Salah satu benang kusut yang coba di urai ialah soal wasit. Kamis, 02 Februari 2017, Edy melantik 38 wasit yang akan menjadi pengadil di perhelatan Piala Presiden 2017.

Meski sekedar turnamen pembuka musim, Edy menganggap wasit wajib menandatangani pakta intergritas untuk mendukung kemajuan sepakbola nasional lewat peran mereka di tengah lapangan. Tak tanggung-tanggung, Edy bahkan memberi ultimatum keras, jika ada wasit yang terindikasi melanggar sportifitas dan menguntungkan salah satu klub, hukumannya ialah,

“Sanksinya kita coret dari urusan perwasitan,” kata pria kelahiran Aceh ini.

Semoga geliat dan energi positif ini terus dipertahakan dan dijaga tidak hanya oleh PSSI tapi seluruh lapisan masyarakat Indonesia, dan tentu saja dari pihak yang terlibat di sepakbola nasional, mulai dari klub, suporter, dan pemain.

Deretan Pesepakbola Asal Papua yang Coba Rintis Karier di Eropa

Anggaran Penerimaan Belanja Daerah (APBD) Papua pada 2016 hanya sekitar Rp1 triliun, angka ini turun 65 persen jika dibanding dengan APBD tahun sebelumnya. Papua yang penuh dengan ’emas’ memang selalu terpinggirkan dalam banyak hal.

Dana ‘kecil’ tersebut kemudian lebih banyak dialokasikan untuk proyek pembangunan infrastruktur, utamanya pembangunan jalan yang memang sangat dibutuhkan di Papua. Jadi bisa dibayangkan, berapa total anggaran di serap oleh dinas Olahraga Papua, tentu sangat sedikit.

Namun, terlepas dari hal tersebut, Papua tak pernah menyerah. Talenta berbakat dari provinsi paling timur Indonesia selalu muncul tiap tahunnya. Di bidang sepakbola, stok pemain berkualitas asal Papua selalu muncul.

Di tengah keterbatasan, pesepakbola muda Papua muncul dan membuat publik terhenyak dengan talenta dan skill mereka. Tidak hanya publik nasional yang berdecak kagum dengan skill dan kemampuan pesepakbola Papua, dunia Internasional bahkan mengakuinya.

Tidak mengherankan jika kemudian, sejumlah klub asal Eropa memiliki minat besar untuk bisa mendidik dan merekrut pesepakbola asal Papua. Sejumlah pesepakbola Papua yang bertalenta beruntung saat ini tengah merintis di Eropa. Siapa saja mereka?

Andreas Gobai

Pesepakbola yang berposisi sebagai penjaga gawang ini ialah salah satu dari dua pemuda asal Papua yang sukses mengikuti training camp Manchester United di Bali beberapa waktu lalu. Gobai rencananya akan mengikuti training di Manchester United.

Gobai sendiri merupakan anak didik di sekolah sepakbola (SSB) Petra. “Ini sudah dua kali anak didik kami lolos ke Mancester United. Sebelumnya ada Delvin Taplo,” kata Billy Brando, salah satu pelatih SSB Petra Sentani.

Billy mengatakan lolosnya dua anak didik SSB Petra ke Manchester United untuk ikuti latihan jadi momentum sangat baik bagisepakbola Papua. Ini jadi salah satu bukti bahwa sepakbola Papua tidak pernah kehabisan bakat hebat di lapangan hijau.

Daniel Pahabol

Selain Gobai, satu lagi siswa dari SSB Petra yang juga catatkan nama bagus di ajang training camp Manchester United di Bali beberapa waktu lalu. Ia adalah Daniel Pahabol. Jika Gobai berposisi sebagai kiper, maka Pahabol ialah seorang penyerang.

Silas Ohee, pemiliki sekaligus pelatih di SSB Petra mengatakan bahwa prestasi anak asuhnya merupakan hasil dari ketulusan dan komitmen yang tinggi dari SSB untuk pembinaan sepakbola di usia dini.

“Untuk sampai pada tahapan seperti ini tidak semua orang mau melakukannya, apalagi tanpa dukungan dari pihak lain. Ini sudah menjadi komitmen kami dengan tanpa henyi melakukan yang terbaik bagi anak didik kita,” kata Ohee.

Delvin Taplo

Sebelum Gobai dan Pahabol, ada juga siswa dari SSB Petra yang berangkat ke Manchester, Inggris untuk training camp. Ia adalah Delvin Taplo. Delvin yang akrab disapa Deltex sempat berlatih di Manchester United Soccer School.

Menurut Deltex seperti dilansir situs resmi SSB Petra mengatakan bahwa dua juniornya, Gobai dan Pahabol akan mendapat banyak hal saat mendapat ilmu di Manchester.

“Salah satu ilmu yang saya dapat disana ialah soal kedisplinan. Disana pemain harus memiliki displin yang tinggi. Itu terlihat dari latihan mereka yang benar-benar fokus dengan memperhatikan intruksi pelatih,” kata Deltex.

Revalino Marbon

Pada 2014 lalu, tak publikasi yang banyak dari media nasional, klub lokal asal Papua sukses membuat silau eks finalis Liga Champions asal Spanyol, Valencia dengan talenta pemain mereka.

Klub, Reliv Crhista FC yang saat itu melakukan tur ke Belanda menghasilkan sejumlah pemain mereka yang kemudian dibidik oleh klub Eropa, salah satunya Valencia.

Ada lebih dari dua pemain klub ini yang ditarik oleh Valencia untuk melakukan training camp. Salah satunya ialah Revalino Marbon.

“Untuk Revalino sudah berangkat pada Minggu (19/06) lalu sedangkan ketiganya akan menyusul secepatnya,” kata Mesak.

Revalino sendiri akan berada di Valencia selama satu tahun. Revalino menurut Mesak selain berkarier di Valencia juga untuk melanjutkan studi pendidikannya di luar negeri.

Marinus Wanewar

Selain Revalino Marbon, pemain binaan klub Reliv Crhista FC yang juga dibidik oleh Valencia ialah Marinus Wanewar. Berbeda dengan program Espanyol B yang sempat merekrut Evan Dimas, perekrutan pemain muda Papua ini merupakan permintaan resmi dari Valencia.

Peluang para pemain muda Papua ini untuk mendapat kontrak resmi dari Valencia tergantung hasil evaluasi mereka setelah magang selama tiga bulan.

Wanewar sendiri sebelumnya sempat membela Persipura dan memperkuat tim PON Papua dan tim PON Papua Barat.

Kini Dikendalikan Kapten Tempur, Bagaimana Kabar Sepakbola di Kota Rafflesia?

Pernah menjadi kampiun divisi satu Galatama pada 1992, kondisi sepakbola di Bengkulu terbilang cukup memprihatinkan. Didirikan pada 1970, klub ini bahkan sempat dirumorkan ditutup karena terkendala dana. Sekarang setelah PSSI dipimpin oleh Edy Rahmayadi yang berlatarbelakang militer, bagaiamana nasib PS Bengkulu saat ini?

Sepakbola Bengkulu yang beberapa tahun kebelakang jarang terdengar kabarnya, mendadak jadi sorotan. Bukan karena prestasi namun karena insiden memalukan yang dilakukan oleh pemain dari salah satu klub sepakbola di Bengkulu, PS Bengkulu Tengah (PS Benteng), Cholid Dalyanto bertindak kasar hingga memukul dan menginjak kepala wasit saat tim ini bermain di Liga Nusantara melawan Persiku Kudus pada November 2016 lalu.

Kabar buruk tersebut sempat mereda. Jelang pergantian tahun 2016, angin segar tertiup bagi kondisi sepakbola Bengkulu. Bengkulu yang memiliki klub sepakbola bernama PS Bengkulu memiliki ketua umum pengurus cabang PSSI.

Pengcab PSSI kota Bengkulu seperti dilansir dari rbtv.co.id kini dipimpin oleh Kapten Inf Akhirudin. Danramil Selebar Bengkulu ini terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Cabang (Muscab) PSSI yang berlangsung di Bengkulu, 28 Desember 2016 lalu.

Terpilihnya Kapten Inf Akhirudin sebagai Ketua Umum Pengcab PSSI Bengkulu ini mendatangkan sejumlah perubahan. Wakil Ketua Asprov Bengkulu, Syamsurizal Idris seperti dilansir harianrakyatbengkulu.com mengatakan terpilihnya Kapten Akhirudin juga meresmikan PSSI Kota Bengkulu berubah nama menjadi Assosiasi PSSI Kota (Askot) Bengkulu, sesuai dengan nomenklatur yang telah ditentukan oleh PB PSSI.

“Jadi setelah ini nama PSSI Kota resmi menjadi Askot Bengkulu, dan ke depannya nama Muscab pun akan berganti menjadi Kongres Askot Bengkulu. Selamat kepada Ketua Umum Askot Bengkulu terpilih, semoga bisa memberikan harapan baru dalam memajukan sepakbola Kota Bengkulu,” kata Syamsurizal.

Selain itu yang tidak kalah penting dengan terpilihnya Kapten Inf Akhirudin juga datangkan angin segar untuk perkembangan salah satu klub Bengkulu yang lain, PS Bengkulu, klub asli kota Raflesia yang pernah mencicipi gelar juara divisi satu Galatama pada 1992 silam.

Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi PS Bengkulu memang terbilang cukup memperhatinkan. Masalah klasik, soal dana jadi hal yang menghambat perkembangan sepakbola Bengkulu, PS Bengkulu khususnya.

Meski terseok-seok karena kondisi dana, PS Bengkulu masih bertarung di Indonesia Soccer Championship (ISB) B. Sayang kiprah PS Bengkulu di ISC B hanya sampai di sampai di babak kualifikasi Grup 2. PS Bengkulu hanya mampu meraih 2 kali kemenangan, 3 kali imbang, dan 5 kali menelan kekalahan.

Meski begitu semangat masyarakat pencinta sepakbola di Bengkulu tak pernah surut. Akar sepakbola diciptakan dari tingkatan junior, bibit sepakbola dari putra asli Bengkulu coba digulirkan.

Berikut ulasan sepakbola Bengkulu utamanya PS Bengkulu serta visi misi dari Ketua Pengcab PSSI Bengkulu yang anyar, Kapten Inf Akhirudin:

Mengenang sejarah kejayaan Sepakbola Bengkulu

PS Bengkulu berdiri pada 1970 silam, dalam perjalanannya PS Bengkulu sempat alami masa kejayaan kala meraih gelar juara divisi satu Galatama pada 1992 silam.

Pada awal berdirinya, PS Bengkulu bernama Persatuan Sepak Bola Empang Kahulu (Persipang), baru pada 1983 nama PS Bengkulu digunakan. Perubahan nama itu agar mewakili keseluruhan daerah di Bengkulu.

Sebelum meraih gelar pada 1992, PS Bengkulu juga sempat meraih posisi kedua di kompetisi divisi I pada 1984 silam. Hasil ini membuat PS Bengkulu berhak tampil di divisi utama bersama 12 klub elit Indonesia lainnya.

PS Bengkulu saat itu berada di grup timur, bersama dengan klub-klub besar seperti Persebaya Surabaya, Persipura, PSM Ujung Pandang, Persema Malang, dan PSIS Semarang.

Saat main di Divisi Utama Perserikatan ini, PS Bengkulu dilatih nama besar dari Belanda. Ia adalah Jan Zwartkruis. Sepak terjang Zwartkruis cukup mengkilap. Ia pernah menjabat sebagai asisten pelatih Ernst Happel saat Belanda meraih runner up Piala Dunia 1978.

Syamsurizal Idris, eks Adminstrator PS Bengkulu seperti dilansir bengkuluekspress.com mengkisahkan bahwa PS Bengkulu juga pernah meraih gelar Piala Caltex pada 1997 silam.

”Dengan sejumlah prestasi itu, PS Bengkulu sangat disegani di tingkat nasional. Dan pada tahun 1997 PS Bengkulu juga berhasil menjuarai piala Caltex di Pekan Baru,” terangnya.

Bahkan pada 1987, PS Bengkulu berkesempatan untuk melawan Timnas Brasil junior dalam laga persahabatan. Kedua tim bertanding di Stadion Sawah Lebar.

Menariknya, tidak hanya PS Bengkulu yang berprestasi, di era 80-an Bengkulu juga memiliki 2 wasit berlisensi Federation of International Football Association (FIFA). Kala itu Indonesia hanya memiliki 4 wasit berlisensi FIFA, dua wasit dari Bengkulu itu ialah Zulkifli Chaniago dan Adnan Setiawan.

Kekinian sepakbola Bengkulu juga memiliki pelatih berlisensi Asian Football Confederation (AFC), ia adalah M Nasir. Tidak banyak pelatih yang memegang lisensi A dari Asian Football Confederation (AFC), hanya 66 orang, dan salah satunya ialah Nasir. Nasir pernah melatih PS Bengkulu namun ia memilih mundur pada Juli 2016 lalu.

Tak mampu bayar sewa kamar hotel

Dana memang jadi masalah klasik yang acapkali dihadapi oleh klub sepakbola negeri ini. Sejak Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) 59 tahun 2006 berlaku, pemerintah daerah memang dilarang memberi bantuan dana kepada klub sepakbola profesional.

Bagaimana untuk klub amatir dan semi profesional? Saat Jokowi berkuasa, eks Gubernur DKI Jakarta ini memerintahkan agar Menteri Dalam Negeri memberikan bantuan dana dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) untuk klub berkategori amatir.

Sayangnya, hal itu tidak bisa langsung dirasakan efeknya oleh klub-klub lokal daerah yang selama ini menggantungkan keuangannya dari dana APBD seperti PS Bengkulu misalnya.

PS Bengkulu bahkan saat bertanding di ISC B 2016 seperti dilansir dari grup fans mereka di media sosial menyebut bahwa skuat klub berjuluk Tobo Kito ini pernah kesulitan untuk bisa membayar sewa kamar hotel saat laga tandang.

“Sedangkan di penginapan saat ini sangat menyedihkan melihat pemain PS Bengkulu harus tidur satu kamar diisi 5 orang, harga sewa 1 kamar Rp 100.000/hari. Itu semua di lakukan PS Bengkulu karena keterbatasan dana,” tulis fanspage PS Bengkulu.

Krisis finansial memang tengah dirasakan oleh PS Bengkulu. Bahkan untuk bisa menutup biaya selama berlaga di ISC B, kelompok suporter PS Bengkulu, Panglimania, menggalang bantuan dana.

Sayangnya semangat yang tengah dibangun oleh barisan suporter PS Bengkulu justru dijawab oleh pemerintah daerah dengan rencana membuat klub anyar bernama Rafflesia FC.

“Nanti ada Rafflesia FC. Jadi memang kita ingin membangun sebuah tim sepakbola baru,” kata Gubernur Bengkulu, Ridwan Mukti seperti dilansir dari harian Raykat Bengkulu, edisi 24 Agustus 2016.

Hal ini tentu saja jadi pro kontra bagi suporter PS Bengkulu. Sebagian besar mengkritik keinginan dari Ridwan Mukti. Mereka menganggap bahwa tindakan tersebut tidak masuk akal, selain itu menutup PS Bengkulu dan menggantinya jadi Rafflesia FC juga membuat identitas klub sebagai ciri khas dari kota Bengkulu jadi menghilang.

Penciptaan bibit muda sejalan dengan visi misi Ketum Anyar

Kendala dana yang jadi masalah klasik bagi klub di Indonesia, begitu juga yang dialami PS Bengkulu. Namun, semangat untuk tetap memanjukan sepakbola lokal patut mendapat apresiasi dan perhatian dari pihak terkait.

Mendidik talenta muda di lapangan hijau jadi pusat perhatian PS Bengkulu. PS Bengkulu tak pernah surut untuk mengirimkan anak-anak muda Bengkulu untuk bertanding di daerah lain.

Pada November 2016 lalu, PS Bengkulu junior yang diisi pemain asli Bengkulu tetap mengikuti Piala Soeratin junior. Meski tanpa bantuan dana dari pemerintah daerah, para pemain besutan duet pelatih Martos dan Nugroho TP ini tetap bertanding untuk mengejar jam terbang bertanding.

Gebrakan dari PS Bengkulu segaris dengan visi misi Kapten Akhiruddin sebagai ketua anyar Askot PSSI Bengkulu. Akhiruddin yang dilantik beberapa waktu lalu sudah memiliki rencana 4 tahun ke depan.

Talenta muda jadi sorotan bagi Akhiruddin. Ia ingin menciptakan kompetisi sepakbola di Bengkulu dari berbagai tingkatan umur.

“Seperti apa komitmen kita akan kompetisi ini. Apakah fokus kita pada hadiah atau prestasi para pemain? Karena kompetisi yang akan dilaksanakan nantinya adalah berjenjang, mulai dari tingkat SSB, remaja, SMA, hingga klub amatir yang ada,” kata Akhiruddin.

Hal itu juga yang dilakukan senior Akhiruddin, Letjen Eddy Rahmayadi yang memimpin PSSI. Edy pun berbenah pasca Timnas Indonesia kembali jadi runner up di Piala AFF beberapa waktu lalu.

Blueprint dari Eddy salah satunya ialah soal database pemain muda di Indonesia.

“Nantinya akan saya bagi menjadi tiga sektor. Sektor Indonesia bagian barat, tengah, dan timur. Barat dari mulai Sabang sampai ke Lampung. Lalu bagian tengah dari Jawa dan Kalimantan. Serta bagian Timur mulai dari Bali sampai ke Papua,” ujar Eddy.

“Zona-zona ini akan melahirkan setiap tahun pemain-pemain dari mulai usia 15 tahun, 17 tahun, dan 19 tahun dan akan dimasukkan ke database.”

Kawasan Miei, Tempat Embrio Talenta Hebat Tanah Papua di Lapangan Hijau

Nama-nama seperti Ortizan dan Boaz Solossa, Imanuel Wanggai, Ian Kabes, serta Titus Bonai merupakan generasi tanah Papua yang memiliki talenta hebat di lapangan hijau. Jauh ke belakang, ada nama Daniel Hanasby yang disebut-sebut sebagai pemain Papua pertama yang main di Belanda. Tanah Papua merupakan tanah yang banyak hasilkan pesepakbola hebat.

Tanah Papua dengan keindahan dan kekayaan alamnya tengah jadi bahan perbincangan usai aksi diplomat muda, Nara Masista Rakhmatia beri pernyataan keras kepada 6 pimpinan negara di sidang Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) terkait kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua.

Terlepas dari itu semua, tanah Papua tidak hanya memiliki keindahan dan kekayaan alam. Tanah Papua juga memiliki bakat-bakat hebat di sepakbola. Timnas Indonesia dari tahun ke tahun selalu diisi oleh anak-anak muda hebat Papua yang memiliki skill sepakbola di atas rata-rata.

Nama-nama seperti Boaz Solossa, Imanuel Wanggai, Ian Kabes, dan Titus Bonai jadi contohnya. Jauh ke belakang, tanah Papua bahkan sempat mengirim pemain bernama Daniel Hanasby untuk bermain di negeri Belanda (sejumlah sumber mengonfirmasi hal tersebut, salah satunya sepakbolanda.com).

Jika di Maluku, kita mengenal kampung Tulehu sebagai kampung sepakbola orang Maluku, maka di Papua ada kawasan yang disebut-sebut sebagai pusat sepakbola modern masyarakat Papua. Kawasan itu bernama, kawasan Miei yang terletak di teluk Wondama.

Sejumlah blog pribadi orang Papua mengisahkan bahwa kawasan Miei pada saat Jayapura masih bernama Hollandia merupakan kampung yang paling banyak menyumbang taleta berbakat di bidang sepakbola.

Peran para pastur

Pada era 1910-an, kawasan Papua merupakan salah satu kawasan yang jadi penyebaran agama Kristen. Para zendeling yang kebanyakan berasal dari Belanda dan negara Eropa lainnya datang ke Papua untuk sebarkan agama Kristen.

Pada 1917 seperti dikutip dari tulisan Hanggua Rudi Membri, dibangun sekolah zending di Kwawi, selanjutnya di kawasan Serui pada 1948 kembali dibangun sekolah untuk mencerdaskan anak-anak pribumi Papua.

Sebelum sekolah di Serui dibangun, Izaak Samuel Kijne membangun sekolah untuk guru di kawasan Miei pada 1925. Sekolah guru inilah yang kelak jadi embrio sepakbola modern di tanah Papua.

Sebenarnya sepakbola sudah mulai diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda namun hanya di pusat kota Jayapura (dulu masih bernama Hollandia). Di pelosok, sepakbola masih jadi olahraga baru untuk masyarakat lokal.

Peran dari Izaak yang disebut masyarakat lokal sebagai orang suci membukakan mata banyak anak muda Papua bahwa mereka diberi anugrah kehebatan mengolah si kulit bundar di lapangan hijau.

Kiper pertama dan bergulirnya kompetisi

Sumber-sumber dari tulisan orang Papua terkait sepakbola di tanah kelahirannya menyebut bahwa dari kawasan Miei muncul kiper pertama putra Papua, ia adalah Gustaf Adolf Lanta.

Sayang penelusuran penulis belum menemukan rekam jejak Adolf Lanta sebagai kiper. Tidak diketahui ia bermain untuk klub apa dan di tahun berapa.

Terlepas dari hal tersebut, sepakbola pun jadi olahraga populer bagi anak Papua saat itu pasca didirikannya sekolah guru di kawasan Miei. Kompetisi sepakbola pun mulai bergulir.

Kompetisi yang biasanya hanya berlangsung di Jayapura dan tempat-tempat sekitarnya kala itu berubah. Kompetisi di tingkatan lokal sudah mulai berlangsung.

Kala itu sepakbola memang hanya jadi domain masyarakat Belanda dan Papua yang tinggal di Jayapura dan sekitarnya. Jayapura jadi rumah bagi dua asosiasi sepakbola Papua saat itu, Voetbalbond Hollandia en Omstreken (VHO) yang hanya untuk pemain Belanda dan Eropa lainnya, dan Voetbal Obligasi Hollandia (VBH), dimana masyarakat lokal bisa diperbolehkan berkarier lewat kompetisi yang digagas VBH.

Pada era 50-an, kompetisi sepakbola mulai dijalankan oleh VBH. Sejumlah taletan berbakat dari pelbagai klub di pelesok pun mulai jadi bahan perbicaraan seperti,: Karel Pahalerang dari Club Ajapo I Sentani, Lamberth Rumbiak, dari Club DVG (Dienst van Gezondheidzorg (Dinas Kesehatan Hollandia), Theo Daat dari Club MVV/PMS (Missie Voetbal Vereniging), dan masih banyak lagi.

Mereka-mereka ini yang kemudian jadi pondasi pemain generasi pertama di VBH yang kemudian bermetamorfosa jadi klub terhebat di kawasan Pasifik.

Tour ke Eropa

Talenta-talenta berbakat tanah Papua yang berawal dari munculnya sekolah pendidikan di Miei mulai bersaing di kompetisi lokal, sebagai pengurus sepakbola, VBH pun memiliki sejumlah program jitu untuk terus mengasah skill para pemain.

Seperti dilansir dari bintangpapua.com. salah satu programnya adalah tour ke Eropa untuk melawan latih tanding. Pada 1960, tim-tim yang tergabung di VBH bertanding melawan tim sepakbola Papua New Guinea, laga ini jadi ajang persiapan untuk mereka tanding di Pasifik Games tahun itu berlangsung di Fiji. Hasilnya, VBH sukses cukur lawan dengan skor telak 6-1.

Bahkan untuk terus mengasah skill, VBH sampai mengundang wakil dari komisi teknik Ajax untuk melihat skill putra Papua. Hasilnya?

Beberapa klub sepakbola di Belanda tertarik untuk mengontrak beberapa pemain, yakni Karel Pehelerang dan Theo Daat ke Ajax Asterdam serta Dominggus Waweyai ke PSV Eindhoven, namun karena situasi politik pada saat itu manajemen VBH mendapat kabar bahwa semua rencana gagal karena suhu politik Belanda dan Indonesia semakin panas dan menegangkan.

Meski Karel Pehelerang dan Theo Daat gagal ke Eropa, sebenarnya ada putra asli Papua yang sukses berangkat ke Belanda untuk berkarier sepakbola. Ia bernama Daniel Hanasbey.

Seperti dilansir dari sepakbolanda.com, lewat berbagai tulisan koran lawas di arsip Belanda terlacak nama Daniel Hanasbey. Di Belanda, nama Hanasby atau terkadang ditulis Hanasbei menjadi pemberitaan ketika ia mendarat di Bandara Schiphol, Belanda pada Senin, 07 Desember 1959. Ia terbang dari pelabuhan udara Biak menumpangi pesawat KLM yang berangkat dari Sydney.

Tiba di Belanda, Hanasbey yang juga berprofesi sebagai pekerja administrasi Dinas Pengairan di Papua ini diterima masuk ke skuat HVC Amersfoort, salah satu klub tertua di Belanda dan saat itu HVC tengah bertarung di kompetisi profesional.

“Hanasby menjalani beberapa laga memperkuat HVC Amersfoort, dengan status sebagai pemain kontrak semi profesional.” tulis Eka Tanjung di sepakbolanda.com.

Mengenal Belanda Totok Kelahiran Pekalongan yang ‘Ajari’ van Persie Cetak Gol Indah

Berstatus sebagai pesepakbola, nama Beb Bakhuys ialah satu dari sekian banyak orang Eropa yang lahir di tanah jajahan. Bakhuys lahir di Pekalongan, Jawa Tengah saat Indonesia masih dijajah bangsa kolonial Belanda.

Kala Indonesia masih menjadi daerah jajahan bangsa kolonial Belanda, sejumlah orang yang lahir di negeri dikenal dengan sebutan nama Belanda Totok.

Belanda Totok ialah sebutan untuk anak yang lahir di negeri jajahan seperti Indonesia namun memiliki ayah dan ibu yang asli berdarah Belanda. Sebutan Belanda Totok juga biasa diungkap kepada orang asli Belanda yang baru datang ke Indonesia saat negeri ini masih bernama Hindia Belanda.

Dari sejumlah literatur berbahasa Belanda, terdapat banyak tokoh yang jika ditelusuri latar belakangnya ialah seorang Belanda Totok. Dari kalangan intelektual kita mengenal nama Eduard Douwes Dekker atau yang lebih dikenal dengan nama Multauli.

Tidak hanya dari kalangan intelektual, politikus, ataupun public figure lainnya, garis keturunan Belanda Totok juga terdapat di skuat Timnas Belanda.

Salah satunya yang mungkin jarang didengar ialah pesepakbola era 30-40an, Beb Bakhyus. Nama pemain kelahiran Pekalongan, 16 April 1909 ini terbilang cukup spesial, pasalnya di Negeri Kincir Angin, ia dianggap sebagai salah satu legenda.

Siapa sebenarnya Bakhuys? Apa saja kontribusi yang ia berikan untuk Timnas Belanda? Bagaimana kariernya di level klub?

Dari Pekalongan ke Den Haag

Lahir di Pekalongan di saat Indonesia masih bernama Hindia Belanda, Bakhuys memulai karier profesionalnya di klub bernama HBS Craeyenhout. Klub yang berbasis di Den Haag, Belanda.

Di era Bakhuys memulai karier, HBS merupakan salah satu klub kuat di Belanda. Klub ini tercatat telah memenangkan tiga gelar juara liga Belanda yakni 1903/04, 1905/06, dan 1924/25.

Saat HBS meraih gelar juara terakhirnya, Bakhyus masuk dalam jajaran skuat, ia tercatat melakoni 9 laga dan mencetak 6 gol.

Sejumlah literasi media Belanda era 30-an seperti disadur dari hartvannederland.nl menyebut sebagai seorang penyerang Bakhuys sedari awal memulai debutnya sudah menarik perhatian banyak pihak.

Bakhuys disebut jadi sedikit pemain di era tersebut yang memiliki tendangan keras mematikan dari jarak 30-40 meter, selain itu ia memiliki kemampuan yang bagus dalam hal dribling bola. Bakhuys juga tipikal penyerang tengah yang mampu mencari celah dan mencari ruang kosong di sektor pertahanan lawan.

Naik kapal uap ‘demi’ bela Surabaya

Ada kisah menarik yang dituliskan media Belanda era 1930-an soal hijrahnya Bakhuys dari Belanda kembali menuju Hindia Belanda.

Seperti dilansir javapost.nl, Bakhuys rela naik kapal uap Patria menuju Batavia. Mengapa ia lakukan itu? Padahal setelah membela HBS, Bakhuys sempat membela ZAC (cikal bakal dari klub PEC Zwolle).

Bakhuys memang tercatat hanya sampai umur 7 tahun di Hindia Belanda. Sang ayah, Bakhuys van der Mandele seorang pekerja di pabrik gula di daerah Tegal memilih memboyong anak-anaknya ke Belanda pasca kematian sang istri.

Uang jadi tujuan utama Bakhuys hingga rela kembali ke Hindia Belanda. Tiba di Batavia, ia mendapatkan pekerjaan di Batavia Petroleum Company dan ditempatkan di Surabaya.

Keinginannya untuk terus bermain sepakbola bisa sedikit terobati setelah tiba di Surabaya, ia sempat bergabung dengan klub amatir sepakbola bernama Tot Heil Onzer Ribbenkast (THOR). Seperti dilansir dari
indisch4ever.nu, Thor ialah klub sepakbola yang didirikan orang Belanda dan cukup eksis di era tersebut utamanya di Pulau Jawa.

Beberapa bulan kemudian, seperti dilansir dari javapost.nl, Bakhuys dipercaya masuk tim sepakbola Surabaya melawan Semarang.

Masuknya Bakhuys di skuat Surabaya sukses membuat tim tersebut menang telak 11-1 atas Semarang di laga persahabatan.

“Dia (Bakhuys) mencetak 6 gol saat itu. Ia memiliki kecepatan yang luar bisa. Penonton di sore itu begitu berdecak kagum dengan skill-nya. Lapangan saat itu penuh sesak orang-orang yang ingin menyaksikan pertandingan,” tulis javapost.nl

Pemain kedua Belanda yang berkarier di Eropa

Catatan sejarah yang dilansir dari javapost.nl menyebutkan bahwa perusahaan yang mempekerjakan Bakhuys alami kebangkrutan.

“Dewan kehakiman Surabaya menyatakan kebangkrutan untuk perusahaan itu,”

Hal ini yang kemudian mendorong Bakhuys pulang kembali ke Belanda. Tiba di Belanda pada 1933, pemain bernama lengkap Elisa Hendrik Bakhuys membela klub lamanya, ZAC.

Setelah sempat membela Venlose Voetbal Vereniging (VVV) setengah musim yakni 1937, datang tawaran kontrak dari klub asal Prancis, FC Metz.

Tanpa berpikir panjang, Bakhuys pun mengambil tawaran kontrak tersebut. Ia membela klub Metz sejak 1937 hingga 1946. Bergabungnya Bakhuys ke Metz mencatatkan dirinya sebagai pemain kedua asal Belanda yang berkarier di Eropa.

Karier Bakhuys di Metz terbilang cukup sensasional, namanya tercatat di Golden Book milik klub. Bahkan Metz menyebut bahwa Bakhuys ialah sosok pemain yang sejajar dengan seorang Johan Cruyff.

Seperti dilansir situs resmi klub, fcmetz.com, pada musim 1945/1946, Bakhuys memainkan 1440 menit. Ia mencetak 5 gol dari 16 pertandingan yang dilakoni.

‘Ajari’ van Persie sundulan terbang

Ingat dengan gol fantastis yang dilakukan oleh Robin van Persie ke gawang Spanyol di Piala Dunia 2014 lalu? Eks penyerang Man United itu membuat kagum dunia dengan cara tak biasanya menyundul bola.

Namun rupanya hal itu juga pernah dilakukan senior van Persie di Timnas. Bakhuys disebut-sebut ialah pemain pertama Belanda yang melakukan sundulan terbang jauh sebelum van Persie dilahirkan.

Seperti dilansir hartvannederland.nl, pada 11 Maret 1934, Bakhuys mencetak gol yang mirip dengan gol van Persie saat pertandingan Belanda vs Belgia di Stadion Olympic.

“80 tahun sebelum van Persie cetak gol dengan cara seperti itu, Bakhuys juga melakukan hal serupa. Gol indah ialah satu dari 9 gol yang dicetak Belanda ke gawang Belgia di pertandingan itu,” tulis hartvannederland.nl

Satu-satunya pembeda dari gol tersebut ialah menit terciptanya gol. Jika van Persie mencetak gol ke gawang Spanyol pada menit ke-44, Bakhuys mencetaknya pada menit ke-15.

Karier Bakhuys di Timnas Belanda memang tergolong mengkilap. Ia disebut sebagai salah satu legenda Orange di era tersebut. Selama membela Belanda, ia mencetak 28 gol dari 23 pertandingan.

Nama Bakhuys juga tercatat sebagai skuat Timnas Belanda yang bermain di Piala Dunia pertama 1934 di Uruguay. Sayang di perhelatan ini, Belanda dikalahkan Swiss dengan skor 2-3.

Sepakbola di Tanah Rencong, Bertahan Meski Tak Mendapat Perhatian Lebih

Sebagai provinsi paling barat di Nusantara, Nanggroe Aceh Darussalam miliki segudang potensi baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Di ranah olahraga, khususnya sepakbola, potensi daerah ini tenggalam dan kurang mendapat perhatian dari pihak terkait.

Jangan pernah pandang sebelah mata sepakbola di Negeri Serambi Mekkah, Nanggroe Aceh Darussalam, provinsi paling barat negara ini miliki banyak potensi di lapangan hijau.

Daerah yang miliki sejarah kelam akibat pertarungan politik antara pemerintah pusat dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) jadikan daerah ini tangguh dalam arti harfiah yang sebenarnya. Belum lagi jika membuka lembaran tak mengenakkan di 2004 kala tsunami menerjang Aceh.

Meski darah dan air mata acapkali jatuh di tanah Aceh, kekuataan manusia-manusia di Aceh tak perlu diragukan. Potensi sumber daya manusia di Aceh akan selalu jadi pembeda di negeri ini.

Dalam banyak bidang, Aceh memang memiliki banyak potensi yang tak perlu diragukan. Pun dalam bidang olahraga, khususnya sepakbola. Talenta sepakbola di Aceh selalu ada dan tak pernah padam.

Orang Aceh memang tak pernah main-main untuk memajukan sepakbola mereka. Di 2008 lalu misalnya dengan anggaran pemerintah daerah sebesar Rp45 miliar, sejumlah anak muda Aceh belajar sepakbola di Paraguay.

Gubernur Aceh saat itu, Irwandi Yusuf sangat berambisi untuk membangun kekuatan sepakbola Aceh. Setara dengan Timnas, begitu respon masyarakat dan media Aceh menanggapi ambisi sang Gubernur yang juga mantan Staf Khusus Komando Pusat Tentara GAM.

Orang Aceh memang memiliki karakter yang tak setengah-setengah dalam urusan menyelesaikan urusan. Semaksimal mungkin, orang Aceh akan terus membangun dan membuat sepakbola Tanah Rencong jadi yang terdepan dan terkuat.

Namun pertanyaannya, bagaimana nasib jebolan pemain Aceh usai berlatih di Paraguay?

Padahal fakta sejarah membuktikkan bahwa sepakbola Aceh selalu munculkan talenta berbakat. Mulai dari M Nasir Guru Mud, M. Daan, Irwansyah, Fachry Husaini, Ismed Sofyan, hingga ke generasi baru Aceh, Fitra Ridwan.

Di momentum Ketua Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang kini dipimpin oleh putra asli Aceh, Letjen Edy Rahmayadi, sepakbola Tanah Rencong mendapat angin segar. Harapan agar sepakbola Aceh mendapat perhatian lebih tentu sudah jadi hal lumrah diinginkan masyarakat sepakbola Aceh.

Berikut ulasan mengenai perjalanan sepakbola Aceh dari era VOA hingga sampai di era sepakbola Aceh saat ini yang bertahan meski minim perhatian.

Generasi awal yang ‘hilang’

Literatur mengenai sejarah sepakbola Aceh sangat jarang ditemui, hal sama pun dialami sejumlah daerah di negeri ini. Salah satu literatur sejarah mengenai sepakbola Aceh yang minim publikasi ialah soal sepak terjang generasi awal sepakbola Aceh yang ‘hilang’.

VOA disebut-sebut sebagai klub Aceh yang terkuat di era Nusantara masih jadi bangsa terjajah. Tidak ada yang tahu pasti apa singkatan dari VOA, sejumlah pihak menyebut VOA singkatan dari Voetbal Atjech.

Namun seperti dilansir dari laporan yang ditulis oleh Zulhelmi A Gani, dua saksi sejarah VOA yakni Nurdin Ishak dan AR Djuli juga tak paham soal kepanjangan dari VOA.

Nurdin Ishak ialah putra dari almarhum Keuchik Ishak, penyerang VOA. Sementara AR Djuli yang juga pewarta senior Aceh jadi saksi mata bagaimana pemain VOA berlatih dan bertanding.

Para pemain sangat disiplin berlatih, manajemennya juga tegas, tiga kali berturut-turut seorang pemain tidak latihan langsung dipecat,” ungkap AR Djuli seperti dilansir iskandarnorman.blogspot.co.id.

VOA merupakan klub yang bermarkas di Bireuen, Aceh. Di era 1930-1950, klub ini salah satu klub terkuat di Semenanjung Sumatera.

Nurdin Ishak menuturkan bahwa skuat VOA kala itu diisi oleh sejumlah talenta handal seperti Hamid Bintang, Amin Crah, Alamsyah Lancok, Abdullah Lancok, Mahmdu Guru Mud (Ayah dari eks pemain Persiraja Aceh, Nasir Guru Mud), Pattinasarani (ayah dari Ronny Pattinasarani), hingga mantan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara era  Susilo Bambang Yudhoyono, EE Mangindaan.

Akhir 1950-an, VOA alami keredupan. Salah satu masalahnya ialah soal regenerasi yang tak cakap. Selain soal regenerasi, VOA juga terkikis akibat masalah dana dan minimnya perhatian pemerintah pusat kepada sepakbola Aceh.

Menjadi wajar jika melihat kemunduran VOA di 1950, pasalnya di tahun itu juga Aceh tengah alami gejolak politik akibat status Aceh yang menjadi Keresidenan.Di Bireuen sendiri mulai muncul Persatuan Sepakbola Kota Bireuen (PSKB), Nurdin Ishak masuk dalam klub tersebut.

Bertarung di era kegelapan

Provinsi Aceh di era 70-an alami masa yang tidak mengenakkan. Gerakan Aceh Merdeka (GAM) berdiri 1975, pemerintah pusat di era Soeharto meresponnya dengan aksi militer.

Beberapa tahun setelah GAM berdiri, Soeharto menerapkan Daerah operasi Militer (DOM) di Aceh. Orang Aceh teraniyaya karena DOM. Bencana kemanusiaan yang juga berdampak pada semua sendi kehidupan orang Aceh, tak terkecuali di bidang sepakbola.

Menariknya meski tengah berada di era kegelapan, sepakbola Aceh masih bergigi. Buktinya, salah satu klub Aceh, Persiraja mampu tampil di Stadion Gelora Bung Karno di final Perserikatan.

Di final, Persiraja jungkalkan tim paling timur Indonesia, Persipura. Final yang berlangsung pada 31 Agustus 1980 itu dimenangkan oleh Persiraja dengan skor 3-1. Gol Persiraja dicetak oleh Rustam Syarafi dan Bustamam yang cetak dua gol.

Gelar ini membuat Persiraja jadi deretan klub besar di Indonesia yang sukses raih gelar Perserikatan. Persiraja sejajar dnegan Persis Solo, Persebaya, Persija, Persib, PSM Makssar, dan PSMS Medan.

Bisa dibilang apa yang ditorehkan oleh Persiraja jadi raihan terbaik putra-putra Aceh di kancah sepakbola nasional. Prestasi yang mereka torehkan di kala Aceh tengah jadi bidikan senjata Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Keamanan memang jadi salah satu hal yang cukup riskan di Aceh dan sepakbolanya. Salah satu masyarakat Aceh yang juga penggiat sepabola di Aceh, Deni Asmarrizal, Sekretaris Umum Persatuan Sepakbola Rajawali Balohan (PS Rajawali) menyebut di era tersebut, faktor kemanan jadi sangat riskan.

“Politik di Aceh yang tidak menentu di era tersebut sangat mempengaruhi, utamanya dalam hal faktor kemanan,” kata Deni kepada INDOSPORT. 

Menariknya, sepakbola Aceh pun mendapat campur tangan positif dari TNI. Ialah EE Mangindaan, eks pemain PSSB Bireuen yang banyak berjasa pada sepakbola Aceh. Sejumlah hal positif diberikan mantan Wakil Ketua MPR RI ini untuk sepakbola Aceh.

Bertahan meski tak menentu

Soal talenta, Aceh bisa dibilang hampir sama dengan Papua. Punya segudang talenta, namun minim perhatian dari pihak terkait.

Parahnya lagi, di tingkatan kota dan provinsi, di Aceh seperti yang diturukan Deni justru saling jegal. Di tingkatan Asisten Provinsi (Asprov) dan Asisten Kota (Askot) PSSI tidak memiliki kesatuan yang sama untuk memajukan sepakbola Aceh.

“Kalau di daerah-daerah, banyak yang tidak jalan Askot-nya. Paling cuma ada tarkam. Khusus Askot Sabang, malah tidak ada apa-apa di sini,” kata Deni.

Akibatnya pilihan untuk pemain asli Aceh ialah merantau di daerah lain guna mendapat ruang untuk bisa mengembangkan karier mereka.

Itu jadi pilihan yang paling realistis untuk pemuda Aceh semisal gelandang asli Aceh Fitra Ridwan. Gelandang kelahiran 16 Maret 1994 itu usai membela Persiraja pada 2014 lalu langsung terbang ke Gresik United dan kini tercatat membela Bhayangkara SU.

Pun yang dilakukan senior dari Fitra, Ismed Sofyan. Full back kelahiran Aceh Tamiang itu sudah dari 2000 meninggalkan tanah kelahirannya. Ia bergabung ke Persijatim Jakarta. Setelah itu, ia jadi legenda hidup bagi Persija Jakarta.

Saat Ketua Umum PSSI kini dipegang oleh putra asli Aceh, Letjen Edy Rahmayadi, sejumlah pecinta sepakbola Aceh sangat berharap ada campur tangan PSSI di tingkat pusat untuk bisa mengurus carut marut tersebut.

“Ada kebanggaan tersendiri buat kami, beliau kelahiran Sabang. Kami mendukung penuh. Semoga saja di kepemimpinan beliau, PSSI ada perubahan baik prestasi maupun displinnya,” kata Samanizal Zal kepada INDOSPORT. 

Ditambahkan oleh Samanizal, penggiat sepakbola di Sabang selaras dengan plat form awal Edy Rahmayadi untuk meningkatkan prestasi sepakbola nasional yakni soal pembinaan usai muda. Samanizal mengaku akan terus mengembangkan pemain muda di Sabang.

“Mulai besok kami sudah bekerja di pembinaan usia muda dan akan lahir cikal bakal dari ujung Indonesia untuk Persas dan untuk Timnas,” kata Samanizal.

Geliat Sepakbola di Tapal Batas, Bertahan untuk Prestasi di Himpitan Keterbatasan

Mencari bibit sepakbola nasional tidak melulu hanya dari kota-kota besar, nun jauh di sana di dekat perbatasan negara lain, sejumlah talenta berbakat lapangan hijau berusaha mengejar prestasi meski harus bertahan dari himpitan keterbatasan.

Miliki luas negara 1,904,569 km2, negara ini dianugerahi banyak hal hebat. Mulai dari sumber daya alam (SDA) hingga sumber daya manusia (SDM) dari pelbagai bidang.

Tak terkecuali di bidang olahraga, utamanya sepakbola. Sejumlah pihak yang memiliki fokus peningkatan sepakbola nasional, sadar betul bahwa di pelosok-pelosok negeri ini banyak talenta hebat di lapangan hijau.

Indra Sjafri misalnya, saat menjabat sebagai pelatih Timnas U-19 pada 2013 silam, menjalani blusukan untuk menemukan bakat hebat negeri ini di lapangan hijau. Usahanya berbuah hasil, Timnas U-19 mampu menjuarai Piala AFF U-19, gelar internasional pertama negeri ini sejak 22 tahun terakhir.

Publik pun mulai sadar bahwa bakat sepakbola Indonesia tidak hanya berasal dari kota-kota besar, sejumlah pemain yang dicomot Indra berasal dari kota ‘antah berantah’, sebut saja Yabes Roni Malaifani.

Yabes ialah putra Alor, salah satu dari dua pulau terluar di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pulau Alor adalah satu dari 92 pulau terluar Indonesia karena berbatasan langsung dengan Timor Leste di sebelah selatan.

Faktanya, jauh dari hingar bingar kota besar yang selalu riuh dengan sorotan media, geliat sepakbola di daerah-daerah perbatasan masih mampu lahirkan bakat sepakbola.

Mereka yang ada di perbatasan negara, masih terus menendang bola di lapangan yang sudah tak lagi terlihat rumputnya bercampur dengan bebatuan. Aktifitas yang dilakukan demi sebuah prestasi dan ingin membela panji Merah Putih.

Bertahan di tengah konflik laut China Selatan

PSP Natuna, merupakan salah satu klub sepakbola yang ada di daerah perbatasan tepatnya di daerah Ranai, Kabupaten Natuna.

Daerah yang kini tengah jadi sorotan karena adanya konflik laut China Selatan. Meski tengah dibayang-bayang konflik tersebut, PSP Natuna masih eksis dan berusaha untuk melahirkan bakat sepakbola terbaik.

Pada perhelatan Liga Nusantara 2015 lalu misalnya, PSP Natuna mulai menyeleksi pemain. Setidaknya dalam pemanggilan awal ini ada 30 nama yang hadir berasal dari berbagai klub-klub amatir di Ranai.

Pengurus PSPN yang sudah diakui secara legal formal oleh PSSI menyurati sudah menyurati klub hingga pemain langsung sebagai pemberitahuan.

Laporan dari Tribun Batam menyebut bahwa sejumlah pemain yang diseleksi PSP Natuna berasal dari Bunguran Timur dan Bunguran Timur Laut.

Tim PSPN sendiri punya logo dengan lingkaran elips dengan dasar kuning didalamnya ada gambar siluet Gunung Ranai berwana hijau, logo sebuah bola dan tujuh gelombang air.

Sayangnya informasi teranyar terkait perkembangan terbaru PSP Natuna tidak banyak diketahui saat ini. Dari halaman media sosial klub ini pun tidak ada up date terbaru mengenai geliat klub ini.

Sekolah Sepakbola di Perbatasan Timor Leste

Indonesia bagian timur dikenal memiliki talenta berbakat yang selalu mengisi Timnas Indonesia. Hal ini pula yang mendorong sejumlah orang untuk terus meningkatkan infrastruktur sepakbola di daerah perbatasan negara lain, salah satunya ialah daerah di Nusa Tenggara Timur yang berbatasan dengan Timor Leste.

Sejumlah Sekolah Sepakbola (SSB) pun didirikan oleh sejumlah pihak, seperti dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Pada November 2015 silam, dibangun Sekolah Sepak Bola (SSB) Perbatasan di Atambua, Belu. SSB yang akan dibangun, bekerjasama dengan Ketua Asosiasi Sekolah Sepakbola Indonesia (ASSBI) dan juga sejumlah pemerhati sepakbola nasional, diantaranya, Ketua ASSBI, Amarta Imron, Dwi Pranayuda, dan Zulfikar Utama.

Dilansir dari wartaandalas.com, selain membangun SSB, ada sejumlah kegiatan yang dilaksanakan demi membangun sepakbola di Atambua.

Training of Trainer (TOT) bagi para pelatih sepakbola dan edukasi (coach education) untuk seluruh guru olahraga, kedua penyelenggaraan festival sepakbola usia dini 12 tahun ke bawah untuk mendukung program grassroots FIFA dibarengi dengan identifikasi database kemampuan, penilaian, dan rapor bagi para pesepakbola, ketiga dilakukan homebase bagi pesepakbola untuk memantau bakat dengan menggelar sekolah privat dan les tambahan serta keempat pembentukan komisariat daerah sebagai wadah sekolah sepakbola jangka panjang.

Hal ini tentu jadi angin segar untuk sepakbola Atambua. Pasalnya sejak Timor Leste lepas dari pangkuan Indonesia, Atambua jadi daerah yang berdampak. Salah satu dampaknya ialah matinya sepakbola di daerah ini.

Padahal di daerah ini terdapat Stadion Haliwen. Dulu stadion ini sempat digadang-gadang sebagai stadion terbesar. Saat ini seperti laporan dari rizkizulfitri-kiena.blogspot.co.id, hanya tinggal besi dan beton tua yang menghitung hari untuk roboh.

Jika ditilik secara sejarah, stadion yang hanya berjarak sekitar 15 menit perjalanan dari pusat kota Atambua ini, menjadi saksi bisu kepahitan politik masa lalu. Konon, Stadion Haliwen menjadi tempat pengungsian ribuan warga eks Timor Timur (Timtim), yang memilih pro integrasi, setia menjadi Warga Negara Indonesia pada masa Jajak Pendapat di Timtim tahun 1999 silam.

“Di sini dulu banyak orang buka tenda di lapangan, mereka tetap mau jadi orang Indonesia tapi belum mau tinggal di mana, jadi mereka pilih tinggal di stadion,” tambah kakek yang bekerja sebagai buruh tani tersebut. Konon Pak Frans adalah seorang pro integrasi, memilih hidup di sekitar Stadion Haliwen. Rasa cintanya terhadap negeri ini jangan ditanyakan lagi walaupun hidup dalam garis kemiskinan.

Putra Perbatasan

Nama Yabes Roni Malaifani jadi buah bibir kala Timnas U-19 melawan Filipina di Stadion Gelora Bung Karno pada Oktober 2013 silam. Yabes bukan pemain biasa.

Yabes ialah pemain kelahiran Moro Alor, pada 06 Februari 1995 silam. Daerah kelahiran Yabes merupakan satu dari 92 pulau terluar Indonesia karena berbatasan langsung dengan Timor Leste di sebelah selatan.

Yabes sendiri seperti dilansir dari sidomi.com mengaku kalau bakatnya pertama kali ditemukan oleh sang pelatih, Indra Sjafri pada pertengahan Juni 2013 lalu.

Saat itu Indra sedang berkeliling Indonesia mencari pemain yang akan diplot memperkuat Indonesia di Piala AFF dan AFC Cup U-19.

“Dalam hati saya bilang, ini baru kamu lihat orang Alor pung gila. Saya akan tunjukkan kepada dunia bahwa anak NTT juga bisa main bola,” kata anak dari Anus Malaifani, guru olahraga di Alor.

Yabes mengaku lolos ke Timnas melalui proses yang sangat panjang. Nyaris tak dapat diseleksi di Kupang, Yabes tak masuk di skuat timnas untuk Piala AFF. Yabes mengaku tak putus asa karena memang hanya 20 pemain yang didaftarkan, sementara jumlah mereka sebanyak 31 orang.

“Waktu seleksi untuk AFC di Gelora Bung Karno, pelatih melakukan game. Ada dua tim yang bermain dan saya tidak masuk. Namun kemudian pelatih suruh saya ganti satu pemain. Saat itu saya sudah bertekad harus bisa lolos. Saat saya main, pelatih bilang Yabes, kamu bagus. Dalam hati, saya bilang, saya sudah lolos. Dan, ketika keesokan harinya BTN merilis nama skuad AFC, saya berada di urutan ke-17,” kata Yabes.

Kala Sukarno Berkawan Karib dengan Tokoh Idola Maradona

Kedekatan antara Sukarno, proklamator dan presiden pertama Indonesia dengan tokoh revolusioner Kuba, Che Guevara sudah jadi rahasia umum. Keduanya tidak hanya didekatkan karena kesamaan visi misi namun suka kesukaan pada sepakbola.

Hari ini, 06 Juni 2016 tepat 115 tahun yang lalu, Putra Sang Fajar, Sukarno lahir ke muka bumi. Perjalanan hidup membuat pria berdarah Bali ini jadi pemimpin Indonesia yang dikagumi oleh banyak pihak.

Sukarno memang dikenal memiliki banyak kawan karib dari seluruh dunia. Rata-rata tokoh besar dunia yang menjalani persahabatan dengan Sukarno memiliki kesamaan misi soal perjuangan bagi mereka yang tertindas.

Salah satu dari kawan karib Sukarno ialah tokoh yang menjadi idola legenda hidup Argentina, Diego Maradona yakni tokoh kelahiran Argentina namun lebih dikenal sebagai tokoh revolusioner Kuba, Ernesto Che Guevara.

Pertemanan kedua tokoh yang dibenci Amerika Serikat kala itu terjadi pada 1959. Che Guevara yang saat itu menjabat Menteri Perindustrian Kuba dan Kepala Bank Nasional Kuba berkunjung ke Jakarta dan bertemu dengan Sukarno.

Keduanya pun terlibat dalam obrolan yang sangat hangat tentang banyak hal. Sukarno saat diminta menggambarkan sosok Che Guevara mengatakan,

“Bagi saya, Guevara ialah perubahan sejarah. Ia mampu memporakporandkan pondasi lama yang korup untuk Kuba yang lebih baik,” kata Sukarno saat selesai makam malam dengan Guevara.

Terlepas dari urusan politik, satu hal yang menarik dari kedua tokoh ini ialah kesamaan keduanya untuk urusan sepakbola. Sudah jadi rahasia umum bahwa Guevara suka dengan sepakbola selain baseball, pun dengan Sukarno.

Keduanya pun sama-sama menginspirasi pesepakbola atau atlet modern saat ini untuk jadi manusia yang tak pantang menyerah. Seperti disinggung diawal bahwa Guevara merupakan sosok idola dari Maradona sedangkan Sukarno menjadi idola bagi banyak atlet profesional Indonesia saat ini.

Sepakbola jadi alat perjuangan bagi Sukarno

Sukarno seperti artikel Indosport.com berjudul ‘Kisah Heroik Soekarno, Sepakbola dan Andilnya ‘Jinakkan’ Timnas Malaysia’ menggunakan sepakbola sebagai alat perjuangannya melawan kolonialisme.

Saat masih menempuh pendidikan di ELS pada 1911, Sukarno kecil sangat suka dengan sepakbola dan beberapa kali bermain sepakbola melawan orang-orang Belanda. Saat sudah memerdekan Indonesia dan jadi Presiden, sepakbola jadi fokus perhatian dari Sukarno.

Sepakbola Indonesia dibawa Sukarno ke tempat tinggi diantara negara-negara Asia kala itu. Sejumlah tim kuat Eropa diminta Sukarno adu tanding dengan timnas. Puncaknya di era Sukarno, timnas Indonesia mampu meraih medali perunggu di ajang Asian Games 1958.

Sebagai alat revolusi, Soekarno juga menganggap olahraga sebagai proses pembangunan kembali martabat bangsa. Bung Karno berniat membangun gelanggang olahraga pada 1958. Proyek itu menelan biaya sebesar 12,5 juta Dolar atau Rp117,6 miliar, yang semuanya bantuan Uni Soviet.

Che Guevara jadi Inspirasi Maradona

Diego Armando Maradona merupakan pesepakbola dunia yang berada di garda paling depan untuk urusan kekaguman kepada Che Guevara. Ia berulang kali menyuarakan komentar-komentar yang pernah disampaikan Che kala masih hidup.

Saking kagumnya Maradona pun merajam lengannya dengan foto wajah Che yang fenomenal, foto itu merupakan hasil jepretan fotografer ternama Kuba, Alberto Korda.

Namun sayang, kekaguman Maradona pada Che tidak disertai dengan tindakannya sehari-hari. Maradona lebih banyak munculkan sisi kontroversi, mulai dari penggunaan obat terlarang hingga sikapnya yang playboy. Hal yang tidak pernah dijalani Che kala masih hidup.

Sebenarnya tidak hanya Maradona yang kagum dengan Che Guevara, ada juga nama Sergio Aguero dan sejumlah pesepakbola profesional lainnya.

Penghargaan Sepakbola ke Sukarno dan Che Guevara

Sayangnya meski jadi inspirasi bagi banyak atlet dan pesepakbola profesional saat ini, sepakbola seperti mengacuhkan kedua sosok ini.

Sukarno misalnya usai huru hara 1965, namanya seperti tak memiliki jasa kepada negara ini. Ia seperti sosok yang tak patut dikait-kaitkan dengan sendi kehidupan negara ini, utamanya di bidang sepakbola.

Baru pada 2016 ini kala PSSI masih mendapat sanksi dari Kemenpora ada turnamen sepakbola yang menggunakan nama Sukarno sebagai kejuaraannya. Pada Januari 2016 lalu usai Piala Jenderal Sudirman berakhir muncul bahwa akan ada turnamen Piala Sukarno.

Menariknya turnamen ini kabarnya tidak diikuti oleh banyak klub mapan negeri ini meksi rencanannya turnamen ini akan digelar di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Solo, Semarang, Yogyakarta, Bandung, Medan, Padang dan Jayapura. Rencananya turnamen ini akan digelar pada Maret 2016 lalu namun sampai saat ini, turnamen ini hanya tinggal rencana.

Sedangkan untuk Che Guevara, nasibnya sedikit lebih baik. Sejumlah klub semiprofesinal di daerah Amerika Latin tak sungkan untuk menamakan, mengidentikan klub mereka dengan Che Guevara.

Tercatat ada tiga klub yang memberikan roh Che Guevara salah satunya ialah klub divisi tiga Brasil, Madureira. Klub ini mencantumkan foto Che Guevara di jersey mereka.